Sabtu, 10 Maret 2012

TEORI EKONOMI MAKRO bab11


LEMBAR KERJA MAHASISWA

NAMA

TUGAS KE

NIM

PRODI
PENDIDIKAN IPS TERPADU
MATA KULIAH
TEORI EKONOMI MAKRO
SKS

POKOK BAHASAN

ISI

PENURUNAN KURVA PERMINTAAN AGREGAT
Tingkat Harga yang Lebih Tinggi
            Dalam William A. Mceachern (2000; 201-202), apa pengaruh kenaikan tingkat harga pengeluaran agregat perekonomian dan pada kuantitas GDP Riil yang diminta? Ingat bahwa memegang banyak asset atas dasar dolar, seperti uang tunai dan rekening bank. Kenaikan tingkat harga menurunkan nilai riil dari asset atas dasar dolar tersebut. Konsumen menjadi lebih miskin, sehingga mereka mengurangi kemauan untuk berkonsumsi pada setiap tingkat pendapatan. Atas dasar alasan yang akan dijelaskan pada baba selanjutnya., kenaikan tingkat harga juga cenderung meningkatkan tingkat bunga dasar, dan tingkat bunga yang lebih tinggi akan mengurangi investasi. Akhirnya, kenaikan tingkat harga di Amerika, dan barang Amerika menjadi relative lebih mahal bagi luar negeri. Impor akan naik dan ekspor akan turun, sehingga ekspor neto akan turun. Secara total, kenaikan tingkat harga mengurangi konsumsi, rencana investasi, dan ekspor neto, asehingga belanja agregat berkurang. Penururnan garis pengeluaran agregat ini mengurangi kuantitas GDP riil yang diminta.
Tingkat Harga yang Lebih Rendah
            Dalam William A. Mceachern (200; 202-203), Garis pengeluaran agregat dan kurva permintaan agregat memotret output riil dari perspektif yang berbeda. Garis pengeluaran menunjukkan, pada suatu tingkat harga tertentu, hubungan antara rencana belanja dan tingkat GDP riil dalam perekonomian. Kuantitas GDP riil yang diminta dapat diketahui pada saat rencana belanja sana dengan GDP riil.
            Kurva permintaan agregat menunjukkan kuantitas GDP riil yang diminta pada berbagai tingkat harga.

Pengganda dan Pergeseran Permintaan Agregat
            Dalam Wiliiam A. Mceachern (200; 203), kaitan antara perubahan belanja otonom pada suatu tingkat  harga dan pergeseran kurva permintaan agregat. Misalkan karrena adanya kenaikan optimisme dunia usaha menyebabkan kenaikan rencana investasi sebesar $0, 1 triliun pada setiap tingkat GDP riil. Setiap panel Exhibit 5 menunjukkan cara berbeda untuk menunjukkan pengaruh rencana belanja pada kuantitas GDP ril yang diminta, harga di asumsikan konstan. Panel (a) menampilkan model pendapatan pengeluaran dan panel (b) adalah model oermintaan agregat. Kedua panel tersebut dihubungkan sehingga GDP riil pada masing-masing sumbu horizontalnya saling berkaitan.

MEKANISME TRANSMISI MONETER (MONETARY TRANSMISSION MECHANISM)
Bagaimana Kebijakan Moneter Menggeser Kurva LM dan Mengubh Ekuilibrium Jangka-Pendek
            Dalam N. Gregory Mankie (2005; 278-279), sekarang kita kaji dampak kebijakan moneter. Ingatlah bahwa perubahan jumlah uang beredar mengubah tingkat bunga yang menyeimbangkan pasar uang untuk setiap tingkat pendapatan dan dengan demikian, menggeser kurva LM. Model IS-LM mennunjukkan bagaimana pergeseran dalam kurva LM mempengaruhi pendapatan dan tingkat bunga.
            Perhatikan kenaikan jumlah uang beredar. Kenaikan pada M menyebabkan kenaikan keseimbangan uang riil M/P., karena tingkat harga P adalah tetap dalam jangka pendek. Teori professional likuiditas menunjukkan bahwa untuk setiap tingkat pendapatan, kenaikan keseimbangan uang riil menyebabkan turunnya tingkat bunga. Karena itu, kurva LM bergeser ke bawah.
            Sekali lagi untuk menyampaikan kisah yang menjelaskan penyesuaian perekonomian dari titik A ke titik B, kita mengandalkan kerangka model IS-LM perpotongan Keynesian dan teori preferensi  likuiditas. Saat ini, kita awali dengan pasar uang di mana penetapan kebijakan moneter terjadi. Ketika Bank Sentral AS (Fed) meningkatkan jumlah uang beredar, masyrakt mem[unyai uang yang lebih banyak dari yang mereka ingin pegang pada tingkat bunga yang berlaku (prevailing interest rate). Akibatnya, mereka mendepositokan dibank atau menggunakannya untuk membeli obligasi. Tingkat bunga r kemudian turun sampai masyarakat bersedia memegang seluruh kelebihan uang yang dicetak Fed, hal ini membawa pasar uang ke ekuilibrium baru. Tingkat bunga yang klebih rendah, akan memiliki dampak ke pasar barang. Tingkat bunga yang lebih rendah mendorong investasi yang direncanakan yang meningkatkan pengeluaran yang di rencanakan, produksi, dan pendapatan Y.
            Jadi, model IS-LM menunjukkan bahwa kebijakan moneter mempengaruhi pendapatan dengan mengubah tingakt bunga. Pada bab ini kita menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, ketika harga bersifat kaku, ekspansi jumlah uang beredar meningkatkan pendapatan. Tetapi kita tidak membahas bagaimana ekspansi moneter mendorong pengeluaran yang lebih besar atas barang dan jasa sebuah proses mendorong yang disebut mekanisme transmisi moneter (monetary transmission mechanism). Model IS-LM menunjukkan bahwa kenaikan jumlah uang beredar menurunkan tingkat bunga yang mendorong investasi serta memperbesar permintaan terhadap barang dan jasa.
Interaksi antara Kebijakan Fiskal dan Moneter
            Dalam N. Gregory Mankiw (2005; 279), ketika menganalisis setiap perubahan dalam kebijakan moneter atau fiscal, adalah penting untuk mengingat bahwa para pembuat kebijakan yang mengendalikan saran kebijakan ini menyadari apa yang dilakukan para pembuat kebijakan lainnya. Karena itu, perubahan dalam satu kebijakan dapat mempengaruhi kebijakan lain, dan kesalingtergantungan ini bisa mengubah dampak dari peubahan kebijakan tersebut.
            Sebagai contoh, anggaplah Kongres ingin meningkatkan pajak. Bagimanakah dampak kebijakan ini terhadap perekonomian? Menurut model IS-LM, jawabannya tergantung pada bagaimana Fed menanggapi kenaikan pajak.
DAMPAK PENURUNAN HARGA (EFEK PIGOU (PIGOU EFFECT) DAN TEORI DDEFLASI-UTANG (DEBT-DEFLATION THEORY))
            Dalam N. Gregory Mankiw (2005; 292-294), dari tahun 1929-1933, tingkat harga turun sebesar 25%. Banyak ekonom menyalahkan deflasi ini sebagai penyebab terjadinya Depresi Besar. Mereka berpendapat bahwa deflasi yang terjadi pada tahun 1931 adalah kemerosotan ekonomi tipikal yang akan mengarah pada periode tingginya pengangguran dan merosotnya pendapatan yang pernah terjadi sebelumya. Jika benar, pendapat ini menjadi kehidupan baru pada hipotesis uang. Karena penurunan jumlah uang yang beredar menjadi penyebab merosotnya tingkat harga, penurunan jumlah uang yang beredar juga tampaknya menjadi penyebab parahnya Depresi Besar. Untuk mengevaluasi pendapat ini, kita harus membahas bagaimana perubahan tingkat harga mempengaruhi pendapatan dalam model IS-LM.

Dampak Deflasi yang Menstabilisasi (Efek Pigou)
            Dalam N. Gregory Mankiw (2005; 293), dalam model IS-LM yang kita kembangkan sejauh ini, penurunan harga meningkatkan pendapatan. Untuk setiap jumlah uang beredar M, tingkat harga yang lebih rendah menunjukkan keseimbangan uang riil menyebabkan uang riil M/P yang lebih tinggi. kenaikan keseimbangan uang riil menyebabkan pergeseran ekspansif dalam kurva LM, yang mengarah pada pada pendapatan yang lebih tinggi.
            Saluran lain yang menunjukkan penurunan harga akan meningkatkan pendapatan disebut efek pigou (pigou effect). Arthur Pigou, ekonom klasik terkenal pada tahun1930-an, menunjukkan bahwa keseimbangan uang riil adalah bagian dari kekayaan rumah tangga. Ketika harga turun dan keseimbangan uang riil naik, konsumen seharusnya merasa lebih makmur dan mengelurkan uang lebih banyak. Kenaikan pengeluaran konsumen ini seharusnya menyebabkan oergeseran ekspansif dalam kurva IS, yang juga mengarah pada pendapatan yang lebih tinggi.
            Kedua alasan ini membuat sebagian ekonom pada tahu 1930-an percaya bahwa penurunan harga akan membantu menstabilkan perekonomian. Yaitu, mereka menganggap bahwa penurunan tingkat harga akan secara otomatis mendorong perekonomian kembali menuju kesempatan kerja penuh. Tetapi ekonom lain kurang percaya kalau pearekonomian mampu mengorekasi dirinya sendiri. Mereka menunjukkan dampak lain dari penurunan harga, yang akan kita bahas berikut ini.
Dampak Deflasi yang Mendestabilkan (Efek Deflasi-Utang)
            Dalam N. Gregory Mankiw (2005; 293), para ekonom telah menawarkan dua teori untuk menjelaskan bagaimana penurunan harga dapat mengurangu pendapatan bukan meningkatkannya. Teori pertama, yang disebut teori deflasi-utang (debt-defltion theory), menjelaskan dampak penurunan tingkat harga yang tidak diharapkan. Sementara yang kedua menjelaskan dampak deflasi yang diharapkan.
             Teori deflasi-utang dimulai dengan pengamatan pada bab 4 : perubahan yang tidak di antisipasi dalam tingkat harga meredistribusi kekayaan di antara debitor dan kreditor. Jika seorang debitor meminjam sebesar $1.000, maka jumlah riil utanng ini adalah $1.000/P, dimana P adalah tingkat harga. Penurunan tingkat harga akan meningkatkan jumlah riil utang ini-jumlah daya beli yang harus debitor bayar kembali kepada kreditor. Karena itu, deflasi yang tidak diharapkan memperkaya kreditor dan merugikan debitor.
            Teori deflasi utang kemudian menyatakan bahwa redistribusi kekayaan ini mempengaruhi pengeluaran atas barang dan jasa. Dalam menanggapi redistribusi dari debitor ke kreditor, debitor mengeluarkan uang lebih sedikti dan kreditor lebih banyak. Jika kedua kelompok ini memiliki kecenderungan membelanjakan uang yang sama, maka tidak ada dampak agregat. Tetapi tampaknya beralasan untuk mengasumsikan bahwa debitor mempunyai kecenderungan mengeluarkan dana yang lebih tinggi daripada kreditor-barangkali itulah mengapa debitor berutang. Dalam kasus ini, debitor mengurangi pengeluarannya lebih besar dari jumlah kenaikan pengekuaran kreditor. Dampak netonya adalah pengurangan dalam pengeluaran, pergeseran kontraktif dalam kurva IS, dan penurunan pendapatan nasional.
            Untuk memahami bagaimana perubahan yang diharapkan dalam harga dapat mempengaruhi pendapatan, kita perlu menambah variable baru pada model IS-LM.  Jika I adalah tingkat bunga nominal dan e adalah inflasi yang diharapkan, maka tingkat bunga riil ex ante adalah i – e. Kita bisa menulis model IS-LM sebagai
Y = C(Y – T) + I(I – e) + G              IS
                                                M/P = L(i, Y)                                   LM.
Inflasi yang diharapkan masuk sebagai variable dalam kurva IS. Jadi, perubahan dalam inflasi yang diharapkan akan menggeser kurva IS.

SIMPULAN
1.      Model IS-LM adalah teori umum tentang permintssn agregat terhadap barang dan jasa. Variable-variabel eksogen dalam model itu adalah kebijakan fiscal, kebijakan moneter, dan tingkat harga. Model tersebut menjelaskan dua variable endogen, tingkat bunga dan tingkat pendapatan nasional.
2.      Kurva IS menunjukkan hubungan negative antara tingkat bunga dan tingkat pendapatan yang muncul dari ekuilibrium pasar barang dan jasa. Kurva LM menunjukkan hubungan positif antara tingkat bunga dan tingkat pendapatan yang muncul ekuilibrium pasar keseimbangan uang riil. Ekuilibrium dalam model IS-LM perpotongan kurva IS dan LM, menunjukkan ekuilibrium dalam pasar barang dan jasa dan dalam pasar keseimbangan uamg riil.
3.      Kurva permintaan agregat meringkas hasil dari model IS-LM dengan menunjukkan pendapatan ekuilibrium pada setiap tingkat harga. Kurva permintaan agregat miring ke bawah karena tingkat harga yang lebih rendah meningkatkan keseimbangan uang riil, mengurangi tingkat bunga, mendorong pengeluaran investasi, dan meningkatkan pendapatan ekuilibrium.
4.      Kebijakan moneter ekspansioner menggeser kurva LM ke bawah. Pergeseran dalam kurva LM ini menurunkan tingkat bunga dan meningkatkan pendapatan. Kenaikan pendapatan menunjukkan pergeseran ke kanan dari kurva permintaan agregat. Demikian pula, kebijakan moneter kontraktif menggeser kurva LM ke atas, meningkatkan tingkat bunga, menurunkan pendapatan, dan menggeser kurva permintaan agregat ke kiri.
5.      Kebijakan fiscal ekspansioner-kenaikan belanja pemerintah atau penurunan pajak-menggeser kurva IS ke kanan. Pergeseran dalam kurva IS ini meningkatkan tingkat bunga dan pendapatan. Kenaikan pendapatan menunjukkan pergeseran ke kanan dalam kurva permintaan agregat. Demikian pula, kebijakan fiscal kontraktif menggeser kurva IS ke kiri, menurunkan tingkat bunga dan pedapatan, serta menggeser kurva permintaan agregat ke kiri.
DAFTAR PUSTAKA
William A. Mceachern. 2000. Ekonomi Makro, Pendekatan Kontemporer, Edisi Pertama : Salemba Empat. Jakarta.
Mankiw, Gregory. N. 2005. Makroekonomi, Edisi Kelima : Erlangga. Jakarta.






Mengetahui,                                                                                                   Mahasiswa,
Petugas Perpustakaan          

                                                                       


                                                                                                                                   
NIP.                                                                                                                NIM.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer

himpunan mahasisswa IPS terpadu UNM 2012-2013

himpunan mahasisswa IPS terpadu UNM 2012-2013