Sabtu, 10 Maret 2012

TEORI EKONOMI MAKRO bab13


LEMBAR KERJA MAHASISWA

NAMA

TUGAS KE

NIM

PRODI
PENDIDIKAN IPS TERPADU
MATA KULIAH
TEORI EKONOMI MAKRO
SKS

POKOK BAHASAN

ISI
Inflasi tarikan permintaan (Demand Pull Inflation)
Salah satu guncangan utama terhadap inflasi adalah perubahan pada permintaan agregat. Pengeluaran pemerintah, atau ekspor neto dapat mengubah permintaan agregar dan mendorong output yang lebih besar dari potensialnya.
kita juga melihat bagaimana bank sentral dapat mempengaruhi aktifitas ekonomi. Apapun alasannya, inflasi tarikan permintaan timbul apabila permintaan agregat meningkat lebih cepat dinadingkan dengan potensi produktif perekonomian, menarik harga ke atas untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan agregat. Akibatnya, permintaan dollar, bersain untuk penawaran komoditi yang terbatas, dan meningkatkan hargannya. Pada saat pengangguran menurun dan harga tenaga kerja menjadi langka, upah akan meningkat dan terjadilah akselerasi proses inflasi.
Salah satu teori inflasi tarikan permintaan yang berpengaruh menyatakan bahwa jumlah uang beredar adalh determinan utama inflasi. Alasa di balik pendekatan ini adalah bahwa pertumbuhan beredar meningkatkan permintaan agregat, yang pada gilirannya menaiki  tingkat harga. Dalam contoh ini arah dari sebab akibat adalah nyata. Hal ini di hasilkan dari penawaran uang melalui permintaan agregat ke arah inflasi. Jadi pada saat bank sentral jerman mencetak bermiyar-milyar uang kertas marks pada tahun 1922-1923 dan uang itu memasuki pasar untuk memenuhi kebutuhan akan roti atau perumahan.
Tidak ada keraguan bahwa tingkat harga di jerman meningkat berlipat ganda, yang membuat mata uang menjadi tak bernilai, ini  merupakan inflasi dengan tarikan-permintaan dengan suatu pembalasan. Inflasi tarikan permainan dapat timbul dari sumber lainnya: sebagai contoh, selama perang vietnam, defisit fiskal yang berlebihan meningkatkan permintaan terhadap output di atas potensinya dan mendorong inflasi yang cepat.

                                      Output potensial
         P                                                Qp             AS
 




      P1                                                     E1
tingkat harga                E                  AD1
      P                AD



                                                              Q
                          Output Rill
Gambar 1.1 inflasi tarikan permintaan terjadi apabila permintaan lebih banyak di banding barang yang tersedia.
Pada tingkat output yang tinggi, ketika terjadi kenaikan permintaan agregat, lonjakan pengeluaran akan bersaing untuk memperoleh barang-barang yang terbatas. Karena kurva AS berbentuk curam, maka kebanyakan kenaikan pengeluaran agregat berakhir dengan naiknya harga-harga. Harga-harga naik dari p menjadi p. Jadi, permintaan yang lebih besar yang menyebabkan naiknya harga-harga. Inilah inflasi tarikan permintaan.
Gambar tersebut mengilustrasikan proses dari inflasi tarikan permintaan dan hubungannya dengan penawaran dan permintaan agregat. Berawal dari keseimbangan awal pada titik E, anggaplah bahwa tedapat pengeluaran terlambat yang mendorong kurva AD ke atas ddan ke kanan. Keseimbangan perekonomian bergeser dari E ke E. Pada tingkat permintaan yang lebih ini, harga-harga meningkat dari Pke P .inilah yang di sebut dengan inflasi tarikan permintaan.


Inflasi Dorongan Biaya (Cost-Push Inflation)
Bentuk awal inflasi tarikan permintaan dipahami oleh ekonom-ekonom klasik dan di gunakan oleh mereka untuk menjelaskan pergerakan harga secara historis. Tetapi selam setengah abad terakhir, peroses inflasi berubah, sebagaimana kilas balik dalam sejarah harga.
  Inflasi yang di akibatkan oleh peningkatan biaya selama periode pengangguran tinggi dan penggunaan sumber daya yang kurang aktif di sebut inflasi dorongan-biaya atau guncangan penawaran.
  Inflasi dorongan biaya tidak muncul pada tahap-tahap awal perekonomian pasar. Ia pertama kali muncul selama tahun 1930-an dan pada pola perilaku harga sesuda perang dunia ke-II.    Dalam mencari penjelasan mengenai inflasi dorongan biaya, para ekonom sering kali memulainnya dengan upah, yang merupakan bagian penting dari biaya-biaya usaha. Pada tahun 1982, pada saat tingkat pengangguran hampir mencapai 10 persen, upahmeningkat lima persen. Beberapa ekonom menunjuk serikat pekerja sebagai pihak yang bertanggung jawab, karena mereka memaksa untuk meningkatkan upah dalah bentuk uang sekalipun sebagian besar anggota mereka tidak bekerja.
  Pandangan mengenai serikat pekerja sebagai penyebab inflasi dari dorongan-biaya seperti tidak sesuai dengan kenyataan historis yang komplit. Pada tahun 1982, pada saat pengengguran rata-rata 9,7 persen dari tenaga kerja, biaya-biaya tenaga kerja untuk tenaga kerja dari serikat pekerja meningkat 7,2%, tetapi untuk tenaga kerja dan non serikat pekerjajuga meningkat sebesar 6%. Baik upah anggota upah serikat pekerja maupun anggota non serikat pekerja meningkat meskipun tingkat pengangguran tinggi.
  Sejak tahun 1970-an, guncangamn dorongan biaya sering kali berasal dari perubahan secara tajam harga-harga minyak dan makanan, dan drai pergeseran nilai tukar. Pada tahun 1973, tahun 1978 dan sekali lagi di tahun 1990, negara-negara memperhatikan kondisi ekonomi makronya pada saat kelangkaan yang terjadi di pasar minyak. Harga minyak meningkat tajam, dan biaya-biiaya usaha untuk produksi meningkat. Akibat akhir dari ketiga kasus tersebut memang tidak sama, tetapi untuk setiap periode letusan dari inflasi dorongan-biaya mengikuti peningkatan harga minyak.
  Sebagai latihan pastikan bahwa anda bekerja bagaimana inflasi dorongan-biaya bekerja. Misalkan bahwa terbakarnya ladang kwait meningkatkan peningkatan pada harga-harga minyak dan biaya-biaya produksi yang menggeser kurva penawaran agregat meningkat
Ekspektasi Adaptif dan Inflasi Inersial
Harga-harga upah dan upah di tetapkan dengan melihat kondisi perekonomian yang akan datang. Pada saat harga-harga dan upah meningkat secara cepat dan diperkirakan akan terus demikian, dunia usaha dan para pekerja cenderung akan memasukan laju inflasi yang cepat kedalam keputusan harga dan upah meningkat secara cepat terhadap keputusan-keputusan harga dan upah mereka. Eksopektasi (harapan) inflasi yang tinggi atau rendah cenderung dengan sendirinya akan memenuhi ramalan-ramalan tersebut.
Kita dapat menggunakan sebuah contoh hipotesis untuk mengilustrasikan ekspektasi dalam inflasi inersial. Misalkan bahwa pada tahun 1991, Brass Mill Inc, sebuah perusahaan manufaktur bukan anggota serikat burih, mempertimbangkan keputusan upah dan gaji tahunan untuk tahuin 1992, angka penjualannya berkemang dengan baik, tidak terjadi guncangan dalam penawaran dan permintaan. Pimpinan ekonom Brass Mill melaporkan bahwa harga-harga dan upah saat ini meningkat sekitar 3 sampai 5% per tahun, dan di perkiraka upah nasional meningkat 4% persen pada saat tahu 1992. Brass Mill melakukan survei pada perusahaan—perusahaan setempat dan menemukan sebagian besar perusahaan pengguna pekerja untuk merencanakan meningkatkan kompensasi 3,5% sampai 4,5% selama tahun berikutnya. Tanda-tanda tersebut menunjukan kenaikan upah pada tahun 1992 sekitar 4% melebihi tahun 1991
Dalam mempelajari “pasar kerja internal”, Brass Mill menentukan tingkat perusahaannyasejajar dengan pasar tenaga kerja setempat. Karena menejer tidak menginginkan upah perusahaan lebih rendah dari pada tingkat upah setempat, Brass Mill memutuskan akan berusaha untuk menyesuaikan  dengan kenaikan upah setempat. Oleh karena itu, tingkat upah ditetapkan dengan perkiraan kenaikan dipasar, kenaikan up[ah rata-rata 4% untuk tagun 1992 kenaikan upah.
Proses penetapan upah dan gaji dengan melihat kekondisi ekonomi masa mendatangdapat di perluas keseluruh pekerja. Cara pengambilan keputusan ini di terapakan ke banyak harga produk-seperti biaya pendidikan tinggi, harga model otomotif, dan harga percakapan telfon jarak jauh-yang tidak mudah di ubah setelah di terapkan. Di karenakan panjannya waktu yang di perlukan untuk memodifikasi perkiraan inflasi dan menyesuaikan sebagian tingkat upah dengan harga, inflasi inersial hanya akan menghasilka guncangan atau perubahan besar dalam ekonomi.
Gambar 1.2 mengilustrasikan proses inflasi inersial. Anggaplah bahwa output dalah konstan dan tidak ada guncangan penawaran maupun permintaan. Apabila semua orang memperkirakan upah dan harga akan meningkat 4% per tahunnya, biaya rata-rata akan mrningkat sebesar tingkat tersebut, dan kurva AD juga akan bergeserr ke atas sebesar 4%. Titik potong kurva AD dan AS akan menjadi lebih tinggo 4% setiap tahunnya. Akibatnnya keseimbangan ekonomi makro bergerakdari E’ ke E’’. Harga-harga meningkat4% dari satu tahun ke tahun berikutnya: inflasi inersial di tetapkan 4%. Jadi inflasi inersial terjadi bila kurva AS dan AD bergerak ke atas dengan mantap pada kecepatan yang asama.



                          P                                              Output Potensial
 Tingkat harga                                                             Q          p          AS”
 P”=(1,04)P’=(1,04)2P                                                               E”          AS’
                                             
       P’=1,04 P                           E”’                                                   AS
                                                          E’                           AD”
                                                              E
      P                                                                                          AD’    

  AD


                                                                                                  Q        
                                                             Output Rill

GAMBAR 1.2 menggambarkan suatu gerakan spiral ke atas dari harga dan upah terjadi pada saat penawaran dan permintaan agregat bergeser bersamaan.
Dalam contoh ini, bila produksi meningkat 4% setiap tahun. Jadi, untuk setiap tingkat output, kurva penmawaran AS akan meningkat 4% lebih tinggi tahun depan; 4% lagi di athu berikutnya dan seterusnya. Jika AD bergerak naik dengan kecepatan yang sama, output akan tetap mendekati potensialnya, dan harga jual akan meningkat 4%. Keseimbangan makro bergerak dari E ke E‘, harga-harga bergerak dengan tetap karena inflasi inersial.

RASIO PENGORBANAN
Menurut N.Gregori Mankiw (2006:382) rasio pengorbanan (sacrifice ratio), yaitu persentase GDP riil satu tahun yang harus dikorbankan  untuk menurunkan inflasi sebesar 1% . meskipun estimasi rasio pengorbanan bervariasi secara mencolok., estimasi tipikal kira- kira 5%. Untuk setiap persen penurunan inflasi, 5%  dari GDP satu tahun harus dikorbankan.
Kita juga bisa menunjukkan rasio pengorbanan dalam istilah pengangguran., kita juga bisa menggunakan rasio pengorbanan itu untuk memperkirakan seberapa banyak dan untuk berapa lama pengangguran harus naik guna menurunkan inflasi. Jika menurunkan inflasi sebesar  1 persen membutuhkan pengorbanan sebesar 5 persen GDP setahun, menurunkan inflasi sebesar 4 persen membutuhkan pengorbanan sebesar 20 persen GDP setahun. Demikian pula, penurunana inflasi membutuhkan pengorbanan sebesar 10 persen siklis.

EKSPEKTASI RASIONAL
Menurut N. Gregori mankiw (2006:384) pendekatan alternatif adalah dengan mengasumsikan bahwa orang- orang memiliki ekspektasi rasional ( rational expectation). Dengan kata lain, kita bisa mengasumsikan bahwa orang- orang secara optimal menggunakan seluruh informasi yang ada, temasuk informasi  tentang kebijakan pemerintah sekarang  untuk meramalkan masa depan. Karenakebijakan moneter dan fiskal mempengaruhi inflasi, inflasi yang diharapkan juga harus tergantung pada danpaknya terhadap kebijakan moneter dan fiskal. Menurut teori ekspektasi rasional,  perubahan kebijakan moneter dan fiskal akan mengubah ekspektasi, dan evaluasi atas setipa perubabahan kebijakan harus mengaitkan dampak ini terhadap ekpektasi. Jika orang- orang membentuk  ekspektasi mereka secara rasional, inflasi memiliki inersia yang lebih kecil dari pada ketika pertama kali muncul.

HIIPOTESIS TINGKAT ALAMIAH
Menurut N. Gregori Mankiw (2006: 386)  hipotesis tingakt alamiah membantu para ahli makroekonomi mempelajari secara terpisah, perkembangan jangka pendek dan jangka panjang dalam perekonomian. Hipotesis  tingkat alamiah adalah salah satu ekspresi dari dikotomi klasik.
HISTERESIS
Menurut N. Gregori Mankiw (2006: 386) Histeresis (hysteresis) adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pengaruh yang nyaris tiada habisnya dan sejarah terhadap tingkat alamiah.
Histeresis  tetap merupakan sebuah teori kontroversional. Sebagian ekonom percaya teori itu membantu menjelaskan secara gamblang pengangguran yang tinggi secara terusa menerus di eropa karena kenaikan pengangguran di eropa yang dimulai pada awal tahun 1980-an bersamaan dengan  disinflasi terus terjadi setelah stabil.

MODEL HARGA KAKU
Penjelasan pertama kita untuk kurva penawaran agregat jangka-pendek miring-ke atas disebut model harga-kaku. Model ini menekankan bahwa perusahaan tidak secara instan menyesuaikan harga yang mereka tetapkan dalam merespons perubahan permintaan. Kadang harga ditetapkan oleh  kontrak jangka-panjang antara perusahaan dan konsumen.Untuk melihat bagaimana harga kaku dapat membantu menjelaskan kurva penawaran agregat miring ke-atas, pertama perhatikan keputusan penetapan harga tiap perusahaan dan lalu agregasi keputusan banyak perusahaan untuk menjelaskan perekonomian secara keseluruhan. Kita akan melonggarkan asumsi persaingan sempurna di mana perusahaan adalah penerima harga (price-takers). Sekarang mereka adalah penentu harga (price-setters).
Keputusan penetapan harga perusahaan tipikal.   Harga yang diinginkan perusahaan p bergantung pada dua variabel makroekonomi :
1.      Tingkat harga keseluruhan P. Tingkat harga lebih tinggi berarti biaya perusahaan lebih tinggi. Maka, semakin tinggi tingkat harga keseluruhan, semakin besar harga produk perusahaan.
2.      Tingkat pendapatan agregat Y. Tingkat pendapatan lebih tinggi meningkatkan permintaan terhadap produk perusahaan. Karena biaya marjinal naik pada tingkat produksi lebih tinggi, semakin besar permintaan,  semakin tinggi harga yang diinginkan perusahaan.
Harga yang diinginkan perusahaan adalah :                       
p = P + a(Y-Y)
Persamaan ini menyatakan harga diinginkan p bergantung pada tingkat harga keseluruhan P dan tingkat permintaan agregat relatif terhadap tingkat alaminya Y-Y. Parameter a (lebih besar dari 0) mengukur berapa banyak harga diinginkan perusahaan merespons tingkat output agregat.
Asumsi ada dua tipe perusahaan. Sebagian punya harga kaku : mereka selalu menetapkan harga mereka menurut persamaan ini. Lainnya punya harga kaku : mereka mengumumkan harga berdasarkan kondisi perekonomian yang mereka harapkan. Perusahaan ini menetapkan harga menurut
p = Pe + a(Ye - Ye)
Di mana superscript “e” mewakili nilai variabel yang diharapkan. Untuk kesederhanaan, asumsi perusahaan ini mengharapkan output pada tingkat alaminya, jadi a(Ye - Ye), hilang. Maka perusahaan ini menetapkan harga p = Pe. Yakni, perusahaan dengan harga kaku menetapkan harga mereka berdasarkan apa yang mereka harapkan perusahaan lain tetapkan.Kita gunakan aturan penetapan harga dua kelompok perusahaan untuk menderivasi persamaan penawaran agregat. Untuk itu,kita temukan tingkat harga keseluruhan perekonomian sebagai rata-rata tertimbang dari hargayang ditetapkan dua kelompok. Tingkat harga keseluruhan adalah : 
P = Pe  + [(1-s)a/s](Y-Y)]

Model upah-kaku menunjukkan implikasi dari upah nominal kaku pada penawaran agregat. Sebelum melihat model, perhatikan apa yang terjadi pada jumlah output yang diproduksi ketika tingkat harga naik :
1.      Upah riil lebih rendah mendorong perusahaan pakai tenaga kerja lebih.
2.      Saat upah nominal tidak berubah, kenaikan tingkat harga menurunkan upah riil, membuat tenaga kerja menjadi lebih murah.
3.      Tenaga kerja tambahan yang ada memproduksi lebih banyak output. Hubungan positif antara tingkat harga dan jumlah output ini berarti kurva penawaran agregat miring ke atas ketika upah nominal tidak mampu menyesuaikan terhadap perubahan tingkat harga. Pekerja dan perusahaan menetapkan upah nominal W berdasar upah riil target w dan ekspektasi mereka akan tingkat harga Pe. Upah nominal yang mereka tetapkan :
             
W  =      w     ´     Pe
 
Upah Nominal = Upah Riil Target  ´ Tingkat Harga Diharap
                                     
W/P  =  w  ´  (Pe/P)

Upah Riil=Upah Riil Target´(Tingkat Harga Harapan/Tingkat Harga Aktual)

Persamaan ini menunjukkan upah riil menyimpang dari targetnya jika tingkat harga aktual beda dari tingkat harga diharapkan. Ketika tingkat harga aktual lebih besar dari yang diharapkan, upah riil kurang dari targetnya; ketika tingkat harga aktual lebih kecil dari yang diharapkan,  upah riil lebih besar dari targetnya.
Asumsi akhir model upah-kaku adalah kesempatan kerja  ditentukan jumlah tenaga kerja yang perusahaan minta. Dengan kata lain, tawar-menawar antara pekerja dan perusahaan tidak menentukan tingkat kesempatan kerja selanjutnya; melainkan, pekerja setuju memberi tenaga kerja sebanyak perusahaan inginkan pada upah yang telah ditetapkan.  Keputusan mempekerjakan perusahaan digambarkan oleh fungsi permintaan tenaga kerja :  L = Ld (W/P),
yang menyatakan semakin rendah upah riil, semakin banyak tenaga kerja perusahaan gunakan, dan output ditentukan oleh fungsi produksi Y = F(L).











                                             




DAFTAR PUSTAKA

N. Gregory Mankiw. 2006. Makroekonomi Edisi 6, Erlangga:Jakarta
Samuelson paul A. 1992. Makroekonomi. Erlangga:Jakarta











Mengetahui
Petugas Perpustakaan                                                                       Mahasiswa





                                                                                                            
                                                                                                                                               
NIP.                                                                                                    NIM.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer

himpunan mahasisswa IPS terpadu UNM 2012-2013

himpunan mahasisswa IPS terpadu UNM 2012-2013