Jumat, 12 Oktober 2012

PENGARUH TINGKAT ABORSI YANG TINGGI TERHADAP PERUBAHAN KONDISI SOSIAL MASYARAKAT



PENGARUH TINGKAT ABORSI YANG TINGGI TERHADAP PERUBAHAN KONDISI SOSIAL MASYARAKAT



Aswin Anwar
106 404 033


 Fakultas Ilmu Sosial
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
Tahun Akademik
2010-2011




KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah ”PENGARUH TINGKAT ABORSI YANG TINGGI TERHADAP PERUBAHAN KONDISI SOSIAL MASYARAKAT tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Dosen Mata Kuliah Perilaku perubahan sosial.
Atas segala bantuan, bimbingan dan pengarahan yang telah diberikan kepada penulis selama melakukan Penulisan hingga selesainya penyusunan Makalah ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik membangun dari berbagai pihak untuk kesempurnaan Makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan terutama di bidang Pendidikan IPS.



 Makassar,  Desember  2011
                                                                                              
Penyusun                                                                        










DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR --------------------------------------------------                  ii
DAFTAR ISI -----------------------------------------------------------                  iii
BAB I
PENDAHULUAN ------------------------------------------------------                  1
BAB II
PEMBAHASAN
A.PENGERTIAN ABORSI --------------------------------------------                  4
B.JENIS ABORSI-------------------------------------------------------                  4
C.ANGKA KEMATIAN-----------------------------------------------                  11
D.PERUBAHAN SOSIAL DARI TINGKAT ABORSI YANG TINGGI           12
BAB III
PENUTUP --------------------------------------------------------------                  13

















BAB I
PENDAHULUAN
Di era modern seperti sekarang ini, segala nilai dan norma sudah mulai terkikis secara perlahan menuju nilai-nilai kebebasan yang akhirnya sedikit demi sedikit menjatuhkan moral bangsa. Fenomena free sex, narkoba, tawuran, dll sudah tidak asing lagi dimata masyarakat saat ini. Mengingat hal-hal tersebut sudah sedemikian banyak terjadi di negeri kita, terutama di kalangan remaja. Perilaku remaja sekarang sudah amat mengkhawatirkan. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya kasus-kasus seperti aborsi, kehamilan tidak diinginkan (KTD), dan infeksi menular seksual (IMS) termasuk HIV/ AIDS (Suarta, 2007).
"Menurut survei yang dilakukan oleh Komnas Perlindungan anak di 33 provinsi, dari Januari sampai Juni tahun 2008 lalu, menemukan remaja kita sudah melakukan perbuatan yang melanggar norma kehidupan," kata Wali Kota Cilegon, Tb Iman Ariyadi saat memberikan sambutan dalam acara ajang kreatifitas PIK-Remaja di gedung negara rumah dinas wali kota, Sabtu.
Setiap tahun terdapat sekitar 2,6 juta kasus aborsi di Indonesia, yang berarti setiap jam terjadi 300 tindakan pengguguran janin dengan resiko kematian ibu. “Sedikitnya 700 ribu diantaranya dilakukan oleh remaja atau perempuan berusia di bawah 20 tahun,” kata Deputi Bidang Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Siswanto Agus Wilopo.
Tidak hanya para pengamat atau peneliti yang mampu menafsirkan angka cacat moral remaja saat ini, melainkan masyarakat awam pun mampu membaca sejauh mana kerusakan dan keterpurukan tersebut sehingga hal-hal yang dahulu dianggap sangat tabu dan asing, kini telah menjadi hal yang lumrah bahkan banyak terjadi di masyarakat.
Salah satu kerusakan moral yang paling bisa kita amati adalah perilaku seks bebas. Persepsi ini muncul dengan melihat kondisi pergaulan muda mudi saat ini yang sungguh tidak lagi memiliki batasan nilai dan norma. Di jalan-jalan banyak sekali kita jumpai remaja putra dan putrid saling bergandengan tangan, berpelukan, bahkan tak jarang yang memamerkan adegan ciuman di depan umum. Padahal ketika di tanya mengenai status hubungan diantara keduanya, mereka hanya menjawab masih berpacaran alias tanpa ikatan perkawinan.
Hal-hal yang seperti itu terkadang dianggap biasa oleh beberapa pihak, padahal kalau kita perhatikan fakta di lapangan. Kebiasaan-kebiasaan kecil seperti itu mampu memunculkan kejadian besar yang tak jarang menjadi sebuah aib bagi para pelakunya. Contohnya dengan maraknya kasus Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) yang menimpa remaja kita, serta kasus aborsi yang tengah marak dikalangan remaja putri saat ini. Pada hakikatnya keduanya saling berkaitan, sebab salah satu faktor pemicu terjadinya aborsi adalah karena si remaja putri terlanjur berbadan dua (hamil).
Ketika seorang perempuan mengalami kehamilan tak diinginkan (KTD), diantara jalan keluar yang ditempuh adalah melakukan upaya aborsi, baik yang dilakukan sendiri maupun dengan bantun orang lain. Banyak diantaranya yang memutuskan untuk megakhiri kehamilannya dengan mencari pertolongan yang tidak aman sehingga mereke mengalami komplikasi serius atau kematian karena ditangani oleh orang yang tidak berkompeten atau dengan peralatan yang tidak memenuhi standard (Hanifah, 2007).
Aborsi adalah sebuah tindakan yang tidak manusiawi, sebab secara tidak langsung aborsi telah merenggut nyawa seorang bayi yang masih dalam keadaan suci, bahkan tidak sedikit memakan korban yakni si ibu yang mengandung janin tersebut.
Angka aborsi di Indonesia ditaksir mancapai 390 – 100.00 kasus. Angka ini adalah angka yang tercatat resmi di pemerintah, sedangkan kita belum mengetahui angka aborsi yang dilakukan secara sembunyi-bunyi baik melalui perantara dukun atau orang-orang yang hanya memiliki keterbatasan ilmu dalam dunia kedokteran.
Hasil penelitian Organisasi Kesehatan Internasional (WHO), separo dari jumlah kematian bayi di Indonesia adalah akibat aborsi tak aman. Angka kematian itu menempatkan Indonesia di urutan pertama jumlah kematian ibu dan anak di Asia Tenggara. Setiap tahun, diperkirakan 19.000 perempuan Indonesia meninggal dunia akibat komplikasi saat kehamilan, persalinan, dan setelah melahirkan. Yang mengkhawatirkan, berdasarkan penelitian di 10 kota besar dan enam kabupaten, dari dua juta kasus aborsi, 70% di antaranya dilakukan diam-diam oleh tenaga medis yang tidak memiliki izin.
Staf Asisten Deputi Urusan Masalah Sosial Perempuan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan, Atwirlany Ritonga, menulis di jurnal medis The Lancet edisi Oktober 2006 bahwa setiap tahun terdapat 19 juta-20 juta aborsi di dunia. Aborsi itu dilakukan secara tidak aman dan 97 persen terjadi di negara-negara berkembang.
Angka-angka yang disebutkan diatas sungguh sangat mencengangkan, tingkat aborsi di Indonesia ternyata menempati urutan tertinggi se-Asia Tenggara. Dari keseluruhan kasus aborsi yang terjadi, sekitar 30% pelakunya adalah remaja putri alias wanita usia belia (15-20 tahun) yang belum menikah, bahkan diantara mereka banyak yang masih berstatus sebagai pelajar di SMP dan SMA. Tercatat pula bahwa tingkat kematian tertinggi wanita pada umumnya adalah karena aborsi. Berdasarkan perkiraan BKKBN bahwa sekitar 2 juta kasus aborsi setiap tahunnya terjadi di Indonesia.
Aborsi adalah kegiatan yang sangat menakutkan dan sangat menyakitkan, hal itu terbukti dengan banyaknya korban jiwa dalam kegiatan aborsi ini, bukan hanya janin tapi juga nyawa si ibu bias terenggut dengan mudah. Seandainya mereka tau akan resiko dari aborsi, mungkin mereka akan berpikir berpuluh-puluh kali untuk melakukan tindakan-tindakan yang akhirnya bias bermuara pada aborsi.
Makassar adalah salah satu kota besar yang ada di Indonesia, kemajuan teknologi pun tak luput dari perhatian masyarakat. Segala permasalahan sosial secara kompleks ada di kota Makassar, tidak terkecuali untuk kasus-kasus aborsi. Mengingat kehidupan masyarakat khususnya anak remaja di kota Makassar tidak jauh berbeda dengan kota-kota besar lainnya yang menyimpan angka perilaku aborsi tertinggi.
Bisa kita bayangkan, berapa banyak jiwa telah jadi korban praktek aborsi di Negara kita. Fenomena-fenomena miris itulah yang membuat peneliti tertarik untuk meneliti kasus aborsi yang terjadi saat ini. Melihat tingkat kasus aborsi di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara, yakni mencapai dua juta kasus, dari jumlah kasus di negara-negara ASEAN yang mencapai 4,2 juta kasus per tahun.
 











BAB II
Pembahasan
1.      Pengertian Aborsi
Pengertian menurut Fact About Abortion, Info Kit on Women’s Health oleh Institute for Social, Studies and Action, Maret 1991, dalam istilah kesehatan aborsi didefinisikan sebagai penghentian kehamilan setelah tertanamnya telur (ovum) yang telah dibuahi dalam rahium (uterus), sebelum usia janin (fetus) mencapai 20 minggu.
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, gugur kandungan atau aborsi (bahasa Latin: Abortus) adalah berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin. Apabila janin lahir selamat (hidup) sebelum 38 minggu namun setelah 20 minggu, maka istilahnya adalah kelahiran premature.
Di Indonesia, belum ada batasan resmi mengenai aborsi. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, abortus didefinisikan sebagai terjadi keguguran janin; melakukan abortus sebagai melakukan pengguguran (dengan sengaja karena tak menginginkan bakal bayi yang dikandung itu). Secara umum istilah aborsi diartikkan sebagai pengguguran kandungan, yakni dikeluarkannya janin sebelum waktunya, baik itu secara sengaja maupun tidak. Biasanya dilakukan saat janin masih berusia muda atau sebelum bulan keempat masa kehamilan.
2.      Jenis Aborsi
Dalam ilmu kedokteran, istilah-istlah ini digunakan untuk membedakan aborsi :
1.      Spontanea abortion: gugur kandungan yang disebabkan oleh trauma kecelakaan atau sebab-sebab alami.
2.      Induced abortion atau procured abortion: pengguguran kandungan yang desengaja. Termasuk didalamnya adalah:
·    Therapeutic abortion: pengguguran yang dilakukan karena kehamilan tersebut mengancam kesehatan jasmani atau rohani sang ibu, terkadang dilakukan sesudah pemerkosaan.
·    Eugenic abortion: pengguguran yang dilakuakn terhadap janin yang cacat.
·    Elective abortion: pengguguran yang dilakukan untuk alasa-alasan lain.
Dalam bahasa sehari-hari, istilah “keguguran” biasanya digunakan untuk spontaneous abortion, sementara “aborsi” digunakan untuk induced abortion.
Sedangkan jenis aboruts menurut terjadinya dibagi menjadi dua yaitu :
1.      Abortus spontanea (abortus yang berlangsung tanpa tindakan), yaitu:
·    Abortus imminesns: peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks.
·    Abortus insipiens: peristiwa perdarahan iterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hash konsepsi masih dalam uterus.
·    Abortus inkompletus: pengeluaran sebagian hash konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.
·    Abortus kompletus: semua hasil konsepsi sudah dikeuarkan.
2.      Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat), yaitu: menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup diluar tubuh ibu. Pada umumnya dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandungan apabila kehamilan belum mencapai umur 28 minggu, atau berat badan bayi belum 1000 gram dapat terus hidup. Abortus provokatus dapat dibedakan menjadi:
·      Abortus Provokatus Medisinalis/ Artificialis/ Therapeuticus
Abortus Provokatus Medisinalis terdiri dari:
1.    Dilatation dan Curettage
Jenis ini dilakukan dengan cara memasukkan semacam pacul kecil ke dalam rahim, kemudian janin yang hidup itu dipotong kecil-kecil, dilepaskan dari dinding rahim dan dibuang keluar. Umumnya akan terjadi banyak pendarahan, cara ini dilakukan terhadap kehamilan yang berusia 12-13 minggu.





2.    Suction (Sedot)
Dilakukan dengan cara memperbesar leher rahim, lalu dimasukkan sebuah tabung ke dalam rahim dan dihubungkan dengan alat penyedot yang kuat, sehinggi bayi dalam rahim tercabik-cabik menjadi kepingan-kepingan kecil, lalu disedot masuk ke dalam sebuah sebuah botol.
3.    Peracunan dengan garam
Jenis ini dilakukan pada janin yang berusia lebih dari 16 minggu, ketika sudah cukup banyak cairan yang terkumpul di sekitar bayi dalam kantung anak dan larutan garam yang pekat dimasukkan ke dalam kandungan itu.
4.    Histeromi ataau bedah Caesar
Jenis ini dilakukan untuk janin yang berusia 3 bulan terakhir dengan cara operasi terhadap kandungan.
5.    Prostaglandin
Jenis ini dilakukan dengan cara memakai bahan-bahan kimia yang dikembangkan Upjohn Pharmaccutical Co. Bahan-bahan kimia ini mengakibatkan rahim ibu mengerut, sehingga bayi yang hidup itu mati dan terdorong keluar.
Di Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medik adalah demi menyelamatkan nyawa ibu. Syarat-syaratnya:
a.       Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukannya (yaitu seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan) sesuai dengan tanggung jawab profesi.
b.      Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain, agama, hokum, psikologi).
c.       Harus ada persetujuan tertulis dari penderita atau suaminya atau keluarga terdekat.
d.      Dilakukan disaran kesehatan yang memiliki tenaga/ peralatan yang memadai, yang ditunjuk oleh pemerintah.
e.       Prosedur tidak dirahasiakan.
f.       Dokumen medic harus lengkap




·      Abortus Provokatus Kriminalis
Abortus yang sengaja dilakukan dengan tanpa adanya indikasi medik (ilegal). Biasanya pengguguran dilakukan dengan menggunakan alat-alat atau obat-obat tertentu. Abortus Provokatus Kriminalis seringa terjadi pada kehamilan yang tidak dikehendaki (KTD). Ade beberapa alasan wanita ttidak menginginkan kehamilannya:
a.       Alasan kesehatan, dimana ibu tidak cukup sehat untuk hamil.
b.      Alasan psikososial, dimana ibu sendiri sudah enggan/ tidak mau untuk punya anak lagi.
c.       Kehamilan diluar nikah.
d.      Masalah ekonomi, menambah anak berarti akan menambah beban ekonomi keluarga.
e.       Masalah sosial, misalnya khawatir adanya penyakit turunan, janin cacat.
f.       Kehamilan yang terjadi akibat perkosaan atau akibat incest (hubungan antar keluarga). Selain itu tidak bisa juga bahwa kegagalan kontrasepsi juga termasuk tindakan kehamilan yang tidak diinginkan.
g.      Pelaku Abortus Provokatus Kriminalis biasanya adalah: pertama, wanita bersangkutan. Kedua, dokter atau tenaga medis lain (demi keuntungan atau demi rasa simpati). Ketiga, orang lain yang bukan tenaga medis yang karena suatu alasan tidak menghendaki suatu kehamilan.

a.        Resiko Aborsi
Aborsi memiliki resiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun keselamatan seorang wanita. Tidak benar jika dikatakan bahwa jika seseorang melakukan aborsi ia “tidak merasakan apa-apa dan langsung boleh pulang”. Ini adalah informasi yang sangat menyesatkan bagi setiap wanita, terutama mereka  yang sedang kebingungan karena tidak menginginkan kehamilan yang sudah terjadi.


Ada 2 macam resiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi :
·         Resiko kesehatan dan keselamatan fisik
Pada saat melakukan aborsi  dan setelah melakukan aborsi ada beberapa resiko yang akan dihadapi seorang wanita, seperti yang dijelaskan dalam buku “Facts of Life” yang ditulis oleh Brian Clowes, Phd yaitu:
1.     Kematian mendadak karena pendarahan hebat
2.     Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal 
3.     Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan 
4.     Rahim yang sobek (Uterine Perforation) 
5.     Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya 
6.     Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita) 
7.     Kanker indung telur (Ovarian Cancer) 
8.     Kanker leher rahim (Cervical Cancer) 
9.     Kanker hati (Liver Cancer) 
10. Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya 
11. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy) 
12. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease) 
13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)
·         Resiko kesehatan mental 
Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan dan keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang sangat hebat terhadap keadaan mental seorang wanita.
Gejala ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai “Post-Abortion Syndrome” (Sindrom Paska-Aborsi) atau PAS. Gejala-gejala ini dicatat dalam “Psychological Reactions Reported After Abortion” di dalam penerbitan The Post-Abortion review (1994).
Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami hal-hal seperti berikut ini:
1.     Kehilangan harga diri (82%) 
2.     Berteriak-teriak histeris (51%) 
3.     Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%) 
4.     Ingin melakukan bunuh diri (28%) 
5.     Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang (41%) 
6.     Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%)
Diluar hal-hal tersebut diatas para wanita yang melakukan aborsi akan dipenuhi perasaan bersalah yang tidak hilang selama bertahun-tahun dalam hidupnya.
b.        Aborsi Tidak Aman (Unsafe Abortion)
Yang dimaksud dengan aborsi tidak aman (Unsafe Abortion) adalah penghentian kehamilan yang dilakukan oleh orang yang tidak terlatih/ kompeten dan menggunakan sarana yang tidak memadai, sehingga menimbulkan banyak komplikasi bahkan kematian. Umumnya aborsi yang tidak aman terjadi karena tidak tersedianya pelayanan kesehatan yang memadai. Apalagi bila aborsi dikategorikan tanpa indikasi medis, seperti korban perkosaan, hamil diluar nikah, kegagalan alat kontrasepsi dan lain-lain. Ketakutan dari calon ibu dan pandangan negative dari keluarga atau masyarakat akhirnya menuntut calon ibu untuk melakukan pengguguran kandungan secara diam-diam tanpa memperhatikan resikonya.
Sedangkan menurut batasan WHO menyebutkan bahwa aborsi yang tidak aman adalah penghentian kehamilan yang tidak diinginkan yang dilakukan oleh tenaga yang tidak terlatih, atau tidak mengikuti prosedur kesehatan atau kedua-dunya. Dari 46 juta kasus aborsi/ tahun, 20 juta dilakukan dengan tidak aman, 800 wanita diantaranya menninggal karena komplikasi aborsi tidak aman dan sekurangnya 13 persen kontribusi Angka Kematian Ibu Global.
c.         Kehamilan yang Tidak Dikehendaki (KTD)
Zahrotinisak (2002), menyatakan terjadinya kehamilan yang tidak dikehendaki dapat berakibat buruk terhadap janin ibu, ataupun anak setelah lahir. Banyak wanita (ibu) yang tidak menghendaki kehamilannya, berupaya menggugurkan janinnya dengan meminum obat-obatan tertentu atau melakukan aborsi. Namun ada yang menerimanya dengan pasrah dan menghendaki janinnya lahir walaupun diwarnai dengan rasa kekecewaan. Moralitas dan rasa keibuan  nya yang sering mengusiknya untuk kemudian menerima kehamilan itu. Kehadiran anak dari kehamilan tidak dikehendaki secara emosi (kejiwaan) mempunyai hibungan batin yang kurang dekat dengan ibu atau ayah, hal ini menimbulkan kesenjangan dalam member perhatian, kasih saying, dukungan, bahkan penyediaan fasilitas-fasilitas lahir/ materil seperti pendidikan, kesehatan, pakaian, dan lain-lain. Dibandingkan dengan anaknya dari kehamilan yang memang dikehendaki.
Dari hasil SDKI 1997, delapan dari sepulu kelahiran (83%) memang diinginkan sesuai rencana, sembilan persen diharapkan tetapi pada waktu kemudian (ditunda), dan delapan persen tidak diinginkan sama sekali. Urutan kelahiran, mempunyai hubungan erat dengan perencanaan kehamilan. Hamper semua kelahiran pertama diharapkan (95%) dan satu dari empat kelahiran ke empat dan seterusnya tidak dikehendaki (32,1%).
Zahrotinisak (2002) juga mengatakan, kehamilan tidak dikehendaki dan aborsi, merupakan dua hal yang erat kaitannya (terutama untuk aborsi yang sengaja dilakukan tanpa alasan medis). Dalam sebuah penelitian yang dilakukan tahun 1997 di Jawa Barat, menunjukkan bahwa aborsi (dari kehamilan tidak dikehendaki) mempunyai alasan-alasan:
a.       Karena malu, takut 15%
b.      Sudah memiliki anak, tidak ingin hamil lagi 40%
c.       Belum ingin memiliki anak 5%
d.      Disuruh suami 5%
d.        Kehamilan Remaja
Bagus (1998) kurangnya pengetahuan tentang waktu yang aman untuk melakukan hubungan seksual mengakibatkan terjadi kehamilan remaja, yang sebagian besar tidak dikehendaki. Kehamilan telah menimbulkan posisi remaja dalam situasi yang serba salah dan memberikan tekanan batin (stress) yang disebabkan oleh beberapa faktor.
Melakukan gugur kandung tetap belum dapat diterima karena bertentangan dengan ajaran agama dalam lingkungan dasar Negara Pancasila. Sekalipun pelaksanaan gugur kandung bertentangan moral agama tetap merupakan alternatif yang paling ringan risikonya dan murah biayanya dibandingkan menerima cemoohan masyarakat, keluarga dan temannya bila kehamilan diteruskan sampai pada persalinan. Dalam pelaksanaan gugur kandung sering dilakukan secara tersmbunyi oleh tenaga tidak terlatih atau dukun, sehingga dapat berakibat buruk. Gugur kandung yang ditangani orang yang kurang dapat dipertanggungjawabkan akan terjadi perdarahan, kerusakan alat reproduksi remaja, dan infeksi yang mengakibatkan kematian. Disamping itu kesembuhan yang kurang sempurna dapat mengakibatkan kerusakan alat reprodukasi dan infeksi menahun dan infertilitas. Kerusakan partial saluran telur wanita dapat menimbulkan hamil ektopik makin meningkat yang memerlukan tindakan darurat.
3.      Angka Kematian
a. Definisi Kematian
Kematian atau mortalitas adalah salah satu dari tiga komponen proses demografi yang berpengaruh terhadap struktur penduduk. Tinggi rendahnya tingkat mortalitas pendudukdi suatu daerah tidak hanya mempengaruhi pertumbuhi penduduk, tetapi juga merupakan barometer dari tinggi rendahnya tingkat kesehatan masyarakat di daerah tersebut.
Yang dimaksud dengan mati adalah peristiwa hilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen, yang bias terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup (Budi Utomo, 1985). Dari definisi ini, terlihat bahwa keadaan “mati” hanya bias terjadi kalau sudah terjadi kelahiran hidup. Dengan demikian keadaan mati selalu didahului oleh keadaan hidup,. Dengan kata lain, mati tidak pernah ada kalau tidak ada kehidupan. Sedangkan hidup selalu dimulai dengan lahir hidup (life birth).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kematian sebagai suatu peristiwa menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen, yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup.

b. Angka Kematian Kasar
Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) adalah angka yang menunjukkan berapa besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1000 penduduk. Angka ini disebut kasar sebab belum memperhitungkan umur penduduk. Penduduk tua mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang masih muda.
4.      Perubahan Sosial dari Tingkat Aborsi yang Tinggi
Tingkat aborsi yang tinggi menyebabkan terjadinya perubahan kondisi sosial masyarakat karena dampak dari aborsi itu sendiri mempengaruhi kondisi mental dan psikis dari individu, keluarga, dan lingkungan yang bersangkutan. Kondisi ini juga dapat mempengaruhi tingkat kematian remaja, ibu hamil, dan janin. Bukan hanya itu dampak sosial bagi si pelaku aborsi dapat berupa pengucilan dan rasa strees yang berkepanjangan apabila tindakan tersebut diketahui oleh masyarakat di lingkungannya. Aborsi yang tidak aman juga dapat mengakibatkan terganggunya kesehatan bagi si pelaku aborsi. Dengan adanya aborsi sebagian masyarakat apalagi remaja yang masih labil akan berfikir bahwa tindakan free sex tidak akan menjadi masalah karena ada solusi yang akan menjamin dirinya untuk terhindar dari rasa malu akibat hubungan gelap. Akan tetapi, perlu dikrtahui bahwa tindakan aborsi adalah suatu tindakan yang menyalahi hukum Negara ataupun hukum agama disamping itu juga tindakan aborsi bisa dipastikan tidak aman karena pelayanan kesehatan yang tidak memadai.

















BAB III
Penutup
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, abortus didefinisikan sebagai keguguran janin; melakukan abortus sebagai melakukan pengguguran (dengan sengaja karena tak menginginkan bakal bayi yang dikandung itu). Secara umum istilah aborsi diartikan sebagai pengguguran kandungan, yaitu dikeluarkannya janin sebelum waktunya, baik itu secara sengaja atau tidak. Biasanya dilakukan saat janin masih berusia muda atau sebelum bulan keempat masa kehamilan.
Kematian atau Ajal adalah akhir dari kehidupan, ketiadaan nyawa dalam organisme biologis. Semua makhluk hidup pada akhirnya akan mati secara permanen, baik karena penyebab alami seperti penyakit atau karena penyebab tidak alami sepertikecelakaan. Setelah kematian, tubuh makhluk hidup mengalami pembusukan.
Secara etimologi death berasal dari kata deeth atau deth yang berarti keadaan mati atau kematian. Sedangkan secara defenitif, kematian adalah terhentinya fungsi jantung dan paru-paru secara menetap, atau terhentinya kerja otak secara permanen. Ini dapat dilihat dari tiga sudut pandang tentang defenisi kematian, yakni, kematian jaringan; kematian otak,yakni kerusakan otak yang tidak dapat pulih; dan kematian klinik, yakni kematian orang tersebut.


Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer

himpunan mahasisswa IPS terpadu UNM 2012-2013

himpunan mahasisswa IPS terpadu UNM 2012-2013