Sabtu, 03 November 2012

KEBUDAYAAN KAJANG



Tugas individu

KEBUDAYAAN KAJANG


OLEH

P.IPS TERPADU


FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2012

KATA PENGANTAR
       Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat, rahmat, dan karunia-Nyalah sehingga kami dapat merangkum makalah ini dengan baik. Selanjutnya Salam dan Shalawat juga kami hanturkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW sebagai suri tauladan bagi seluruh manusia yang juga telah membawa kita dari alam yang gelap gulita ke alam yang terang benderang.
       Dalam penyelesaian makalah ini, telah banyak pelajaran yang dapat kita peroleh teutama dalam hal mata kuliah ini sendiri. Mungkin masih banyak kesalahan yang terdapat dalam penyusunan makalah ini, dikarenakan kurangnya ilmu pengetahuan yang dimiliki. Tapi karena adanya teknologi seperti internet yang mendukung kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang diberikan tepat pada waktunya. Makalah ini menjelaskan banyak hal tentang “KEBUDAYAAN KAJANG”.
       Dengan selesainya makalah ini, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Makalah ini masih jauh dari sempurna, baik itu kesalahan dari penulisannya maupun dari penyusunannya, untuk itu kami sangat mengharapkan saran dan kritikan yang konstruktif, dan juga berharap agar makalah ini dapat bermanfaat dan dapat diterima dengan baik. Terima kasih.

                                                                                Makassar,    oktober 2012

Penulis




Pembahasan
A.   Suku Kajang
Suku Kajang atau yang lebih dikenal dengan Adat Ammatoa adalah sebuah suku yangterdapat pada kebudayaan sulawesi selatan Masyarakat Kajang di bisa di jumpai padaKabupaten Bulukumba lebih tepatnya kecamatan kajang. Sebuah Suku Klasik yang masihkental akan adat istiadatnya yang sangat sakral. Suku ini merupakan salah satu suku yangtetap mempertahankan kearifan lokal sampai saat ini.
Suku ini terletak di Sulawesi Selatantepatnya sekitar 200 km arah timur Makassar.Desa suku Kajang yang utama adalah desa Tana Toa. Selebihnya, mereka tersebar didesa Bonto Baji, Malleleng, Pattiroang, Batu Nilamung, dan Tambangan.Suku ini mendiami sebuah kecataman yaitu Kecamatan Kajang, yang merupakanbagian dari kabupaten Bulukumba (daerah yang terkenal dengan pembuat perahu Finisidengan pelaut-pelaut ulung). Dikecamatan Kajang sendiri dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Kajang luar (Lembang) dan Wilayah Kajang adat (Kawasan adat Amma Toa) 
Dalam memegang tampuk kepemimpinan ini Ammatowa memilih lima orang pemukaadat untuk menjalankan roda pemerintahan. Kelima pemimpin tersebut diangkat olehAmmatowa dengan suatu perjanjian, di saat alam tidak bersahabat seperti matinya tanamandan hewan atau bencana alam, kelima pemuka adat harus rela melepas jabatannya.Suku ini berprinsip bahwa, daerah Kajang adalah daerah “kamase-masea .
Bahkan,salah satu contoh program pemerintah adalahmemberikan akses penerangan (listrik) di daerah ini, di tolak oleh komunitas adat, sehinggasampai saat ini, daerah adat Kajang Ammatoa masih menggunakan penerangan lamputembok yang dulunya terbuat dari buah jarak, tetapi sekarang sudah memakai minyak tanah. Jadi jangan mencari ada alat elektronik di daerah ini. Memasuki kawasan Adat,penduduk tidak boleh memakai alas kaki, termasuk tamu yang datang dari luar.
Masih berlakunya hukum peninggalan leluhur ini membuat Kawasan Adat Ammatowatidak pernah berubah sejak pertama kali didirikan.Jalan tanah sepanjang 5 kilometer menuju desa masih tetap bertahan tanpa perubahan yang berarti.Bahkan rumah-rumahadat yang terbuat dari kayu masih berdiri tegak dengan arah membelakangi hutan adat. Ruang tambahan yang terletak dibelakang rumah juga masih ada sebagai simbol memilikianak gadis.Asrinya suasana di kawasan adat initercipta karena pemimpin adat atau Ammatowa yang dibantu lima pemukaadat, secara keras menjalankanperaturan adat. Bahkan kerasnya Ammatowa dalam menjalankanperaturan ini dapat dilihat dari rumahmilik orang yang dianggap suci tersebut.
Rumah pemimpin adat merupakan rumah terjelek. Dindingnya hanyaterbuat dari bambu. Sedangkan lima pemuka adat lainnya memiliki rumah lebih baik dariAmmatowa. Namun dalam melaksanakan kepemimpinannya, lima pemimpin adat inidikenakan kontrak sosial. Mereka dapat dihentikan dari jabatannya jika berbuat kesalahan yang dapat dilihat dari gejala alam.Di bawah kepemimpinan Ammatowa dan kelima pemuka adat, kebiasaan-kebiasaanleluhur tetap dijalankan.
Justru dengan kebiasaan ini swasembada segala faktor kehidupan dapat terus berjalan.Dalam kehidupan Masyarakat Kajang, kaum wanita diwajibkan bisa membuat kaindan memasak.Sedangkan kaum pria diwajibkan untuk bekerja di ladang dan membuatperlengkapan rumah dari kayu. Keahlian membuat perlengkapan dari kayu ini jugamerupakan kewajiban bagi kaum pria untuk berumah tangga.Luasnya sawah milik warga Suku Kajang yang terletak jauh dari tempat tinggalmerupakan suatu anugrah tersendiri.
Dengan luasnya sawah yang menghasilkan berton-ton padi setiap tahun, warga Suku Kajang selalu terhindar dari bahaya kelaparan. Anugrahini sangat disyukuri oleh segenap warga.Sumber dari segala kegiatan atau pola hidup atau hukum adat bersumber dari “pappasang”(semacam undang-undang yang dihafalkan dengan lisan secara turuntemurun). Hukum “Pappasang” merupakan semacam hukum tidak tertulis yang tidak bolehdilanggar. Siapa yang melanggar akan kena “pangellai”,teguran atau hukuman.
Perlu di ketahui, Kajang di bagi dua secara geografis,yaitu;
1.    kajang dalam (suku kajang, mereka di sebut“tau Kajang”)
2.    kajang luar (orang-orang yang berdiam disekitar suku kajang yang relatif lebih modern, mereka di sebut “tau Lembang” ).
Bukan hanya listrik yang dilarang masuk di suku Kajang, tetapi segala sesuatu yangdianggap melanggar “pappasang, Kajang, tana kamase - masea”.
Contoh lainnya adalah pembangunan jalan raya, kendaraan, sekolah, bahkan cara berpakain sekalipun. Memasukikompleks adat, anda akan dilarang untuk memakai pakaian yang mencolak, yangmencerminkan kemewahan, yang akan di kenakan sanksi adat ataupun tidak dibiarkanmasuk ke kompleks adat.Melihat keadaan alam suku Kajang, masih sangat asli. Di dalam kompleks adat adasebuah hutan, dimana masyarakat di larang mengambil kayunya, walau itu hanya untuk kayu bakar sekalipun, yaitu hutan “Karanjang”. 
B.   Upacara Adat
Setiap usai panen mereka selalu menggelar upacara adat yang bertujuan sebagai ucapan terima kasih kepada Sang Pencipta. Upacara adat yang disebut Rumatang ini dipimpin langsung oleh Ammatowa.Di sawah milik Ammatowa ini persiapan upacara Rumatang mulai dilakukan sejak pagi hari. Saat itu kaum wanita telah datang dan mulai memasak makanan di bawah gubuk milik Ammatowa. Berbagai jenis makanan khas Suku Kajang mulai dipersiapkan untuk keperluan upacara adat dan makan siang bersama.
Persiapan di tepi sawah ini dipimpin oleh seorang wanita tua yang telah mengetahui jenis makanan yang harusdipersiapkan untuk sesaji. Dibawah petunjuknya, kaum wanita mulai memasak berbagai jenis makanan, termasuk nasi dengan empat warna.Di saat kaum wanita sibuk mempersiapkan sesaji, kaum pria juga mulai mengikat padi hasil panen mereka menjadi ikatan-ikatan besar. Usai diikat, padi hasil panen ini dijemur di bawah terik matahari.Tengah hari, merupakan pertanda upacara harus dilangsungkan. Sebelum memulai upacara puncak, warga Suku Kajang berkumpul dibawah bilik untuk makan siang bersama.
Uniknya makan siang di tepi sawah ini mempunyai syarat tertentu. Nasi yang dipersiapkan harus dari beras hitam. Karena jenis beras inilah yang pertama kali dapat ditanam oleh leluhur mereka. Upacara makan siang dilanjutkan dengan meminumsejenis minuman keras khas Sulawesi Selatan yang disebut "ballo".
Semua kaum pria wajib meminum ballo dari gelas yang sama sebagai simbol persaudaraan.Usai makan siang, kaum pria ditugaskan untuk membawa padi yang telah diikat menuju ke desamereka. Padi mereka bawa dengan menggunakan sebilah kayu. Mereka berjalan menyusuri pematang sawah dengan menempuh jarak sekitar 10 kilometer. Namun beban berat dan berjalan jauh tidak mereka rasakan karena rasa senangakan hasil panen yang berlimpah 
C.   Rumah Adat
Suku Kajang dalam lebih teguh memegang adat dan tradisi moyang mereka dibanding penduduk kajang luar yang tinggal di luar perkampungan. Rumah-rumah panggung yang semuanya menghadap ke barat tertatarapi, khususnya yang berada di Dusun Benteng tempat rumah Amma Toa berada. Tampak beberapa rumah yang berjejer dari utara ke selatan, dengan kata lain setiap rumah dibangun menghadap ke arah barat. Membangun rumah melawan arah terbitnya matahari dipercayai mampu memberikan berkah. Di depan barisan rumah terdapat pagar batu kali setinggi satu meter.
Rumah Amma Toa berada beberapa rumah dari utara.Rumah Adat Suku Kajang bila kita melihat secara fisik tidak jauh beda dengan rumah adat masayarakat bugis makassar struktur yang tinggi dan masih mempergunakan kekayaan hutan disekitar untuk membuatnya
Bentuk rumah adat suku kajang sangat unik. Bangunan rumah khas Sulawesi Selatan secara umum adalah rumah panggung. Tapi suku Kajang mempunyai keunikan bentuk rumah panggung tersendiri yakni, dapurnya terletak di depan, menghadap jalan utama. Jadi, kalau anda memasuki salah satu rumah “tau Kajang” ,yang pertama nampak adalah dapur. Ini melambangkan kesederhaan, dan mau menunjukkan apaadanya.Mereka senantiasa menyembunyikan rumah di balik lebatnya hutan, mempunyai kekuatan mistik hingga orang luar yang datang ke sana tanpa izin mereka dan tanpa mereka kehendaki kedatangannya, hanya akan melihat hutan belaka.
D.   Pakaian Adat
Hitam merupakan sebuah warna adat yang kental akan kesakralan dan bila kita memasuki kawasan ammatoa pakaian kita harus berwarna hitam. Warna hitam mempunyai makna bagi Mayarakat Ammatoa sebagai bentuk persamaan dalam segala hal, termasuk kesamaan dalam kesederhanaan. tidak ada warna hitam yang lebih baik antara yang satu dengan yang lainnya. Semua hitam adalah sama. Warna hitam menunjukkan kekuatan, kesamaan derajat bagi setiap orang di depan sang pencipta.
Kesamaan dalam bentuk wujud lahir, menyikapi keadaan lingkungan, utamanya kelestarian hutan yang harus di jaga keasliannnya sebagai sumber kehidupan.Untuk memasuki kawasan adat Ammatowa, tempat Suku Kajang tinggal, seluruh warga harus melewati pos penjagaan. Di pos ini ketentuan adat mulai berlaku. Semua orang termasuk tamu, harus mengenakan pakaian adat atau pakaian serba hitam yang merupakan simbol kesakralan. Jangansekali-kali memakai pakaian warna merah.karena itu merupakan suatu penghinaan .
Pakaian mereka adalah pakaian yang ditenun sendiri, yang konon harganya sangat mahal, bahkan sampai jutaan rupiah.Pos ini juga merupakan simbol mulai berlakunya hukum adat Masyarakat Kajang. Hukum adat ini berpedoman pada kitab wasiat Masyarakat Kajang yang masih dipegang teguh. Sehingga segala macam bentuk peradaban diluar kawasan tidak akan pernah mereka terima. Menurut kepala desa, salah satu kebiasaan yang harus dijalankan adalah kewajibanseorang wanita membuat pakaian untuk anggota keluarganya.
Membuat pakaian merupakan syarat bagi seorang wanita untuk dapat melangsungkan  pernikahan. Sehingga dalam kehidupannya wanita tanpa keahlian membuat pakaian, tidak dapat menikah. Pembuatan pakaian ini dilakukan secara tradisional, mulai dari pembuatanbenang, proses pewarnaan hingga menenunnya menjadi selembar kain.



E.   Tarian Daerah
Tarian Komunitas Kajang, adapun tarian yang dibawakan adalah “Pabatte Passapu”atau “Sabung ayam” Tatian tersebut mengalir begitu saja, tanpa latihan apalagi gladiresik Pabbatte Passapu menceritakan sabung ayam yang diperagakan dengan passapu (destar atau ikat kepala). Dua orang penari pria berpakaian serba hitam bergerak-gerak seperti seekor ayam jago.Tangan keduanya mengibas-ngibaskan destar hitam. Sebentar-sebentar, mereka beradu destar,menggambarkan dua jago sedang bertarung.
F.    Alat Musik Daerah
Mereka tampil begitu alami dan sangat bersahaja. Begitu pula musik yangmengiringi, hanya menggunakan sebuah gendang kecil dan kunru-kunru. Yang terakhir ini alat musik tiup khas Kajang, terbuat dari batang padi atau bambu kecil.Biasanya, alat musik itu dimainkan penggembala kerbau. Yang sangat memikat,sepanjang pertunjukan Pabbatte passapu sekitar 20 menit, kunru-kunru terus melengking tiada henti.
G.   Bahasa Daerah
Dalam bahasa bugis Konjo yang kental merupakan bahasa suku yang selama ini sebagai media komunikasi antar sesama masyarakat suku kajang.
H.   Agama
Agama mereka adalah Islam, dan akan marah jika dikatakan bukan orang Islam.Tapi jika dilihat lebih dalam, orang-orang Kajang masih menganut animisme, dinamisme ataupun totemisme. Sumbernya adalah “patuntung ”, sehingga ada yang mengatakan bahwa agama orang Kajang adalah agama “Patuntung”. Agama patuntung adalahsemacam upacara adat, dan sangat kelihatan pada acara-acara kematian. 






DAFTAR PUSTAKA

http://gowata.blogspot.com/2009/04/suku-kajang-di-kab-bulukumba.html 
http://www.indosiar.com/ragam/kajang--potret-suku-terasing_39110.html 
http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/06/ammatoa-suku-kajang.
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=11951486.
http://www.psychologymania.com/2011/08/suku-kajang-menjaga-tradisi-dan.html
http://sosbud.kompasiana.com/2011/05/16/mengenal-suku-kajang.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer

himpunan mahasisswa IPS terpadu UNM 2012-2013

himpunan mahasisswa IPS terpadu UNM 2012-2013