Sabtu, 03 November 2012

SERANGAN 1 MARET 1949 DAN BANDUNG LAUTAN API



Tugas                                   : Individu
Mata Kuliah          : Sejarah Indonesia Sampai Masa Kemerdekaan
Dosen                                    : Bahri, S. Pd

SERANGAN 1 MARET 1949 DAN BANDUNG LAUTAN API
OLEH

P.IPS TERPADU

FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2012

A.   Latar belakang Terjadinya Serangan Umum 1 Maret 1949
            Keadaan Yogyakarta setelah Agresi Militer BelandaSituasi Politik
Setelah Belanda berhasil melancarkan Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948, dan menduduki tempat-tempat penting sehingga Belanda mulai menjalankan roda pemerintahan pendudukan dalam rangka memulihkan keamanan dan ketertiban di kota Yogyakarta. Maka dari itu pemerintahan RI telah mempersiapkan baik pemerintahan militer dan pemerintahan sipil, pemerintahan RI mulai menyiapkan pemerintahan diantaranya:
1.    Pemerintahan Sipil
            Pemerintahan sipil mula-mula berpusat di Kepatihan Yogyakarta yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dalam melaksanakan pemerintahan sipil sesudah agresi militer Belanda II berpedoman pada instruksi bagi para pamong praja antara lain :
a.    Sri Paduka Sultan, Sri Paduka Pakoe Alam, dan staf Jawatan Praja Daerah tetap di kota Yogyakarta.
b.    Apabila tempat diduduki Belanda, maka Pamong Praja supaya berusaha jangan sampai jatuh di tangan Belanda.
c.    Pamong Praja termasuk pamong desa harus tetap berada di dalam wilayahnya masing-masing memimpin dan melindungi rakyatnya (jangan sampai meninggalkan rakyat).
d.    Perhubungan dengan pimpinan daerah Sultan dan Sri Pakoe Alam harus sebanyaknya diadakan dan diatur secara ilegal.
e.    Jawatan Praja memberikan kodenya dan kabupaten begitu juga
f.     Kurir (penghubung) tidak boleh membawa surat, semua laporan dan instruksi disampaikan oleh kurir dari Jawatan Praja dan Kabupaten mondeling dengan menyampaikan kode buat legitimasi.
g.    Jawatan Praja adalah penghubung Kepala daerah dan Kabupaten, Kapaneewon, dan tenttara polisi semua itu dengan jalan illegal
            Adapun faktor- faktor yang mendorong kesulitan dalam masalah politik yang timbul bagi rakyat, dikarenakan keadaan keamanan yang belum stabil, masih banyaknya pengungsi dari kota ke desa. Namun satu hal yang mengganggu masalah ekonomi yang berkaitan erat dengan soal politik yaitu mengenai alat pembayaran dewasa, hal ini disebabkan terrdapat dua alat pembayaran yaitu ORI dan sesudah Belanda masuk ke Yogyakarta beredar pula uang merah Belanda ataau dikenal dengan uang federal.
Situasi Politik seperti yang diungkapkan di atas menyebabkan terjadinya Serangan Umum, dikarenakan adanya keamanan yang belum mendukung di wilayah kota Yogyakarta dan pasukan Belanda yang terus menduduki wilayah Yogyakarta satu per satu, maka dari itu pemerintah RI membentuk pemerintahan sipil dan militer untuk mengatasi keamanan wilayah Yogyakarta.(Analisa)
2. Pemerintahan Militer
            Dalam melaksanakan pemerintahan militer sebagai usaha mewujudkan pertahanan rakyat semesta yang bersumber pada unsur kekuatan bersenjata, dukungan rakyat jauh sebelum agresi militer Belanda II bulan Desember 1948. Segala persiapan tampaknya bernada mundur dan menghindarkan diri memang demikian halnya, kesemuanya sesuai dengan garis yang telah ditetapkan oleh pimpinan TNI. Cara-cara itu yang dipakai TNI untuk melancarkan perang kemerdekaan II yang telah digariskan dalam Instruksi Panglima Besar pada tanggal 9 November 1948 yang terkenal dengan nama perintah panglima besar no 1 atau perintah siasat no 1. perintah siasat Panglima Besar Sudirman, isi perintah siasat adalah :
*      Tidak akan melakukan pertahanan liniair
*      Tugas memperlambat kemajuan serbuan-serbuan musuh, serta pengungsian total(semua pegawai) serta bumi hangus
*      Tugas pembentuk kantong-kantong ditiap onder distrik militer yang Mempunyai pemerintahan gerilya (wehrkreise) yang totaliter dan mempunyai pusat dibeberapa komplek pegunungan.
*      Tugas pasukan yang berasal daerah federal untuk ber wingate(menyusup§ kembali kedaerah) dan membentuk kantong-kantong sehingga seluruh jawa akan menjadi satu perang gerilya yang besar.
            Langkah untuk mereliasasikan strategi dan taktik pemerintahan militer ditempuh dengan melalui peraturan pemerintahan maupun keputusan menteri pertahanan contoh: Keputusan Menteri Pertahanan Nomor A/852/48 tanggal 28 Oktober 1948 tentang pembentukan Markas Komando Jawa dibawah pimpinan Kolonel A.H. Nasution dan Sumatra dibawah pimpinan Kolonel Hidayat.
            Sehingga Pelaksanaan Pemerintahan Militer di Daerah Istimewa Yogyakarta berpedoman pada Peraturan Pemerintah No 33 tahun 1948, tentang Pemerintahan Militer di daerah Jawa yang menyatakan bahwa badan dan jawatan yang penting dimiliterisasi dan berlaku hukum militer baginya. Pelaksanaan pemerintahan militer di daerah Yogyakarta yang bersumber pada peraturan pemerintah sejalan dengan instruksi Panglima Tentara dan Teritorium Jawa(PTTD) Nomor 1/MBKD/1948 tanggal 25 Desember 1948 tentang struktur pemerintahan militer seluruh Jawa. Susunan Pemerintahan Militer sesuai intruksi antara lain
a.    Panglima Besar Angkatan Bersenjata
b.    Panglima Tentara dan Teritorium Jawa
c.    Gubernur Militer
d.    Komando Militer Daerah
e.    Komando Distrik Militer
f.     Komando Onder- Distrik Militer
g.    Kader Desa
h.    Kader Dukuh
            Pemerintahan militer yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dilaksanakan sesudah agresi militer Belanda II, yang bertujuan untuk mengusahakan adanya Pemerintahan yang tegas dan mampu.mengadakan, gerakan atau operasi militer dalam menghadapi Belanda. Dalam keadaan biasa mereka sebagai jembatan untuk menghubungkan militer dengan sipil, dalam pemerintahan militer mereka sebagai alat pemerintahan bersama-sama Pamong Praja yang mengendalikan pemerintahan militer di bawah instasi militer.
            Pemerintahan militer hanya sampai kapanewon, dan yang menjabat kepala Pemerintahan Militer adalah seorang militer (KODM). Meskipun ada perbedaan dalam susunan struktur pemerintahan militer di daerah Yogyakarta, yang disesuaikan dengan keadaan wilayah dan aspek politik pemerintahan daerah Yogyakarta. Namun pada hakekatnya pemerintahan militer tetap sama sesuai instruksi PTTD. Dalam menyusun pemerintahan militer khususnya pada tingkat staf meliputi beberapa aspek:
a.    Umum yang menyangkut organisasi seperti: kehakiman, kepolisian, dan perhubungan.
b.    Perekonomian meliputi cadangan pangan, keuangan, dan pengarahan dana serta koperasi
c.    Kemasyarakatan mencakup masalah penerangan rakyat, pendidikan, kesehatan serta kesejahteraan pengungsi
d.    Pertahanan meliputi: bidang militer, kader militer di desa, perang semesta dan komunikasi.
            Setelah dibentuknya MBKD di seluruh Pulau Jawa oleh Kolonel A.H. Nasution, Sri Sultan melakukan kontak dengan Panglima Besar jendral Sudirman kemudian Jendral Sudirman menyuruh Sri Sultan untuk menghubungi Letkol Suharto untuk mengadakan serangan balasan, dengan dikeluarkan perintah kilat yang dibuat oleh Panglima Besar Jendral Sudirman, dimulailah pelaksanaan perang gerilya terhadap pasukan Belanda di Yogyakarta,
            Sesudah perintah kilat dikeluarkan maka dimulailah serangan balasan terhadap Belanda di Yogyakarta yang kemudian disebut dengan Serangan Umum 1 Maret 1949, dan secara tidak langsung masyarakat Yogyakarta memberikan perlawanan terhadap pendudukan Belanda di Yogyakarta yaitu dengan mengadakan Serangan Umum yang dilakukan pada tanggal 1 Maret 1949 di Yogyakarta.
B.   Perkembangan Terjadinya Serangan Umum 1 Maret 1945
1.    Rencana Persiapan
            isinya yaitu mengenai kondisi wilayah Yogyakarta yang mendukung Rencana Serangan Umum 1 Maret 1949 dan juga adanya resolusi dari Dewan Keamanan PBB sehingga rencana persiapan Serangan Umum bisa dilaksanakan.
2.    Persiapan Operasiisinya
            yaitu mengenai persiapan untuk melakukan Serangan baik di letak untuk mengepung pasukan Belanda maupun tempat untuk membahas serangan balik ke pasukan Belanda. Dalam hal ini membutuhkan persiapan yang matang untuk melakukan serangan balasan terhadap pasukan Belanda di Yogyakarta. Persiapan operasi yang dilakukan sesuai dengan rencana operasi, sebelum Serangan Umum dilakukan, terlebih dahulu pasukan RI meningkatkan serangan terhadap pasukan Belanda yang berada diluar Yogyakarta untuk menekankan pasukan Belanda agar tidak memberikan bantuan ke dalam Yogyakarta.
            Serangan tersebut dimaksudkan untuk mengelabui pasukan Belanda atas Serangan Umum yang akan dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949, supaya Serangan Umum dapat berjalan lancar tanpa ada hambatan dan sesuai rencana, usaha ini sangat diharapkan WK III dapat menjamin kerahasian dan memperoleh pendadakan, kecuali meningkatkan serangan. Dalam persiapan operasi dilakukan pula pemeriksaan pasukan untuk mengetahui dengan pasti akan kesiapan pasukan WK III. Tanggal 13 Febuari 1949 komandan WK III Letkol Soeharto meninggalkan markas komando Segoroyoso bergerak ke arah barat melalui Gandok, Ganjuran, Kretek, Panjatan sampai di Sentolo. Dari sini Letkol Soeharto memimpin serangan terhadap kedudukan Belanda di Bantar dari arah barat.
            Pasukan yang dikerahkan adalah pasukan SWK 103 A, SWK 106, Yon 151 dan kompi Soedarsono Bismo yang dibantu oleh 1 peleton Al yang dilengkapi dengan 12,7 mitraliur watermantel dan senjata berat lainnya. Setelah persiapan selesai dilakukan maka diadakan pertemuan antara Sri Sultan dengan Letkol Soeharto di tempat kediaman Keluarga B.P.H Prabuningrat(Prabuningratan Kraton Yogyakarta) yang digunakan untuk membahas tentang Serangan Umum 1 Maret 1949.
3.    Pelaksanaan Operasi
            isinya mengenai hari pelaksanaan, sebelum pelaksanaan adanya dua Insiden, serta empat tempat untuk mengepung pasukan Belanda di wilayah Yogyakarta.
            Sebelum diadakan pertemuan tersebut maka dikeluarkannya perintah kilat oleh Panglima besar Jenderal Sudirman, dan kemudian diadakan pertemuan maka segera dimulai pelaksanaan Serangan Umum 1 Maret 1949 di wilayah Yogyakarta :
Insiden Komaroedin
            Dalam insiden ini rencana pelaksanaan mengalami kebocoran yang semestinya dilaksanakan tanggal 28 Febuari 1949 diubah tanggalnya menjadi tanggal 1 Maret 1949. sehingga terjadi insiden komaroedin dikarenakan Letnan Komaroedin salah perkiraan tentang serangan balasan terhadap Belanda di Yogyakarta. Yang kemudian Letnan Komaroedin melakukan serangan terhadap Belanda yang bertepatan dengan bunyi sirene tanda jam malam
            Belanda berakhir kemudian peleton Komaroedin menyerang pos pertahanan Belanda di sekitar Kantor Pos Besar di sebelah Utara Yogyakarta, kemudian bertahan di sekolah Keputran. Serangan yang dilakukan Komaroedin sangat mengejutkan dan mendesak pasukan Belanda yang bertahan di pos dan mengirim berita untuk meminta bantuan, tidak lama pasukan lapis baja Belanda datang yang langsung menghamburkan peluru ke arah pasukan gerilya, dan memaksa pasukan Komaroedien untuk bertahan dan menyebar serta berlindung. Kemudian Letnan Soegijono menyarankan agar Letnan Komaroedin segera menarik pasukannya keluar kota sebelum Belanda bertindak lebih jauh dan dapat mempengaruhi keseluruhan rencana Serangan Umum.

Insiden Giwangan
            Di daerah Yogyakarta bagian timur telah terjadi kesalahpahaman, saat serangan yang dilancarkan pukul 06.00 pada tanggal 1 Maret 1949, dilaksanakan pada pukul 06.00 sore pada tanggal 28 Febuari 1949. Dengan begitu satuan yang membuat kekeliruan pada jam empat sore tanggal 28 Febuari 1949 telah mengambil posisi di desa Giwangan. Tanpa menyadari kekeliruan, mereka memutuskan jaringan telepon yang menghubungkan kota Yogyakarta dan Kotagede, sehingga gerakan mereka diketahui Belanda dengan segera mengerahkan konvoi tank dengan brencarier.
             Maka terjadi kontak senjata sehingga Belanda membuat pasukan RI kalangan kabut, dalam Insiden ini seorang prajurit Belanda tewas dan pihak TNI 2 orang gugur yaitu Soekro dan Soedarsono. Sehingga kedua Insiden tidak mempengaruhi rencana secara keseluruhan.
C.   Akibat Dari Serangan Umum 1 Maret 1949
Akibat Politik, Militer, dan Psikologis       
            Upaya dalam mencapai tujuan politik secara luas atas keberhasilan Serangan Umum 1 Maret 1949, harus disebarluaskan ke seluruh pelosok daerah RI dan ke luar negeri, sebelum dilaksanakan Serangan Umum 1 Maret 1949 Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang menyiapkan berita skenario jalannya operasi. Bersamaan itu pelaksanaan serangan umum disebarluaskan ke Luar negeri sehingga menarik perhatian Dunia, yang disiarrkan lewat Radio Auri di Playen,Wonosari, Gunung kidul.

            Dalam penyampaian berita ini ke luar negeri amat penting artinya dalam usaha untuk mencapai tujuan politik, berita tentang dilaksanakan Serangan Umum akan membuka mata dunia bahwa pemerintah RI masih berdiri danTNI masih utuh. Sedang rakyat Indonesia berjuang untuk memperoleh pengakuan kedaulatannya sehingga berita tersebut mematahkan manuver diplomatik Belanda dengan berita kebohongannya.   
            Sebagai akibat dari propaganda dan kebohongan Belanda, sebagian negara lain beranggapan bahwa negara RI dan TNI sudah tidak ada, dengan berakhirnya SU 1 Maret 1949 Yogyakarta berhasil memberi dukungan pada perjuangan diplomasi perwakilan RI di PBB seperti yang dijelaskan dalam uraian:
a. Pengaruh terhadap dunia Internasional
b. Pengaruh terhadap Pemerintahan Republik Indonesia
c. Pengaruh Terhadap Bel Keamanan.
            Sebelum terjadi Serangan Umum, keadaan kota Yogyakarta semakin buruk dikarenakan keamanan yang tidak stabil dan bertambahnya jumlah pengungsi dari luar Yogyakarta dan kekurangan bahan pangan serta yang paling mengganggu dalam bidang ekonomi adalah alat pembayaran yang terbagi yaitu mata uang Belanda dan ORI.

            Kemudian daerah Yogyakarta membentuk pemerintahan sipil dan militer, pemerintahan sipil ini digunakan sebagai penghubung antara kepala daerah setempat dengan wakil kepala daerah yang dilaksanakan oleh Jawatan Praja. Sedangkan pemerintahan militer digunakan untuk mengadakan operasi militer dalam menghadapi Belanda sehingga pihak Indonesia melakukan strategi perang gerilya dalam menghadapi Belanda dengan mendirikan pos-pos operasi gerilya dan wilayah penyerangan dalam kota.

            Pemerintahan militer ini dibawah pimpinan Kolonel Abdul Harris Nasution dengan membentuk MBKD(Markas Besar Komando Daerah) khusus daerah Jawa, dan ide ini(Serangan) dari Sri Sultan sendiri dikarenakan dia melihat.nasib masyarakat Yogyakarta dan semua daerah yang ingin bebas dan merdeka dari pendudukan Belanda di Yogyakarta. Dan dengan dikeluarkan Perintah kilat dari Panglima Besar Jendral Sudirman maka dimulailah Serangan balasan terhadap pendudukan Belanda di Yogyakarta yang kemudian dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret 1949, dan dari dikeluarkan perintah kilat inilah Serangan Umum 1 Maret 1949 terjadi di daerah Yogyakarta.

            Dalam perkembangan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta membawa berkah bagi masyarakat Yogyakarta karena kota Yogyakarta dapat berfungsi kembali sebagai Ibukota RI dan berhasil mengusir atau memukul mundur Pasukan Belanda dari wilayah Yogyakarta, sehingga membawa dampak bagi perekonomian negara RI dimana perekonomian bisa kembali berfungsi sedia kala secara bertahap.

D.   Bandung lautan api
Peristiwa Bandung Lautan Api adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung, provinsi Jawa Barat, Indonesia pada 24 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung[1] membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.
Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada tanggal 12 Oktober 1945. Sejak semula hubungan mereka dengan pemerintah RI sudah tegang. Mereka menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TKR dan polisi, diserahkan kepada mereka. Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mulai mengganggu keamanan.
Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari. Malam tanggal 24 November 1945, TKR dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebagai markas. Tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata.
Ultimatum Tentara Sekutu agar Tentara Republik Indonesia (TRI, TNI kala itu) meninggalkan kota Bandung mendorong TRI untuk melakukan operasi "bumihangus". Para pejuang pihak Republik Indonesia tidak rela bila Kota Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, pada tanggal 24 Maret 1946[2]. Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku Komandan Divisi III TRI mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan evakuasi Kota Bandung.[rujukan?] Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota Bandung dan malam itu pembakaran kota berlangsung.
Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat setempat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer. Di mana-mana asap hitam mengepul membubung tinggi di udara dan semua listrik mati. Tentara Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu. Dalam pertempuran ini Muhammad Toha dan Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) terjun dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut.
Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang tersebut dengan dinamit. Gudang besar itu meledak dan terbakar bersama kedua milisi tersebut di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan mereka, maka pada pukul 21.00 itu juga ikut dalam rombongan yang mengevakuasi dari Bandung. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api masih membubung membakar kota, sehingga Bandung pun menjadi lautan api.
Pembumihangusan Bandung tersebut dianggap merupakan strategi yang tepat dalam Perang Kemerdekaan Indonesia karena kekuatan TRI dan milisi rakyat tidak sebanding dengan kekuatan pihak Sekutu dan NICA yang berjumlah besar. Setelah peristiwa tersebut, TRI bersama milisi rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini mengilhami lagu Halo, Halo Bandung yang nama penciptanya masih menjadi bahan perdebatan.
Beberapa tahun kemudian, lagu "Halo, Halo Bandung" secara resmi ditulis, menjadi kenangan akan emosi yang para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia alami saat itu, menunggu untuk kembali ke kota tercinta mereka yang telah menjadi lautan api.
Terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api diawali dari datangnya Sekutu pada bulan Oktober 1945. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh ultimatum Sekutu untuk mengosongkan kota Bandung. Pada tanggal 21 November 1945, Sekutu mengeluarkan ultimatum pertama isinya kota Bandung bagian Utara selambat-lambatnya tanggal 29 November 1945 dikosongkan oleh para pejuang. Ultimatum tersebut tidak ditanggapi oleh para pejuang.
Selanjutnya tanggal 23 Maret 1946 Sekutu mengeluarkan ultimatum kembali. Isinya hampir sama dengan ultimatum yang pertama. Menghadapi ultimatum tersebut para pejuang kebingungan karena mendapat dua perintah yang berbeda. Pemerintah RI di Jakarta memerintahkan agar TRI mengosongkan kota Bandung. Sementara markas TRI di Yogyakarta menginstruksikan agar Bandung tidak dikosongkan. Akhirnya para pejuang mematuhi perintah dari Jakarta.
Pada tanggal 23-24 Maret 1946 para pejuang meninggalkan Bandung. Namun, sebelumnya mereka menyerang Sekutu dan membumihanguskan kota Bandung. Tujuannya agar Sekutu tidak dapat menduduki dan memanfaatkan sarana-sarana yang vital. Peristiwa ini dikenal dengan Bandung Lautan Api. Sementara itu para pejuang dan rakyat Bandung mengungsi ke luar kota.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer

himpunan mahasisswa IPS terpadu UNM 2012-2013

himpunan mahasisswa IPS terpadu UNM 2012-2013