Sabtu, 03 November 2012

SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA



SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA

Istilah sumberdaya manusia path akhir-akhir ml selalu menjadi perhatian nasional dan internasional. Keberadaan sumber daya manusia selalu dikaitkan dengan keberhasilan pembangunan. Apabila kita membicarakan sumber daya manusia, tentu akan terkait erat dengan penduduk. Setiap penduduk merupakan sumber daya manusia. Akan tetapi, tidak setiap penduduk merupakan modal pembangunan. Penduduk dapat dikatakan sebagai modal pembangunan apabila memiliki kualitas yang sesuai dengan tuntutan pembangunan bangsa.
A.   Pengertian Sumber Daya Manusia Indonesia
Sumber daya manusia dapat diartikan sebagai penduduk di suatu wilayah atau negara dengan semua potensi yang dimilikinya, balk kuantitas maupun kualitasnya. Kuantitas penduduk meliputi jumlah, tingkat pertumbuhan, kepadatan, dan persebaran. Kualitas penduduk meliputi tingkat kesehatan, angka harapan hidup, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan.
Kualitas sumber daya manusia Indonesia dapat berkembang dengan baik jika ditunjang dengan pembangunan sumber  daya manusia. Apakah mengetahui maksud pembangunan sumber daya manusia Indonesia? Pembangunan sumber daya manusia ditekankan pada terciptanya kualitas masyarakat Indonesia yang maju dan mandiri dalam suasana tenteram dan sejahtera lahir batin serta dalam suasana kehidupan bangsa yang damai.
Penduduk Indonesia dapat didefinisikan sebagai semua orang yang bertempat tinggal di Indonesia dan telah menetap sekurang-kurangnya 6 bulan pada saat diadakan pendataan penduduk. Penduduk Indonesia terdiri atas warga negara Indonesia ash (pribumi) dan keturunan asing (non pribumi) yang telah disahkan oleh undang-undang sebagai warga negara.
B.   Jumlah dan Pertumbuhan Sumber Daya Manusia Indonesia
1.    Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk
Para ahli demografi memperkirakan jumlah penduduk dunia pada tahun 6000 sebelum masehi mencapai ± 5 juta jiwa. Beberapa ribu tahun kemudian, sekitar abad ke-17, penduduk dunia mencapai 500 juta jiwa. Tahun 1850, jumlah penduduk diperkirakan mencapai 1 miliar jiwa. Tahun 1930, jumlahnya berkembang hingga mencapai 2 miliar jiwa. Data penduduk dunia di atas bukan jumlah yang pasti, melainkan jumlah perkiraan. Hal ini disebabkan pada zaman dulu belum memungkinkan untuk menghitung penduduk dunia saw per satu.
Setelah kebudayaan manusia semakin maju, sarana komunikasi dan kemajuan teknologi yang tinggi telah memberikan kemungkinan bagi manusia untuk menghitung jumlah penduduk dunia secara menyeluruh. Cara perhitungan penduduk secara menyeluruh dilakukan dengan sensus penduduk (cacah jiwa). Sensus penduduk adalah pencatatan, perhitungan, dan publikasi data demografi di suatu tempat pada periode tertentu. Sensus penduduk mencakup pencatatan atau perhitungan jumlah penduduk, jenis kelamin, usia, agama, mata pencaharian, dan lain-lain.
Sensus dilakukan dengan dua cara, yaitu sensus dejure dan sensus defacto. Sensus dejure adalah pencatatan penduduk yang ditujukan kepada orang-orang yang tercatat sebagai penduduk saat sensus dilaksanakan. sedangkan sensus de facto adalah pencatatan penduduk yang ditujukan kepada setiap orang yang berada dalam suatu daerah ketika sensus itu sedang dilaksanakan.
Sampai saat ini, Indonesia telah melaksanakan enam kali sensus penduduk, yaitu:
a.    sensus penduduk pertama tahun 1930,
b.    sensus penduduk kedua tahun 1961
c.    sensus penduduk ketiga tahun 1971,
d.    sensus penduduk keempat tahun 1980,
e.    sensus penduduk kelima tahun 1990, dan
f.     sensus penduduk keenam tahun 2000.
Sensus penduduk (cacah jiwa) memiliki beberapa tujuan utama, antara lain mengetahui jumlah penduduk antar wilayah, perkembangan penduduk dalam kurun waktu tertentu (5 sampai 10 tahun), serta mengetahui persebaran penduduk antar wilayah dan kualitas penduduk. Berdasarkan tujuan-tujuan
tersebut, maka pemerintah dapat menentukan arah pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Selain dengan cara sensus penduduk, jumlah penduduk dapat pula diketahui dengan cara survei, yaitu dengan memilih daerah yang akan di sensus sebagai contoh yang mewakili keseluruhan penduduk.
Registrasi adalah pencatatan penduduk, seperti pencatatan perkawinan, pembuatan KTP, kelahiran, dan kematian. Jadi, perbedaan antara sensus penduduk, survei, dan registrasi penduduk terletak pada cakupan wilayahnya. Survei penduduk dilakukan pada wilayah yang elatifsemph dan dilaksanakan berdasarkan tujuan-tujuan tertentu.
Supas (survei penduduk antar sensus) adalah pencatatan data kependudukan dan sebagian penduduk yang meliputi wilayah yang sempit dan dilakukan antara dua sensus. Di negara Indonesia, supas biasanya dilakukan 5 tahun setelah pelaksanaan sensus terakhir.
Tabel3.1 menyajikan data pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia menurut basil sensus selama tahun 196 1- 2000.


Pulau
1961
1971
1980
1990
2000
Penduduk
%
Penduduk
%
Penduduk
%
Penduduk
%
Penduduk
%
Jawa dan
Madura
Sumatra
Kalimantan
Sulawesi
Pulau
Pulau lain

63,0
15,7
4,1
7.1

7,1

65,0
16,2
4,2
7,3

7,3

76,1
20.8
5,2
8,5

8,5

63,8
17,5
4,4
7.1

7,2

91.3
28,0
5,7
10,4

11,8

61,9
19,0
4,5
7,1

7,5

107,57
36.45
9.10
12,52

13,66

60,05
21,30
5,06
7,74

5,85

120,42
42,67
10,95
14.45

203.46

59,18
20,97
5,38
7,11

7,36
Indonesia
97,0
100
119,2
100
147,2
100
179,30
100
203,46
100

Berdasarkan Tabel 3.1, jumlab penduduk Indonesia cenderung bertambah pesat. Jika data pada tabel diungkapkan dalam bentuk grafik akan diperoleh suatu grafik kenaikan yang cukup tinggi. Perhatikan grafik jumlah penduduk menurut hash sensus dan tahun 1961 sampai tahun 2000 untuk Pulau Jawa dan Madura pada Gambar 3.1.





Pertumbuhan jumlah penduduk suatu negara umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang secara langsung mempengaruhi jumlah penduduk di suatu daerah adalah sebagai berikut :
a.    Fertiliras (kelahiran),
b.    mortalitas (kematian), dan
c.    migrasi (perpindahan).
Selain ketiga faktor utama tersebut, faktor-faktor lain yang secara tidak Langsung dapat mempengaruhi jumlah penduduk adalah sebagai berikut.
a.    Jaminan keamanan yang terus meningkat sehingga menimbulkan ketentraman dalam kehidupan penduduk.
b.    Sumber daya alam yang mencukupi kebutuhan hidup penduduk.
c.    Peningkatan pelayanan kesehatan, sehingga dapat menurunkan angka kematian bayi.
d.    Perkawinan dalam usia muda biasanya akan memberi peluang memiliki anak yang banyak, sebab hanya penduduk yang berstatus kawin yang mempunyai kesempatan tinggi untuk melahirkan. Masa usia produktif bagi pasangan usia kawin menurut PBB adalah 15 - 45 tahun. Jadi, apabila seorang wanita kawin pada usia 15 tahun, berarti masa reproduksinya adalah 45 -. 15 = 30 tahun. Oleh karena itu, salah satu kebijaksanaan penduduk yang bersifat tidak langsung di negara Indonesia ialah menunda perkawinan pada pasangan usia muda.


2.    Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk adalah banyaknya penduduk tiap satuan luas tertentu. Persebaran penduduk di Indonesia sangat timpang karena sebagian besar penduduk berada di Pulau Jawa dan Madura. Oleh karena itu, Pulau Jawa memiliki tingkat kepadatan paling tinggi jika dibandingkan dengan beberapa daerah lain di Indonesia.
Ketimpangan persebaran penduduk menjadi salah saw ciri permasalahan penduduk Indonesia. Apabila kondisi persebaran penduduk yang timpang ini tidak segera diarasi, akan menimbulkan kerawanan bagi kehidupan bangsa. Salah satu upaya untuk mengatasi ketimpangan persebaran penduduk ialah pemerataan pembangunan di berbagai daerah.
Pemerataan pembangunan akan membentuk pusat pertumbuhan daerah dengan segala macam kegiatan penduduk. Adanya pusat pertumbuhan daerah merupakan salah satu daya tank bagi penduduk untuk datang dan menetap di wilayah yang bersangkutan.
Berdasarkan Tabel 3.2, kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Pulau Jawa. Hal ini disebabkan sebagian besar penduduk Indonesia terpusat di Pulau Jawa. Irian Jaya (Papua) yang lebih luas wilayahnya daripada Pulau Jawa, penduduknya masih sedikit.
Faktor-faktor yang menyebabkan terkonsentrasinya penduduk Indonesia di Pulau Jawa, ialah sebagai berikut.
a.    Berdasarkan historisnya, sejak dahulu Pulau Jawa merupakan salah satu tempat pusat peradaban penduduk Indonesia. Hal mi ditandai dengan pernah berdirinya kerajaan besar seperti Majapahit dan Mataram.
b.    Path zaman penjajahan Belanda ataupun Jepang, Pulau Jawa dijadikan pusat pemerintahan kolonial di Indonesia.
c.    Dari segi geografis, keadaan ranah vulkanik yang subur sangat sesuai dengan pola kehidupan sebagian penduduk Indonesia yang bekerja pada sektor pertanian. Selain itu, angin muson barat menyebabkan curah hujan tinggi di sebagian besar Pulau Jawa, sehingga tata air tanah dan air permukaan di Pulau Jawa cukup baik.
d.    Pulau Jawa merupakan pusat perdagangan dan berbagai fasilitas yang tersedia menjadi daya tank bagi penduduk untuk tinggal di Pulau Jawa.







Tabel
Kepadatan Penduduk Kasar di Indonesia Tahun 1980 -1998
No
Propinsi / pulau
Luas (km2)
Kepadatan penduduk per km2
1980
1988
1990
1995
1997
1998

Daerah Istimewa Aceh
Sumatra Utara
Sumatra Barat
Riau
Jambi
Sumatra Selatan
Bengkulu
Lampung
Sumatra
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
Dl Yogyakarta
Jawa Timur
Jawa
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Sulawesi
Maluku
Irian Jaya
55.392
70.787
49.778
94.562
44.924
103.688
2 1.168
33.307
473.606
590
46.300
34.206
3.169
47.922
132.187
5.56!
20.177
47.876
88.488
146.760
152.600
37.660
202.440
539.460
19.023
69.726
72.781
38. 140
199.670
74 .505
421.98 1
47
118
68
23
32
45
36
139
59
11.023
593
724
868
609.
2.767
444
135
57
96
17
6
55
6
12
88
14
63
29
51
19
3
54
133
133
27
39
52
45
177
69
13.365
666
788
925
652
755
476
148
64
106
19
7
60
7
14
96
IS
73
39
60
22
3
4
62
145
145
35
45
61
56
180
77
13.930
764
834
919
678
184
499
167
68
115
22
9
69
9
17
102
19
84
42
62
25
69
115
69
101
41
44
66
71
188
85
13.724
908
911
916
706
900
5,4
181
76
125
25
11
79
11
19
96
30
121
42
72
5
72
161
104
43
47
69
75
194
88
14.117
946
933
937
720
926
528
188
79
129
26
11
82
12
20
99
32
125
44
74
28
5
74
164
106
44
47
70
77
197
90
14.291
963
943
947
727
938
535
191
80
132
26
11
84
12
20
101
33
127
45
76
28
5

Indonesia
1.919.443
62
85
93
101
104
106

Kepadatan penduduk suatu daerah dapat dihitung dengan menggunakan rumus kepadatan penduduk kasar, yaitu banyaknya penduduk per satuan luas.
kepadatan penduduk =
Contoh :
Luas wilayah Jawa Barat ialah 44.176 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 1980 sekitar 36.378.483 jiwa, maka kepadatan penduduknya ialah
kepadatan penduduk == 823 jiwa/km2
3.    Komposisi Penduduk
Komposisi penduduk adalah penggolongan penduduk berdasarkan kriteria tertentu, misalnya penggolongan menurut jenis kelamin. tingkat pendidikan, umur, pekerjaan, atau tempat tinggal. Penyajian data komposisi penduduk dapat berupa angka (numerik) ataupun gambar (grafik dan bagan).
Komposisi penduduk secara umum dapat diklasifikasikan atas tiga kelompok, yaitu sebagai berikut:
a.    berdasarkan biologis, misalnya umur dan jenis kelamin;
b.    berdasarkan geografis, misalnya penduduk kota dan penduduk desa;
c.    berdasarkan sosial, misalnya tingkat pendidikan, pendapatan, pekerjaan dan status kawin.
Contoh penyajian data komposisi penduduk biologis dapat kalian simak pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3
Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin Berdasarkan Hasil Sensus Tahun 1990
Kelompok umur (tahun )
Laki-laki (Jiwa)
Wanita (Jiwa)
0 – 4
5 - 9
10- 14
15 - 19
20 - 24
25 - 29
30 - 34
35 - 39
40 - 44
45 - 49
50 - 54
54 - 59
60 - 64
65 - 69
70 - 74
di atas 75

11.837.544
11.089.508
11.201.588
10.407.690
8.641.706
7.247.129
6 .437 .625
5. 529. 749
4.620.481
3.866.497
3.361.419
2. 75 5 .096
2.154.692
1.582.529
1’059.094
831.5 65
11,423.314
10,624,925
10.617.694
9.987.767
8.827.774
7.926886
7.030.547
5.713.149
4 569,585
3.927. 365
3.444.706
2.929.051
2.368,178
2.767.909
1.221.924
1.040.204

Berdasarkan data komposisi menurut angka di atas, kira dapat menggambarkannya dalam bentuk pirarnida seperti disajikan pada Gambar 3.2.





Bentuk piramida penduduk dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu piramida penduduk ekspansif, stasioner, dan konstruktif.
a.    Piramida Penduduk Muda (Ekspansif)
Bentuk piramida penduduk muda menggambarkan penduduk yang sedang mengalami pertumbuhan pesat, yang disebabkan angka kelahiran lebih tinggi dibandingkan dengan angka kematiannya. Pada umumnya, bentuk piramida penduduk muda terjadi di negara-negara yang sedang berkembang, seperti Indonesia, Mesir, dan India.
b.    Piramida Penduduk Tetap (Stasioner)
Bentuk piramida penduduk tetap mi menggambarkan pertumbuhan penduduk yang stabil, yaitu angka kelahiran sebanding dengan angka kematian. Jumlah penduduk usia muda, dewasa, dan tua seimbang. Pada umumnya, bentuk piramida tetap mi terjadi di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dan Inggris.
c.    Piramida Penduduk Tua (Konstruktif)
Bentuk piramida penduduk tua menggambarkan pertumbuhan penduduk yang cenderung menurun atau berkurang. Angka kelahiran lebih kecil dibandingkan dengan angka kematian, dan sebagian besar penduduknya terdiri dan penduduk usia tua. Beberapa contoh negara yang komposisi penduduknya bersifat konstruktif antara lain Jerman, Swedia, dan Belgia.








4.    Pertumbuhan Penduduk Indonesia
Pertumbuhan penduduk adalah bertambahnya jumlah penduduk pada suatu tempat yang disebabkan oleh kelahiran, kematian, dan migrasi.
a.    Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk dapat dibedakan atas 2 faktor berikut ini.
1)    Pertumbuhan penduduk al.ami, adalah pertumbuhan penduduk yang hanya menghitung selisih antara jumlah kelahiran dan jumlah kematian.

Rumus
P = (L – M)
 
 


Keterangan:
P = pertumbuhan penduduk
L = jumlah bayi yang lahir hidup
M = jumlah penduduk yang mad
Contoh:
Pada tahun 1998, jumlah penduduk kota A ialah 2.000.000 jiwa. Selama periode 1998-1999 telah terjadi kelahiran bayi sebanyak 250 jiwa, sedangkan penduduk yang meninggal dunia adalah 100 orang. Pertambahan penduduk alamiah di kota A adalah :
P = (L—M)
= 250—100
= 150 jiwa
Jumlah total penduduk kota A path tahun 1999 adalah:
penduduk total = penduduk awal + P
= 2.000.000 + 150
= 2.000.150 jiwa
2)    Pertumbuhan penduduk total adalah pertumbuhan penduduk yang menghitung selisih antara kelahiran dan kematian ditambah dengan selisih antara imigrasi dan emigrasi. Imigrasi adalah perpindahan penduduk dan luar negeri ke dalam negeri, sedangkan emigrasi adalah perpindahan penduduk dan dalam negeri ke luar negeri.
Rumus


P = (L – M) + (I – E)
 
 


Keterangan:
P = pertumbuhan penduduk
L = jumlah anak yang lahir hidup
M = jumlah penduduk yang mad
I = jumlah imigran
E = jumlah emigran
Pada tahun 1998, jumlah penduduk kota A ialah 2.000.000 jiwa. Selama periode 1998 - 1999 telah terjadi kelahiran bayi sebanyak 250 jiwa, sedangkan penduduk yang meninggal dunia adalah 100 orang. Selain itu, diketahui pula bahwa di kota tersebut terdapat penduduk pendatang (imigran) sebanyak 500 orang dan penduduk yang pindah keluar negeri (emigran) sebanyak 750 jiwa, maka pertumbuhan penduduk total kota A adalah:
P     = (L—M)+(I—E)
        = (250—100) + (500—750)
        = 150—250
        = — 100 orang, artinya penduduk di kota A berkurang sebanyak 100 orang
Total penduduk kota A adalah:
penduduk total       = penduduk awal + P
                                  = 2.000.000 — 100 orang
                                  = 1.990.900 orang
b.    Tingkat Kelahiran (Natalitas)
Angka kelahiran atau natalitas adalah angka yang menunjukkan jumlah bayi
yang lahir dalam keadaan hidup selama satu tahun dan setiap 1000 penduduk.
Angka kelahiran diperoleh dan hasil bagi antara banyaknya bayi yang lahir dalam keadaan hidup selama 1 tahun dan jumlah penduduk pada pertengahan tahun dikalikan 1000.
Natalitas  x 1000
 
Rumus


Contoh:
Jumlah penduduk di daerah A pada pertengahan tahun 1998 ialah 31.542 jiwa. Selama tahun 1998 terdapat kelahiran sebanyak 1.270 jiwa, sehingga angka kelahiran daerah A tahun 1998 adalah sebagai berikut:
Ini berarti bahwa angka kelahiran daerah A tahun 1998 adalah 40 orang untuk setiap 1000 penduduk.
c.    Tingkat Kematian (Mortalitas)
Tingkat kematian atau mortalitas adalah angka yang menunjukkan jumlah orang yang meninggal dalam 1 tahun dan setiap 1000 penduduk.
Rumus


Mortalitas   x 1000
 
 
Untuk mengerahui jumlah penduduk pada pertengahan tahun adalah jumlah penduduk rata-rata, yaitu jumlah penduduk pada akhir bulan Juni atau permulaan Juli, atau ½ x (penduduk awal tahun + penduduk akhir tahun).
Contoh:
Penduduk di daerah A pada 1 Januari 1998 berjumlah 725 jiwa. Pada tanggal 31 Desember 1998, jumlahnya bertambah menjadi 850 jiwa. Jumlah penduduk yang meninggal selama tahun 1998 mencapai 30 orang, maka angka kematian di desa tersebut adalah:
=
artinya, bahwa angka kematian di daerah A pada tahun 1998 adalah 38 jiwa
untuk setiap 1000 penduduk.
5.    Kaitan antara Lingkungan Alam dan Sosial dengan Persebaran Penduduk
Persebaran penduduk di berbagai tempat tentu saja berbeda. Adanya perbedaan persebaran penduduk dapat ditentukan beberapa faktor alamiah maupun sosial. Pengaruh lingkungan sangat besar terhadap persebaran penduduk, karena kehidupan manusia tidak terlepas dan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Beberapa faktor yang mempengaruhi persebaran penduduk, antara lain keadaan relief, kesuburan tanah, keadaan iklim, fasilitas sosial, dan kebijaksanaan pemerintah.
a.    Keadaan Relief
Pada umumnya, penduduk cenderung lebih memilih bentuk permukaan bumi yang memiliki relief datar sebagai tempat tinggalnya karena akan mudah untuk melaksanakan mobilitas dan transportasi. Contoh, kota-kota besar di dunia misalnya di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya terdapat di dataran rendah.
Selain di kawasan yang datar, penduduk juga cenderung tinggal di sekitar Iembah sungai, terutama masyarakat tradisional yang bermata pencaharian  sebagai petani. Hal mi disebabkan oleh faktor ketersediaan sumber obat kamu perhatikan, ternyata sebagian besar asal mula peradaban dunia berasal dan wilayah lembah sungai yang subur seperti:
1) lembah Sungai Yang Tse dan Huang Ho,
2) lembab Sungai F.ufbrat dan Tigris,
3) lembah Sungai Indus dan Gangga, serta
4) lembah Sungai Nil.
b.    Keadaan Iklim
Kondisi iklim sangat besar pengaruhnya terhadap pola hidup dan kegiatan manusia. Umumnya, manusia lebih cenderung memilih daerah yang memiliki iklim tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Contoh, di daerah yang beriklim tropis penduduknya lebih padat daripada daerah beriklim kutub atau di gurun.
c.    Kesuburan Tanah
Bagi penduduk agraris, tanah memiliki nilai yang sangat strategis, yaitu sebagai sumber penghidupan dan pemenuhan kebutuhan hidup. Tanah yang subur merupakan pilihan utama untuk dijadikan pemukiman dan pertanian, karena dapat memberikan jaminan kelangsungan hidup bagi penduduk. Beberapa contoh tanah di negara kita yang cukup subur antara lain tanah vulkanik (daerah gunung api), andosol dan aluvial (tanah hasil pengendapan).
Kesuburan tanah inilah yang menyebabkan Pulau Jawa, Madura, dan Sumatra menjadi daerah yang pada penduduknya.
d.    Fasilitas Sosial
Fasilitas sosial yang dimaksudkan ialah seperti jalan raya, pasar, bank, rumah sakit, dan sekolah. Contoh, kota Jakarta dengan segala fasilitasnya menyebabkan kota tersebut memiliki angka kepadatan penduduk yang tinggi.
Tabel 3.4
Persentase dan Persebaran Penduduk Indonesia Menurut Pulau
(1980—1998)
Nama Pulau/ Kepulauan
Luas
Persentase penduduk
(Km2)
%
1980
1990
1995
1997
1998
Maluko
Irian Jaya (Papua)
Surnaira
Jawa dan Madura
Kalimantan
Sulawesi
Bali
NTB
NTT
473.606
132,181
539,460
189,216
5.561
20.177
47.876
74.505
421.081
24,7
6.9
28,1
9,8
0,3
1,0
2,5
3,9
22.0
19,00
61,88
4,56
7,05
1,67
1.85
1,86
0,96
0,79
20,53
59,99
507
6,98
1,55
1,88
1,82
1.03
0,91
20,96
58,91
5,38
7.05
1,49
1,7
1,84
1,07 .
1,00
21,09
58.64
5,44
7.09
1,48
1.88
1.85
1,07
1,02
21,14
58,53
5,47
7,10
1.47
1,88
1,85
1,07
1,03
Indonesia
1.904.569
100
100
100
100
100
100

e.    Kebijaksanaan Pemerintah
Kebijaksanaan pemerintah dapat menentukan pola persebaran penduduk di suatu tempat. Persebaran penduduk tersebut biasanya mengikuti rencana umum tata ruang wilayah (RUTRW). Contoh, kebijaksanaan pemerintah tentang program transmigrasi dalam upaya pemerataan penduduk.
6.    Perbandingan Penduduk Indonesia dengan Negara-Negara di Dunia
Menurut basil catatan sensus penduduk tahun 2000, penduduk Indonesia berjumlah 209.597.000. Jumlah penduduk tersebut telah menempatkan posisi Indonesia pada kelompok negara yang besar jumlah penduduknya baik di Asia maupun di dunia. Pada saat mi, Indonesia menduduki peringkat ke-4 di dunia dalam hal jumlah penduduk setelah RRC, India, dan Amerika Serikat. Di kawa.san ASEAN, jumlah penduduk Indonesia menempati peringkat pertama. Perbandingan jumlah penduduk Indonesia dengan negara-negara lain disajikan pada Tabel 3.5 berikut ini.
Tabel 3.5
No
Nama Negara
Luas (Km)
Jumlah Penduduk Tahun 1998
Kepadatan Penduduk
Tingkat Pertumbuhan

1
2
3
4
5
6

1
2
3

I
2
3
4
ASEAN:
Indonesia
Malaysia
Thailand
Filipina
Singapura
Brunei
Asia:
Cina
India
USA
Negara-negara
Afrika:
Mesir
Sudan
Aljazair
Zaire

1.919443
330.435
513.000
. 299.404
584
5.765

9.761.000
3.381.000
9.363,169


1.000.000
2,505.813
2.381.741
2.350,000

200.300.000
21.400.000
60.300.000
72.900.000
3.500.000
300.000

1.255.700.000
982.200.OOb
274.000.000


46.660.000
21.761.000
21.300.000
33.991.000

93
54
112
205
5.137
47

117
245
27


46
9
9
14

1,98
2,40
2,40
240
1,20
3.60

3,80
2,00
0,70


0,90
2,60
2,50
2,90

7.    Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia
Kualitas sumber daya manusia adalah kemampuan manusia untuk dapat memenuhi kehidupan secara layak, baik perorangan maupun sebagai anggota masyarakat. Dalam cakupan yang lebih luas, kualitas sumber daya man usia sangat menentukan keberhasilan pembangunan. Kualitas sumber daya manusia dapat diperhatikan dan beberapa faktor, antara lain:
a. tingkat pendidikan baik formal maupun non formal,
b. tingkat kesehatan, dan
C. mata pencarian
Namun, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia masih mengalami beberapa hambatan.
a.    Masalah Kependudukan di Indonesia
Setiap negara memiliki masalah kependudukan yang berbeda-beda sesuai dengan kondisinya masing-masing. Pada umumnya terdapat perbedaan yang mencolok antara masalah kependudukan yang dihadapi kelompok negara maju dengan masalah kependudukan yang dihadapi negara sedang berkembang.
Masalah kependudukan yang dihadapi Indonesia memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) tingkat pertumbuhan penduduk tinggi.
2) persebaran penduduk tidak merata,
3) kualitas penduduk masih rendah, dan
4) beban tanggungan tinggi.
b.    Upaya Penanggulangan Masalah Kependudukan
Perharian pemerintah Indonesia sangat besar dalam upaya menanggulangi masalah kependudukan. Berbagai program terus dikembangkan dan ditingkatkan pelaksanaannya untuk menekan sekecil mungkin masalah yang dihadapi. Adapun bentuk upaya yang dilaksanakan pemerintah, antara lain sebagai berikut.
1)      Melaksanakan program keluarga berencana (KB) yang menitikberatkan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS), dengan caturwarga, yaitu ayah, ibu, dan dua orang anak;
2)      Meningkatkan pelaksanaan program transmigrasi;
3)      peningkatan produksi pertanian melalui program ekstensifikasi dan intensifikasi pertanian;
4)      meningkatkan pembangunan industri, terutama industri yang banyak menyerap tenaga kerja (padat karya);
5)      menyebarluaskan pendidikan kependudukan ke berbagai jenjang tingkat pendidikan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap permasalahan yang dihadapi pemerintah dalam kependudukan.
C.   Faktor-faktor yang mempengaruhi Kualitas sumber Daya Manusia Indonesia
Setia negara memiliki kualitas atau mutu sumber daya manusia yang berbeda. Kualitas penduduk di negara maju umumnya lebih baik dibandingkan dengan negara berkembang. Hal mi dipengaruhi oleh beberapa faktor penting yang menentukan tinggi rendahnya kualitas sumber daya manusia, antara lain tingkat pendidikan, kesehatan, pendapatan penduduk, dan kesempatan kerja. Tingkat kesejahteraan dan kemakmuran penduduk di negara maju, umumnya lebih tinggi daripada di negara berkembang. Oleh karena itu, mereka memiliki kualitas yang lebih baik.
1.    Tingkat Pendidikan
Berdasarkan tingkat pendidikannya, kualitas sumber daya manusia Indonesia masih sangat rendah. Hal ini dapat kita lihat dan kenyataan bahwa hampir 50% angkatan kerja Indonesia tahun 1990 berpendidikan SD (sekolah dasar) dan buta huruf. Adapun penduduk yang memiliki tingkat pendidikan perguruan tinggi hanya 4% saja. Kualitas SDM di Indonesia tahun 1971—l990 dapat kamu lihat pada  Tabel 3.6.
Tabel 3.6
Tingkat Pendidikan Sumber Daya Manusia Indonesia tahun 1971-1990
No
Pendidikan yang ditamatkan
1971
1980
1990
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Sekolah dasar
SLTP :
SMU
akademi
perguruan tinggi
40,40%
33,30%
19,60%
4,40%
2.00%
0,30%
27,50%
41.00%
20,60%
6,00%
4,40%
0,40%
0,50%
7,60%
36,20%
12,80%
11,90%
0,60%
0,90%

Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan sumber daya manusia Indonesia, di antaranya sebagai berikut:
a.    tingkat pendapatan penduduk rendah, sehingga agak sulit untuk menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang pendidikan yang tinggi;
b.    biaya pendidikan relatifmahal;
c.    kesempatan sekolah bagi anak (terutama di pedesaan) rendah, karena harus membantu orang tuanya mencari nafkah;
d.    kesadaran masyarakat (terutama yang tinggal di desa) tentang pentingnya pendidikan bagi anak masih rendah;
e.    jumlah fasilitas pendidikan masih sangat kurang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia usia sekolah, seperti seperti gedung sekolah, tenaga guru, dan alat-alat pengajaran.
Untuk mengatasi .rendahnya tingkat pendidikan, pemerintah terus berupaya melaksanakan program-program yang dapat meningkatkan tingkat pendidikan, antara lain sebagai berikut:
a.    meningkatkan pembangunan sarana pendidikan, seperti gedung sekolah, laboratorium, buku-buku pelajaran, alat peraga, dan penataran-penataran yang meningkatkan profesi kependidikan;
b.    mengeluarkan Undang-Undang nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
c.    meningkatkan dan memperbarui bobot kurikulum di setiap jenjang tingkatan pendidikan;
d.    menggalakkan program wajib belajar 9 tahun bagi anak-anak yang berusia di atas 7 tahun, dan pada jalur pendidikan luar sekolah dilakukan melalui program paket A (setara SD) dan paket B (setara SLTP);
e.    program pembebasan uang sekolah (SPP) di tingkat SD sampai SLTP;
f.     menggalakkan program SLTP terbuka di beberapa daerah untuk memberi kesempatan bagi anak-anak yang tidak tertampung di sekolah umum;
g.    memberikan beasiswa bagi anak-anak sekolah yang berprestasi atau yang kurang mampu;
h.    mengadakan ujian persamaan di tingkat sekolah dasar dan lanjutan.
2.    Tingkat Pendapatan
PI =
 
Kualitas sumber daya manusia berdasarkan tingkat pendapatannya dapat diketahui dan rata-rata pendapatan penduduk dalam suatu negara per tahun. Rata-rata pendapatan penduduk mi dinamakan pendapatan per kapita (per capita income). Rumus untuk menghitung pendapatan per kapita adalah:


Keterangan :
P1           =   (per capita income) pendapatan per kapita
GNP        =   gross national product, yaitu jumlab pendapatan/pemasukan suatu negara secara keseluruhan dalam sam tahun.
P              =   jumlah penduduk dalam suatu negara
Contoh:
Sebuah negara memiliki jumlah penduduk sekitar 100 jura jiwa. Jumlah seluruh pendapatan negara tersebut dalam satu tahun ialah 150 miliar dolar Amerika, maka pendapatan per kapita penduduk di negara tersebut adalah:
PI =  =   = 1500
Jadi, rata-rata pendapatan penduduk di negara tersebut adalah 1500 dolar Amerika per orang per tahun.
Berdasarkan tingkat pendapatan. penduduk Indonesia masih termasuk rendah dibandingkan negara maju. Akan terapi, hal mi masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok negara miskin. Menurut perkiraan para ahli ekonomi, penghasilan rata-rata penduduk Indonesia tahun 1998 mencapai 640 dolar Amerika per tahun. Hal mi dapat kita bandingkan dengan pendapatan ker kapita beberapa negara di dunia. seperti yang ditunjukkan pada Tabel 3.7.
Tabel 3.7
Pendapatan Per Kapita di Beberapa Negara (1998)

Negara
Jumlah penduduk
(Dalam Jutaan)
Pendapatan perkapita
(Dalam Dolar AS)
Amerika Serikat
Australia
Belanda
Jepang
Inggris
Negara Berkembang
Hongkong
Malaysia
Filipina
Indonesia
 India
274,0
18,5
15,7
126,3
58,6

6,7
21.4
72.9
206.3
982.2
29.240
20.640
24.780
32.350
21.410

23.660
6.670
1.050
640
440

Sumber: The Economist 2000
Upaya pemerintah Indonesia dalam meningkatkan pendapatan penduduk antara lain sebagai berikut :
a.    memberikan bantuan modal usaha dengan berbagai bentuk kredit kepada masyarakat;
b.    memberikan bantuan bagi desa-desa tertinggal, baik dalam bentuk subsidi maupun inpres desa tertinggal (IDT)
c.    peningkatan dan perluasan lapangan kerja melalui berbagai sektor usaha, seperti industri, pertambangan, pertanian, dan perikanan;
d.    peningkatan pendidikan kejuruan, baik melalui lembaga pendidikan formal maupun non formal.
3.    Tingkat Kesehatan
Selain tingkat pendidikan dan pendapatan, faktor lain yang ikut menemukan mum penduduk atau sumber daya manusia ialah tingkat kesehatan, sebab walaupun seseorang memiliki pendidikan yang tinggi dan penghasilan banyak tetapi tidak sehat, tetap saja akan menghambat peranannya dalam pembangunan bangsa.
Ada dua faktor yang dapat dijadikan dasar untuk mengukur kualitas kesehatan masyarakat, yaitu infant mortality rate (angka kematian bayi) dan 4fr expectancy rate (angka harapan hidup). Angka kematian bayi adalah angka yang menunjukkan banyaknya bayi yang meninggal dunia sebelum mencapai usia I tahun dan setiap 1000 bayi yang lahir hidup. Angka harapan hidup adalah angka yang menunjukkan sampai usia berapa seseorang memiliki harapan untuk hidup sejak dia lahir sampai meninggal dunia.
Pada tahun 1990, angka kematian bayi di Indonesia ialah 71 bayi per seribu bayi yang lahir hidup. Coba kamu bandingkan angka kematian bayi di Indonesia dengan beberapa negara di Asia - Pasifik pada tabel 3.8
Tabel 3.8
Angka Kematian Bayi di Beberapa Negara di Asia – Pasifik
No
Nama Negara
Angka Kematian Bayi
1
2
3
4
5
6
7

Jepang
Australia
Malaysia
RRC
Indonesia
India
Afrika
5
9
30
39
71
95
154
Sumber: Modifikasi Lembar Data Kependudukan Dunia, 1990
Hingga tahun 1998, angka harapan hidup penduduk Indonesia adalah sampai usia 63 tahun untuk laki-laki dan 67 tahun untuk wanita. Angka ini sudah cukup baik jika dibandingkan dengan sekitar tahun 1971 yang hanya mencapai 47 tahun.
Beberapa faktor yang mempengaruhi angka kematian bayi dan angka harapan hidup antara lain:
a.    kualitas gizi keluarga,
b.    tingkat kesehatan lingkungan dan masyarakat,
c.    jumlah dan kualitas tenaga medis,
d.    persebaran atau pemerataan tenaga medis ke seluruh wilayah ranah air, ketersediaan prasarana dan sarana kesehatan.
e.    penyuluhan kesehatan kepada penduduk.
f.     pengetahuan penduduk tentang pentingnya kesehatan dan
g.    tingkat pendapatan penduduk.
Keberhasilan pemerintah meningkatkan kesehatan penduduk dewasa ini tidak terlepas dan keberhasilan dalam pelaksanaan program keluarga berencana. Tingkat kesehatan ibu dan anak yang lebih baik dapat menurunkan angka kematian nasional secara bertahap.
Dibandingkan dengan tingkat kesehatan penduduk di negara maju, Indonesia masih tergolong rendah. Walaupun demikian, upaya pemerintah dalam mengatasi masalah kesehatan mi tenis ditingkatkan melalui berbagai program, khususnya bagi masyarakat di pedesaan, antara lain sebagai berikut:
a.     meningkatkan pembangunan rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di seluruh pelosok tanah air;
b.     mengangkat dokter-dokter baru dan ahli medis lain dengan can menempatkan mereka di berbagai puskesmas melalui sistem kontrak kerja;
c.      meningkatkan penyuluhan kesehatan, terutama ditujukan bagi ibu dan bayi di bawah usia lima tahun (balita) melalui pos pelayanan terpadu (posyandu);
d.     memasyarakatkan penggunaan obat murah yang bermutu (obat generik) melalui program asuransi kesehatan (Askes) dan sebagainya;
e.     meningkatkan perbaikan gizi keluarga dengan berbagai program yang diberikan dalam penyuluhan keluarga berencana;
f.       menggalakkan program imunisasi terutama bagi balita yang dilaksanakan di tiap RW atau Kelurahan;
g.     menggalakkan program penanggulangan penyakit yang sering menjadi wabah di masyarakat seperti penyakit muntaber, demam berdarah, diare dan lain-lain;
h.     memperbaiki kualitas lingkungan hidup masyarakat (sanitasi) melalui pro peningkatan gram perbaikan kampung (kampung improvement), program Jumat bersih, dan sebagainya.
4.    Mata Pencarian
Lebih dan 50 % penduduk Indonesia bekerja pada sektor pertanian yang tingkat penghasilannya masih rendah, karena sebagian besar merupakan pekerja penggarap, bukan pemilik yang sekaligus mengolah lahan pertanian sendiri. Sebaliknya, penduduk yang bekerja di bidang industri dan jasa (perdagangan dan perbankan) masih relatif kecil. Akibatnya, walaupun sebagian besar penduduk memiliki mata pencarian di bidang pertanian, tingkat kesejahteraannya masih rendah bib dibandingkan dengan penduduk yang bekerja di sektor industri dan jasa. Data lebih jelas mengenai mata pencarian penduduk di Indonesia disajikan pada Tabel 3.9.
Di samping itu, setiap tahun angkatan kerja yang belum mendapat pekerjaan terus bertambah jumlahnya terutama di kota-kota besar, sebab lapangan kerja yang tersedia sangat terbatas daya serapnya. Oleh karena itu, pemerintah berupaya dalam menanggulangi masalah yang berkaitan dengan man pencarian i, antara lain sebagai berikut:
a.    meningkatkan dan menyebarluaskan pelayanan lembaga pendidikan keterampilan seperti Balai Latihan Kerja (BLK), baik keterampilan pertanian
b.    maupun yang lainnya;
c.    memperluas lapangan kerja baru balk di sektor industri, pertanian, maupun sektor-sektor lainnya;
d.    memberikan kesempatan bagi pencari kerja yang mempunyai keahlian tertentu untuk bekerja di luar negeri;
e.    meningkatkan pendidikan yang memiliki semangat kewirausahaan agar tidak bergantung pada pemerintah, yaitu menjadi pegawai negeri;
f.     memberikan berbagai macam kredit usaha baik melalui bank pemerintah maupun bank swasta.
Tabel 3.9
Mata Pencaharian Penduduk Indonesia

Jenis pekerjaan
Jumlah penduduk (%)
1990
1998
pertanian
perdagangan dan jasa
industri
lain-lain
53,9
24,7
10,1
11,3
43,0
40,0
17,0
-

D.   Mortalitas Penduduk
1.    Pengertian
Mobilitas penduduk adalah gerak penduduk dan suatu tempat ke tempat lain. Bentuk mobilitas penduduk terbagi atas dua bagian utama, yaitu mobilitas permanen (migrasi) dan non permanen.
a.    Mobilitas Penduduk Permanen (Migrasi)
Mobilitas penduduk permanen atau migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lain dengan maksud untuk menetap di daerah tujuan.
Migrasi dapat dibedakan menjadi migrasi internasional  (eksternal) dan migrasi nasional (internal). Migrasi internasional (eksternal) adalah perpindahan penduduk dan suatu negara ke negara lain. Adapun bentuk-bentuk migrasi internasional adalah sebagai berikut.
1)    Emigrasi adalah perpindahan penduduk ke luar dan suatu negara, misalnya penduduk Indonesia pergi ke negara lain.
2)    Imigrasi adalah perpindahan penduduk masuk ke suatu negara. Misalnya, penduduk dan Jepang masuk ke Indonesia lalu merata di Indonesia.
3)    Remigrasi adalah perpindahan penduduk yang kembali ke negara asal setelah pindah ke negara lain.
Migrasi nasional (internal) adalah perpindahan penduduk dan suatu daerah ke daerah lain, tetapi masih dalam kawasan negara yang bersangkutan. Bentuk –bentuk migrasi internal ialah transmigrasi dan urbanisasi.
Wilayah Indonesia yang terdiri atas 17.580 pulau. sekitar 2/3 jumlah penduduknya terpusat di pulau Jawa, Madura, dan Bali. Hal ini menjadi perhatian besar bagi pemerintah karena persebaran penduduk tidak merata dan tidak seimbang di suatu pulau dengan pulau lain, atau di suatu kota dengan kota lainnya. Salah satu upaya pemerintah untuk menangani masalah persebaran penduduk Indonesia yang tidak merata yaitu program transmigrasi dan Pulau Jawa, Madura, dan Bali ke wilayah-wilayah lain yang masih relatif jarang penduduknya, seperti Kalimantan dan Irian Jaya (Papua).
Menurut UU No. 3 Tahun 1972, transmigrasi adalah perpindahan penduduk dengan sukarela, atau dengan alasan-alasan yang dipandang perlu oleh negara dari suatu daerah yang padat penduduknya ke daerah yang jarang penduduknya di dalam wilayah negara Republik Indonesia.
Tujuan program transmigrasi antara lain sebagai berikut:
1)    pemerataan penyebaran penduduk dan pembangunan ke seluruh wilayah;
2)    peningkatan kesejahteraan khususnya bagi para transmigran:
3)    peningkatan produksi dalam mengolah sumber daya alam yang tersedia di daerah baru;
4)    pengurangan kemiskinan dan pengangguran di daerah a’
5)    meningkatkan pertahanan dan keamanan nasional.
Berdasarkan penyelenggaraannya, transmigrasi dapat dibedakan atas lima macam, yaitu transmigrasi umum, spontan, sektoral, bedol desa dan transmigrasi lokal.
1)    Transmigrasi umum adalah transmigrasi yang diselenggarakan dan dibiayai oleh pemerintah. Para transmigran memperoleh bantuan dan fasilitas dan pemerintah, seperti jaminan hidup selama 18 pertama dan ranah garapan seluas dua hektar.

2)    Transmigrasi spontan (swakarsa,) adalah transrnigrasi yang penyelenggaraannya atas biaya sendiri.
3)     Transmigrasi bedol desa adalah transmigrasi dan melibatkan seluruh masyarakat suatu desa dengan perangkat dasar. Umumnya. Penduduk desa dipindahkan dengan aparat desarwa karena Lisan tertentu. misalnya di daerah asal akan dibangun bendungan. :PLTA  kawasan penghijauan hutan, atau terjadinya bencana alam.
4)    Transmigrasi sektoral adalah transmigrasi yang diselenggarakan oleh antar departemen.
5)    Transmigrasi lokal adalah bentuk transmigrasi dalam satu wilayah provinsi.
Sampai saat mi pemerintah Republik Indonesia menentukan tiga wilayah yang dijadikan daerah tujuan transmigrasi, yaitu sebagai berikut.
1)    Wilayah Regional I. meliputi daerah-daerah yang jarang penduduknya di provinsi Aceh, Riau, Jambi, Sumatra Barat, Bengkulu, dan Sumatra Selatan.
2)    Wilayah Regional II, meliputi daerah-daerah di provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.
3)    Wilayah Regional III, meliputi daerah-daerah di provinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Irian Jaya (Papua).
Urbanisasi secara umum adalah perpindahan penduduk dan desa ke kota. Kota yang memiliki kelengkapan berbagai fasilitas selalu mempunyai daya tarik tersendiri bagi penduduk desa. Hal mi menyebabkan arus urbanisasi setiap tahun cenderung meningkat. Dalam prosesnya, faktor penyebab urbanisasi ialah daya tank dan kota dan daya dorong dan desa (daerah asal).
1)    Faktor daya tank kota, antara lain:
a) tersedianya fasilitas pendidikan yang lebih balk dan lengkap;
b) terbukanya lapangan kerja dengan upah yang lebih tinggi;
c) fasilitas kesehatan, hiburan, dan rekreasi tersedia.
2)    Faktor pendorong dan desa (daerah asal) antara lain)
a)    kepemilikan lahan pertanian semakin sempit;
b)    lapangan kerja pada sektor nonpertanian terbatas;
c)    tingkat upah di desa nendah;
d)    fasilitas pendidikan, kesehatan, kebudayaan, kesenian, olahraga, dan rekreasi sangat terbatas;
e)    ingin meningkatkan taraf hidup yang lebih baik.
Meningkatnya arus urbanisasi dapat menimbulkan berbagai akibat negatif baik di kota maupun di desa.
1)    Dampak negatif urbanisasi yang timbul di kota (daerah tujuan) di antaranya:
a)    jumlah dan kepadatan penduduk kota sangat tinggi;
b)    pengangguran meningkat, terutama bagi tenaga kerja dengan keterampilan rendah (kasar);
c)    timbulnya lingkungan yang tidak teratur (kumuh) dapat menimbulkan berbagai penyakit;
d)    tingkat kriminalitas tinggi;
e)    sering terjadi kemacetan lalu lintas, dan keindahan serta kenyamanan kota berkurang.
2)    Dampak negatif urbanisasi yang timbul di daerah asal antara lain sebagai berikut:
a)    banyak lahan potensial yang tidak tergarap; pembangunan desa terhambat karena kekurangan tenaga yang
b)    berpendidikan tinggi;
c)    produktivitas desa rnenurun.
b.    Mobilitas Penduduk Non permanen
Mobilitas penduduk non permanen adalah gerak penduduk dan suatu tempat ke tempat lain dengan maksud tidak menetap di daerah tujuan. Bentuk mobilitas non permanen dibedakan menjadi dua golongan, yaitu sirkulasi dan komutasi.
a.     Sirkulasi adalah gerak penduduk dan satu tempat ke tempat lain yang tidak bermaksud untuk menetap daerah tujuan, tetapi waktunya lebih dan satu hari, misalnya satu minggu atau satu bulan. Orang yang melakukan sirkulasi disebut sirkuler.
Contoh: Pedagang yang berdagang di kota, ia akan kembali pada hari yang lain.
b.    Komutasi (penglaju) adalah gerak penduduk dan satu tempat ke tempat lain yang setiap selesai melakukan gerak, ia akan pulang ke tempat asalnya pada hari itu juga. Orang yang melaksanakan komulasi disebut komuter. Contoh: orang yang tinggal di Bogor dan bekerja di Jakarta. Ia berangkat pagi hari menuju Jakarta dan pulang ke tempat asalnya sore hari.
2.    Pengaruh Mobilitas Penduduk terhadap Jumlah dan Mutu Penduduk
Mobilitas penduduk mempunyai pengaruh besar terhadap jumlah dan mutu penduduk, baik bagi daerah yang dituju maupun daerah yang ditinggalkan. Hal mi dapat terlihat dengan jelas pada dampak negatif urbanisasi baik di kota maupun di desa. Contoh, kemacetan yang terjadi di Jakarta akibat adanya mobilitas penduduk dan urbanisasi. Demikian pula akibat imigrasi dan emigrasi, jika terjadi secara massal (dalam jumlah banyak). Hal ini akan menimbulkan pengaruh yang besar pula bagi negara yang dituju maupun negara yang ditinggalkan. Contoh, di Kamboja dan Vietnam, akibat terjadi arus pengungsian besar-besaran, kini kedua negara tersebut mengalami kekurangan tenaga kerja untuk memulai pembangunan negerinya.
3.    Hubungan antara Mobilitas Penduduk dan Perkembangan Jaringan
Perhubungan dan Transportasi
Pertambahan penduduk di kota cenderung lebih cepat daripada di desa. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya angka kelahiran dan meningkatnya arus urbanisasi setiap tahun. Dengan pesatnya pertambahan penduduk kota setiap tahun, maka semakin pesat pula tuntutan penduduk terhadap pelayanan dan fasilitas kota, seperti permukiman dan transportasi. Jika terjadi ketidakseimbangan antara tuntutan dan kemampuan pelayanan akan timbul berbagai masalah, seperti kemacetan lalu lintas dan tindak kriminal.
Semakin tinggi arus mobilitas penduduk, semakin tinggi pula arus perhubungan dan transportasi. Oleh karena itu, kota-kota besar yang mengalami masalah pertambahan penduduk berupaya terus meningkatkan pembangunan berbagai sarana perhubungan dan transportasi, antara lain sebagai berikut:
a.    meningkatkan pengadaan transportasi massal, seperti his kota dan kereta api;
b.    meningkatkan pembangunan sarana jalan raya dengan menggunakan sistem jalan tol clan jalan layang;
c.    meningkatkan sarana penunjang perhubungan dan transportasi, seperti pembangunan stasiun, terminal, lampu-lampu pengatur lalu lintas, serta rambu-rambu lalu lintas.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer

himpunan mahasisswa IPS terpadu UNM 2012-2013

himpunan mahasisswa IPS terpadu UNM 2012-2013