PERUMUSAN TUJUAN INSTRUKSIONAL
A.
Sistem Instruksional
1. Pengertian
Sistem
Definisi
tentang sistem selalu berkembang sesuai dengan konteks dimana pengertian sistem
itu digunakan. Misalnya kumpulan dari bagian-bagian yang bekerjasama untuk
mencapai tujuan yang sama seperti sistem tata surya, sistem pencernaa, dll. Ada
juga yang mengatakan bahwa sistem terdiri dari unsur-unsur seperti input,
processing, serta output.
Sistem merupakan kumpulan dari elemen yang mempunyai
keterkaitan satu dengan yang lainnya.Kata sistem sendiri berasal dari bahasa
Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri
komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran
informasi, materi atau energi.Beberapa para ahli menyatakan pengertian sistem
sebagai berikut:
a. Salisbury
A system is a group of
components working together as a functional unit. Sistem adalah sekelompok
bagian-bagian atau komponen yang bekerja sama sebagai suatu kesatuan fungsi
b. Pilecki
Sistem
adalah sekumpulan objek dan menghubungkan objek itu dengan atributnya atu
dengan kata lain, sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri dari sejumlah
bagian-bagian, atribut dari bagian dan hubungan antara bagian dengan atribut
c. Robert
Allen & Mark Victor Hansen
Sistem
adalah prosedur yang terorganisir dan mapan yang membuahkan hasil
d. Djekky
R. Djoht
e. Sistem adalah agregasi atau
pengelompokan objek-objek yang dipersatukan oleh beberapa bentuk interaksi yang
tetap atau saling tergantung, sekelompok unit yang berbeda, yang dikombinasikan
sedemikian rupa oleh alam atau oleh seni sehingga membentuk suatu keseluruhan
yang integral dan berfungsi, beroperasi, atau bergerak dalam satu kesatuan
f. Umar
Fahmi Achmadi
Sistem
adalah tatanan yang menggambarkan adanya rangkaian berbagai komponen yang
memiliki hubungan serta tujuan bersama secara serasi, terkoordinasi yang
bekerja atau berjalan dalam jangka waktu tertentu dan terencana
g. Zulkifli
A. M
Sistem
adalah himpunan sesuatu "benda" nyata atau abstrak (a set of thing)
yang terdiri dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang saling berkaitan,
berhubungan, berketergantungan, dan saling mendukung, yang secara keseluruhan
bersatu dalam satu kesatuan (unity) untuk mencapai tujuan tertentu secara
efisien dan efektif
h. Webster's
Unabridged
Sistem
adalah elemen-elemen yang saling berhubungan membentuk satu kesatuan atau
organisasi
i.
Raymond Mcleod
Sistem
adalah himpunan dari unsur-unsur yang saling berkaitan sehingga membentuk suatu
kesatuan yang utuh dan terpadu
j.
Gordon B. Davis
Sebuah
sistem terdiri dari bagian-bagian yang saling berkaitan yang beroperasi bersama
untuk mencapai beberapa sasaran atau maksud
k. Koentjaraningrat
Sistem
adalah susunan yang berfungsi dan bergerak; suatu cabang ilmu niscaya mempunyai
objeknya, dan objek yang menjadi sasaran itu umumnya dibatasi. Sehubungan
dengan itu, maka setiap ilmu lazimnya mulai dengan merumuskan suatu batasan
(definisi) perihal apa yang hendak dijadikan objek studinya.
l.
Ludwig Von Bartalanfy
Sistem merupakan seperangkat unsur
yang saling terikat dalam suatu antar relasi diantara unsur-unsur tersebut
dengan lingkungan.
m.
Anatol Raporot
Sistem adalah suatu kumpulan kesatuan
dan perangkat hubungan satu sama lain.
n. L.
Ackof
Sistem adalah setiap kesatuan secara
konseptual atau fisik yang
terdiri dari bagian-bagian dalam keadaan saling tergantung satu
sama lainnya.
terdiri dari bagian-bagian dalam keadaan saling tergantung satu
sama lainnya.
2. Pengertian
dan Langkah-Langkah Pendekatan Sistem
Dalam
cakupan pengertian sistem termuat adanya berbagai komponen (unsur), berbagai
kegiatan (menunjuk fungsi dari setiap komponen), adanya saling hubungan serta
ketergantungan antar komponen, adanya keterpaduan (kesatuan organis =
integrasi) antar komponen, adanya keluasan sistem (ada kawasan di dalam sistem
dan di luar sistem), dan gerak dinamis semua fungsi dari semua komponen
tersebut mengarah (berorientasi = berkiblat) ke pencapaian tujuan sistem yang
telah ditetapkan lebih dahulu.
Pengertian
dan ciri-ciri sistem atau pendekatan sistem dapat dihubungkan dengan analisis
kondisi fisis (misalnya: sistem tata surya, rakitan mesin), dapat dihubungkan
dengan analisis biotis (misalnya: jaring-jaring ekologis, koordinasi tubuh
manusia), dan dapat dihubungkan dengan analisis gejala sosial (misalnya:
kehidupan ekonomis, gejala pendidikan, pola nilai hidup). Analisis sistem
sosial relatif lebih rumit dibanding analisis sistem fisis dan sistem biotis;
sistem sosial pada umumnya dan khususnya sistem pendidikan bersifat terbuka,
yaitu suatu sistem yang mudah dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di luar
sistemnya (rentan terhadap pengaruh luar), misalnya: sistem sekolah mudah
dipengaruhi oleh situasi masyaÂrakatnya (supra sistemnya). Karakter sistem
pendidikan yang bersifat terbuka ini menuntut konsekuensi penyelenggaraan
pendidikan sekolah yang kritis (dalam mawas diri) dan kreatif (dalam mencari
alternatif pengembangan yang positif) secara berkesinambungan.
Secara
lebih rinci, ciri-ciri yang terkandung dalam sistem atau pendekatan sistem,
adalah:
a. Adanya
tujuan
Setiap rakitan sistem pasti
bertujuan, tujuan sistem telah ditentukan lebih dahulu, dan itu menjadi tolok
ukur pemilihan komponen serta kegiatan dalam proses kerja sistem. Komponen,
fungsi komponen, dan tahap kerja yang ada dalam suatu sistem mengarah ke
pencapaian tujuan sistem. Tujuan sistem adalah pusat orientasi dalam suatu
sistem.
b. Adanya
komponen sistem (selain tujuan):
Jika suatu sistem itu adalah
sebuah mesin, maka setiap bagian (onderdil) adalah komponen dari mesin
(sistemnya); demikian pula halnya dengan pengajaran di sekolah sebagai sistem,
maka semua unsur yang tercakup di dalamnya (baik manusia maupun non manusia)
dan kegiatan-kegiatan lain yang terj adi di dalamnya adalah merupakan komponen
sistem. Jadi setiap sistem pasti memiliki komponen-komponen sistem.
c. Adanya
fungsi yang menjamin dinamika (gerak) dan kesatuan kerja sistem:
Tubuh kita merupakan suatu sistem,
setiap organ (bagian) dalam tubuh tersebut mengemban fungsi tertentu, yang
keseluruhannya (semua fungsi komponen sistem) dikoordinasikan secara kompak,
agar diri kita dan kehidupan kita sebagai manusia berjalan secara sehat dan
semestinya.
Penyelenggaraan pengajaran di
sekolah merupakan suatu sistem, maka setiap komponen yang mempunyai fungsi
tertentu itu mesti menyumbang secara sepantasnya dalam rangka mencapai tujuan
dan semua fungsi tersebut perlu dikoordinasikan secara terpadu agar proses pengajaran
berlangsung secara efektif dan cfisien.
Misalnya: fungsi komponen
yang berstatus guru adalah pembimbing belajar siswa (pendorong motivasi
belajar siswa, pengarah, pengatur (organisator) situasi belajar siswa, sebagai
nara sumber (fasilitator), bertindak sebagai penyebar kebijakan, penilai hasil
belajar siswa, dsb.); jika guru cakap menjalankan fungsinya maka akan sangat
membantu kelancaran serta keberhasilan belajar siswa, dan sebaliknya.
d. Adanya
interaksi antar komponen:
Antar komponen dalam suatu
sistem terdapat saling hubungan, saling mempengaruhi, dan saling
ketergantungan. Misalnya: keguruan seseorang barulah menjadi nyata jika ada
siswa yang bersedia untuk dididiknya; siswa yang responsif, kritis, dan
koordinatif banyak membantu guru dalam mengembangkan kariernya.
e. Adanya transformasi dan
sekaligus umpan balik:
Fungsi dari setiap komponen
merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan fungsi sistem. Dalam sistem
pengajaran yang berinti pada interaksi personal, peran dari komponen-komponen (selain
guru dan siswa) adalah untuk meningkatkan nilai interaksi personal tersebut
demi keberhasilan belajar siswa. Transformasi yang terjadi dalam interaksi
guru-siswa secara lebih teknis merupakan transaksi pesan-pesan (pemahaman ->
pengintegrasian -> pengembangan diri).
3. Pengertian
Sistem Instruksional
Sistem instruksional menunjukkan pengertian pengajaran sebagai
suatu system, yaitu suatu kesatuan yang terorganisasi yang terdiri atas
sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lain dalam rangka mencapai
yang diinginkan. Komponen tersebut antara lain, materi pelajaran, metode, alat
dan evaluasi yang semuanya ini berinteraksi satu sama lain.
Untuk pengembangan suatu sistem pengajaran atau system instruksional
maka semua komponan tersebut harus diorganisasi dengan baik sebagaimana
pengajaran harus kita lihat sebagai keseluruhan atau sebagai suatu sistem. Hal
ini disebabkan bagaimana pun baiknya tujuan pengajaran yang dapat kita
rumuskan, bila tidak disertai materi pelajaran yang sesuai metode dan alat yang
tepat maka tujuan tersebut akan sulit dicapai.
B. Tujuan
- Tujuan Instruksional
1. Pengertian
Tujuan Instruksional
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
merupakan terjemahan dari specific instructional objective. Literatur
asing menyebutkannya pula sebagai objective, atau enabling objective,
untuk membedakannya dengan general instructional objective, goal, atau
terminal objective. Yang berarti tujuan instruksional umum (TIU) atau
tujuan instruksional akhir.
Dalam program applied
approach (AA) yang telah digunakan di perguruan tinggi seluruh Indonesia
TIK disebut sasaran belajar (sasbel) (Suparman, 2004: 158). Sasbel menurut
Soekartawi, Suhardjono dkk (1995: 41) adalah pernyataan tujuan instruksional
yang sudah sangat rinci. sasaran belajar harus dituliskan dari segi kemampuan
peserta didik. Artinya mengungkapkan perubahan apa yang diharapkan terjadi pada
diri mahasiswa setelah mengikuti pengajaran pada satu pokok bahasan tertentu.
Dick dan Carey (1985) (dalam Suparman, 2004: 158) telah mengulas bagaimana Robert Mager mempengaruhi
dunia pendidikan khususnya di Amerika untuk merumuskan TIK dengan sebuah
kalimat yang jelas dan pasti serta dapat diukur. Perumusan tersebut berarti TIK
diungkapkan secara tertulis dan diinformasikan kepada siswa atau mahasiswa dan
pengajar mempunyai pengertian yang sama tentang apa yang tercantum dalam TIK.
Perumusan TIK harus dilakukan
secara pasti artinya pengertian yang tercantum di dalamnya hanya mengandung
satu pengertian dan tidak dapat ditafsirkan kepada bentuk lain. Untuk itu TIK
harus dirumuskan ke dalam kata kerja yang dapat dilihat oleh mata.(Suparman, 2004: 159). Menurut Soedjarwo (1995: 81)
Penulisan sasaran belajar sedikitnya menyatakan tentang: a). Isi materi dan
bahasan b). Tingkat penampilan yang diharapkan c). Prasyarat pengungkapan hasil
kerja. Tentunya secara ideal diharapkan peserta didik mendapatkan perubahan
secara menyeluruh, baik dalam pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), maupun
keterampilan (motorik).
Tujuan instruksional dapat
menjadi arah proses pengembangan instruksional karena di dalamnya tercantum rumusan
pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan dicapai mahasiswa pada akhir
proses instruksional. Keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan tersebut
merupakan ukuran keberhasilan sistem instruksional yang digunakan oleh pengajar.
Berdasarkan apa yang telah
dikemukakan diatas maka dapat
disimpulkan bahwa Tujuan Instruksional Khusus merupakan
suatu rumusan yang menjelaskan apa yang ingin dicapai, atau menjelaskan
perubahan yang terjadi sebagai akibat dari apa yang dipelajari oleh siswa.
2. Jenjang
Tujuan Instruksional
Tujuan pendidikan terdapat dalam UU No2
Tahun 1985 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang
seutuhnya yaitu yang beriman dan dan bertagwa kepada tuhan yang maha esa dan
berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan kerampilan, kesehatan jasmani
dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan berbangsa.
Tujuan Pendidikan nasional menurut TAP
MPR NO II/MPR/1993 yaitu Meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia
yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur,
berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin,
beretos kerja profesional serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional
juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan memepertebal rasa cinta tanah air,
meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawaan sosial, serta kesadaran pada
sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa
depan.
TAP MPR No 4/MPR/1975, tujuan pendidikan
adalah membangun di bidang pendidikan didasarkan atas falsafah negara pancasila
dan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangun yang berpancasila dan
untuk membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan
dan keterampilan yang dapat mengembangkan kreatifitas dan tanggung jawab dapat
menyuburkan sikap demokratis dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan
kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai
bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub
dalam UUD 1945.
Didalam praktek pendidikan khususnya
pada sistem persekolahan, di dalam rentangan antara tujuan umum dan tujuan yang
sangat khusus terdapat sejumlah tujuan antara. Tujuan antara berfungsi untuk
menjembatani pencapaian tujuan umum dari sejumlah tujuan rincian khusus.
Umumnya ada 4 jenjang tujuan di dalamnya terdapat tujuan antara , yaitu tujuan
umum, tujuan instruksional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional.
a.
Tujuan umum
pendidikan nasional ‘TPN’ Indonesia adalah Pancasila.
TPN adalah tujuan yang bersuifat paling umum dan merupakan
sasaran akhir yang harus dijadikan pedoman leh setiap usaha pendidikan, artinya
setiap lembaga dan penyelenggara pendidikan harus dapat membentuk manusia yang
sesuai dengan rumusan itu, baik pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga
pendidikan formal, informal, maupun nonformal. Tujuan pendidikan umum biasanya
dirumuskan dalam bentuk prilaku yang ideal sesuai dengan pandagan hidup dan
filsafat suatu bangsa yang dirumuskan oleh pemerintah dalam bentuk
undang-undang. TPN merupakan sumber dan pedoman dalam usaha penyelengggaraan
pendidikan.
Secara jelas tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari
sistem nilai Pancasila dirumuskan dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 pasal
3 “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bengsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab”
b. Tujuan institusional yaitu tujuan yang menjadi tugas dari
lembaga pendidikan tertentu untuk mencapainya.
Tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh
setiap lembaga pendidikan. Dengan kata lain, tujuan ini dapat didefinisikan
sebagai kualifikasi yang harus dimiliki oleh setiap siswa setelah mereka
menempuh atau dapat menyelesaikan program di suatu lembaga pendidikan tertentu.
Tujuan institusional merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan umum yang
dirumuskan dalam bentuk kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan, seperti
standar kompetensi pendidikan dasar, menengah kejuruan, dan jenjang pendidikan
tinggi.
Dalam Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan bab V pasal 26 dijelaskan standar kompetensi lulusan pada
jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, ahlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri
dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah umum
bertujuan meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahlak mulia,
serta keterampilan untuk hidup mandiri, dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah
kejuruan bertujuan meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahlak mulia,
serta keterampilan untuk hidup mandiri, dan mengikuti pendidikan lebih lanjut
sesuai dengan kejuruannya.
Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan tinggi
bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang
berahlak mulia, memiliki pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan sikap
untuk menemukan, mengembangkan, serta menerapkan ilmu, teknologi, dan seni yang
bermanfaat bagi kemanusiaan.
c.
Tujuan kurikuler,
yaitu tujuan bidang studi atau tujuan mata pelajaran.
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap
bidang studi atau mata pelajaran. Oleh sebab itu, tujuan kurikuler dapat
didefinisikan sebagai kualifikasi yang harus dimiliki anak didik setelah mereka
menyelesaikan suatu bidang studi tertentu dalam suatu lembaga pendidikan.
Tujuan kurikuler pada dasarnya merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan
lembaga pendidikan. Dengan demikian, setiap tujuan kurikuler harus dapat
mendukung dan diarahkan untuk mencapai tujuan institusional.
Pada Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan pasal 6 dinyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan
umum, kejuruan , dan khusus pada jenjang pendidikan dan menengah terdiri atas:
1) Kelompok mata pelajaran agama dan ahlak mulia
2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian.
3) Kelompok mata pelajaran Ilmu pengetahuan dan teknologi.
4) Kelompok mata pelajaran estetika.
5) Kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.
d. Tujuan instruksional, tujuan pokok bahasan dan sub pokok bahasan
disebut tujuan instruksional, yaitu penguasaan materi pokok bahasan/sub pokok
bahasan.
Dalam klasifikasi tujuan
pendidikan, tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional merupakan tujuan yang
paling khusus dan merupakan bagian dari tujuan kurikuler. Tujuan pembelajran
dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki anak didik setelah
mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali
pertemuan. Karena hanya guru yang memahami kondisi lapangan, termasuk memahami
karakteristik siswa yang akan melakukan pembelajaran di suatu sekolah, maka
menjabarkan tujuan pembelajaran ini adalah tugas guru.
Sebelum guru melakukan proses
belajar mengajar, guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran yang harus dikuasai
oleh anak didik setelah mereka selesai mengikuti pelajaran.
3. Cakupan
Tujuan Instruksional
Menurut Bloom
dalam bukunya “Taxonomy of Educational
Objectives” mengolongkan tujuan pendidikan/instruksional, dalam tiga ranah,
yakni: ranah kognitif, ranah afektif dan psikomotorik
a. Kognitif
(proses berfikir )
Kognitif adalah kemampuan intelektual siswa dalam berpikir,
menegtahui dan memecahkan masalah.Menurut Bloom (1956) tujuan domain kognitif
terdiri atas enam bagian :
1) Pengetahuan (knowledge)
Mengacu kepada kemampuan mengenal materi yang sudah
dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sukar. Yang penting
adalah kemampuan mengingat keterangan dengan benar.
2) Pemahaman (comprehension)
Mengacu kepada kemampuan memahami makna materi. Aspek ini
satu tingkat di atas pengetahuan dan merupakan tingkat berfikir yang rendah.
3) Penerapan (application)
Mengacu kepada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi
yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan
dan prinsip. Penerapan merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi
daripada pemahaman.
4) Analisis (analysis)
Mengacu kepada kemampun menguraikan materi ke dalam
komponen-komponen atau faktor-faktor penyebabnya dan mampu memahami hubungan di
antara bagian yang satu dengan yang lainnya sehingga struktur dan aturannya
dapat lebih dimengerti. Analisis merupakan tingkat kemampuan berfikir yang
lebih tinggi daripada aspek pemahaman maupun penerapan.
5) Sintesa (evaluation)
Mengacu kepada kemampuan memadukan konsep atau
komponen-komponen sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru.
Aspek ini memerluakn tingkah laku yang kreatif. Sintesis merupakan kemampuan
tingkat berfikir yang lebih tinggi daripada kemampuan sebelumnya.
6) Evaluasi (evaluation)
Mengacu
kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan
tertentu. Evaluasi merupakan tingkat kemampuan berfikir yang tinggi.
Urutan-urutan
seperti yang dikemukakan di atas, seperti ini sebenarnya masih mempunyai
bagian-bagian lebih spesifik lagi. Di mana di antara bagian tersebut akan lebih
memahami akan ranah-ranah psikologi sampai di mana kemampuan pengajaran mencapai
Introduktion Instruksional. Seperti evaluasi terdiri dari dua kategori yaitu
“Penilaian dengan menggunakan kriteria internal” dan “Penilaian dengan
menggunakan kriteria eksternal”. Keterangan yang sederhana dari aspek kognitif
seperti dari urutan-urutan di atas, bahwa sistematika tersebut adalah berurutan
yakni satu bagian harus lebih dikuasai baru melangkah pada bagian lain.
Aspek
kognitif lebih didominasi oleh alur-alur teoritis dan abstrak. Pengetahuan akan
menjadi standar umum untuk melihat kemampuan kognitif seseorang dalam proses
pengajaran.
b. Afektif
(nilai atau sikap)
Afektif
atau intelektual adalah mengenai sikap, minat, emosi, nilai hidup dan
operasiasi siswa. Menurut Krathwol (1964) klasifikasi tujuan domain afektif
terbagi lima kategori :
1) Penerimaan (recerving)
Mengacu
kepada kemampuan memperhatikan dan memberikan respon terhadap sitimulasi yang
tepat. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain
afektif.
2) Pemberian respon atau
partisipasi (responding)
Satu
tingkat di atas penerimaan. Dalam hal ini siswa menjadi terlibat secara
afektif, menjadi peserta dan tertarik.
3) Penilaian atau penentuan
sikap (valung)
Mengacu
kepada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian
tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak atau tidak
menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi “sikap dan
opresiasi”.
4) Organisasi (organization)
Mengacu
kepada penyatuan nilai, sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten
dapat menimbulkan konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem nilai
internal, mencakup tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup.
5) Karakterisasi / pembentukan
pola hidup (characterization by a value or value complex)
Mengacu
kepada karakter dan daya hidup sesorang. Nilai-nilai sangat berkembang nilai
teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah
diperkirakan. Tujuan dalam kategori ini ada hubungannya dengan keteraturan
pribadi, sosial dan emosi jiwa.
Variable-variabel
di atas juga telah memberikan kejelasan bagi proses pemahaman taksonomi afektif
ini, berlangsungnya proses afektif adalah akibat perjalanan kognitif terlebih
dahulu seperti pernah diungkapkan bahwa:“Semua sikap bersumber pada organisasi
kognitif pada informasi dan pengatahuan yang kita miliki. Sikap selalu
diarahkan pada objek, kelompok atau orang hubungan kita dengan mereka pasti di
dasarkan pada informasi yanag kita peroleh tentang sifat-sifat mereka.”
Bidang
afektif dalam psikologi akan memberi peran tersendiri untuk dapat menyimpan
menginternalisasikan sebuah nilai yang diperoleh lewat kognitif dan kemampuan
organisasi afektif itu sendiri. Jadi eksistensi afektif dalam dunia psikologi
pengajaran adalah sangat urgen untuk dijadikan pola pengajaran yang lebih baik tentunya.
c. Psikomotorik
(keterampilan)
Psikomotorik
adalah kemampuan yang menyangkut kegiatan otot dan fisik. Menurut Davc (1970)
klasifikasi tujuan domain psikomotor terbagi lima kategori yaitu :
1) Peniruan
terjadi
ketika siswa mengamati suatu gerakan. Mulai memberi respons serupa dengan yang
diamati. Mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot saraf. Peniruan ini pada
umumnya dalam bentuk global dan tidak sempurna.
2) Manipulasi
Menekankan
perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan
pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada tingkat ini
siswa menampilkan sesuatu menurut petunjuk-petunjuk tidak hanya meniru tingkah
laku saja.
3) Ketetapan
memerlukan
kecermatan, proporsi dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan.
Respon-respon lebih terkoreksi dan kesalahan-kesalahan dibatasi sampai pada
tingkat minimum.
4) Artikulasi
Menekankan
koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepat dan
mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal di natara gerakan-gerakan
yang berbeda.
5) Pengalamiahan
Menurut
tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik
maupun psikis. Gerakannya dilakukan secara rutin. Pengalamiahan merupakan
tingkat kemampuan tertinggi dalam domain psikomotorik.
Dari
penjelasan di atas dapat dilihat bahwa domain psikomotorik dalam taksonomi
instruksional pengajaran adalah lebih mengorientasikan pada proses tingkah laku
atau pelaksanaan, di mana sebagai fungsinya adalah untuk meneruskan nilai yang
terdapat lewat kognitif dan diinternalisasikan lewat afektif sehingga
mengorganisasi dan diaplikasikan dalam bentuk nyata oleh domain psikomotorik
ini.
Dalam
konteks evaluasi hasil belajar, maka ketiga domain atau ranah itulah yang harus
dijadikan sasaran dalam setiap kegiatan evaluasi hasil belajar. Sasaran
kegiatan evaluasi hasil belajar adalah:
a.
Apakah
peserta didik sudah dapat memahami semua bahan atau materi pelajaran yang telah
diberikan pada mereka?
b.
Apakah
peserta didik sudah dapat menghayatinya?
c.
Apakah
materi pelajaran yang telah diberikan itu sudah dapat diamalkan secara kongkret
dalam praktek atau dalam kehidupannya sehari-hari?
Ketiga ranah tersebut menjadi
obyek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah
yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah karena berkaitan dengan
kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.
C.
Perumusan Tujuan Instruksional Khusus
1. Hakikat
dan Ragam TIK
Pada uraian sebelumnya sudah diutarakan bahwa tujuan
instruksional itu ialah segala hal yang harus dimiliki dan dapat ditampilkan
siswa setelah pembelajaran. Dengan kata lain Tujuan Instruksional Khusus adalah
hasil yang diinginkan guru untuk dimiliki oleh siswa setelah proses
pembelajaran berlangsung. Diharapkan terjadinya perubahan dan penyempurnaan
diri siswa setelah melakoni proses pembelajaran sebagaimana dirumuskan dalam
tujuan instruksional khusus.
Melalui Tujuan Instruksional Khusus ini diharapkan bahwa:
a. Diri
siswa:
1) Memperoleh
sesuatu.
2) Merubah
sesuatu yang ada dalam dirinya.
3) Menyempurnakan
sesuatu.
4) Membina
sesuatu.
5) Menampilkan
sesuatu.
b. Kelak
kemudian hari melalui diri siswa yang bertindak sebagai inovator, dapat pula
terjadi perubahan/perbaikan lingkungannya. Dengan kata lain arah sasaran TIK
ini adalah:
1) Menciptakan
hal yang baru
2) Merubah
apa yang sudah dimiliki oleh siswa/kehidupan/keadaan.
3) Membina
dan menyempurnakan apa yang sudah ada.
4) Meningktakan
sesuatu.
5) Menangkal
hal yang tidak diinginkan.
Objeknya adalah siswa itu sendiri, lingkungannya, masyarakat bangsa dan negaranya.
Dengan dimensi pengetahuannya, sikap, nilai, dan emosionalnya, serta
keterampilannya dengan target waktu: hari ini (kepentingan sekarang) dan besok
(masa mendatang)
Mengenai jenis ragam, TIK dapat dibedakan atas:
a. Dari
segi waktu pencapaiannya
Menurut Norman E Grundlond (1976) TIK
dapat dibedakan atas:
1) Tujuan
yang wajib dikuasai oleh TIK yang sifatnya mendasar, esensial dan penting yang
harus dikuasai oleh siswa. Contoh: Huruf alfabetik untuk pelajaran membaca
Bilangan untuk menghitung
Sila pancasila untuk PMP/PPKN
Letak tuts-tuts bagi pengetik dll
2) Tujuan-tujuan
yang tercapai melalui suatu fase perkembangan ialah TIK yang tidak bisa
sekaligus sempurna yang dicapai oleh siswa melainkan melalui tahap
perkembangan. Contoh : menjadi pengarang harus melalui berbagai penguasaan,
kecakapan/kemahiran mengetik dengan memerlukan pelatihan/pengulangan, kemampuan
hidup bermasyarakat akan selalu berkembang dan makin sempurna.
Jadi, TIK jenis ini ada awal tetapi
tidak ada akhrinya akan terus berkembang melalui pengalaman dan kehidupannya.
3) Tujuan
yang sangat ideal ialah sesuatu yang sangat sulit dicapai dalam satu kali pukul
atau dengan seketika
Contoh: Insan Pancasila sejati,
taqwa, sholeh, berbudaya dll.
4) Tujuan
yang dapat dicapai segera misalnya dapat membuat bagan, dapat mengemukan
pendapat tentang X, dll.
b. Melihat
sifat hasil yang dicapai siswa
1) TIK
yang hanya mencakup satu masalah/bidang/disiplin saja antara lain dapat
mengemukakan teori ekonomi, dapat mengemukakan nama pejabat pemerintah, dll.
2) Kebalikan
dari hal diatas ialah multi bidang. Contoh : dapat mengemukakan dampak dari
banjir dalam berbagai kehidupan, dapat mengemukakan sebab urbanisasi secara
menyeluruh, dll.
3) TIK
yang merupakan sasaran pokok yang direncanakan, ialah segala TIK yang memang
sudah ditargetkan dan dirumuskan
4) TIK
yang tersembunyi yang dicapai siswa karena proses pembelajaran atau sebagai
hasil sampingan pencapaian TIK pokok/utama. Contoh: TIK utama terampil membuat
bagan X, maka disini secara implisit dicapai hasil sampingan pemahaman atas
konsep X itu sendiri.
5) Jenis
TIK lain yang setaraf dengan hal diatas (TIK yang tersebunyi) yakni khususnya aspek keterampilan:
a) Keterampilan
social/hubungan social
b) Keterampilan
akademik yang akan menjadi keterampilan belajar sepanjang hayat.
Sehubungan dengan hakikat dan jenis ragam TIK yang telah
diuraikan, maka dalam memilih dan menentukan TIK yang perlu diperhatikan
adalah:
a. Kemungkinan
memasukkan berbagai jenis TIK dalam suatu pembahasan.
b. Tuntutan
kehidupan di hari esok bagi anak dan masyarakat.
c. Fungsionalisasi
pelajaran dengan lingkungan dan kehidupan.
d. Dimensi
domain/kawasan pendidikan yang lengkap (kognitif,afektif, psikomotorik) dan
berkadar taksonomi tinggi.
e. Memungkinkannya
lahir proses belajar yang ideal dan manusiawi.
f. Mampu
melahirkan hasil-hasil yang lebih tinggi/banyak.
g. Mampu
membawakan arus pembahuruan: sekolah-peran siswa-guru.
Pengembangan tujuan/ TIK secara meluas ini seirama serta akan
menunjang kemudahan pengembangan-perluasan program/materi pelaran kelak disaat
dilakukan desain program. Bahkan dalam teori perumusan TIK, yang tepat dan
benar (dilihat dari aspek taksonomi dan materi yang harus dibawakan) adalah
perumusan yang mampu merakitkan/menggandengkan kata kunci operasional TIK
dengan materi pelajaran. Hal ini akan diuraikan tersendiri pada uraian
selanjutnya.
2.
Persyaratan dan Langkah Kegiatan Perumusan TIK
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa, Tujuan Instruksional
Khusus merupakan penjabaran dari Tujuan Instruksional Umum. Dalam perumusan
Tujuan Instruksional Khusus harus memperhatikan rambu- rambu sebagai berikut.
a. Rumusan Tujuan Instruksional Khusus harus merupakan hasil belajar, bukan
proses belajar. Misalnya setelah mengikuti proses diskusi guru mengharapkan
siswa mampu mengidentifikasi ciri- ciri demokrasi. Rumusan Tujuan Instruksional
Khusus yang benar adalah “siswa mampu mengidentifikasi ciri- ciri demokrasi”.
Bukan siswa mampu mendiskusikan ciri- ciri demokrasi bukan merupakan rumusan
tujuan tetapi proses pembelajaran.
b. Perangkat Tujuan Instruksional Khusus dalam satu rencana pembelajaran
haruslah komprehensif, artinya kemampuan dituntut dalam setiap Tujuan
Instrusional Khusus hendaknya dari jenjang yang berbeda. Misalnya, jika dalam
satu rencana pembelajaran ada tiga Tujuan Instruksional Khusus, kemampuan yang
dituntut Tujuan Instruksional Khusus 1, adalah dapat menjelaskan, Tujuan
Instruksional 2: dapat memberi contoh dan Tujuan Instruksional Khusus 3: dapat
menggunakan.
c. Kemampuan yang dituntut dalam rumusan Tujuan Instruksional Khusus harus
sesuai dengan kemampuan siswa.
d. Banyaknya Tujuan Instruksional Khusus yang dirumuskan harus sesuai dengan
waktu yang tersedia untuk mencapainya.
Dengan mempertimbangkan hal- hal tersebut diharapkan akan dihasilkan
rumusan Tujuan Instruksional Khusus yang dapat menjembatani pencapaian Tujuan
Instruksional Khusus. Untuk dapat membuat rumusan Tujuan Instruksional Khusus
yang benar, berikut ini disajikan komponen- komponen yang harus ada dalam suatu
rumusan.
Langkah Merumuskan TIK (tujuan intruksional khusus) yaitu terdiri dari :
a. Membuat sejumlah TIU (tujuan instruksinal umum) untuk setiap mata pelajaran
bidang studi yang akan diajarkan.
b. Dari masing-masing TIU dijabarkan menjadi sejumlah TIK yang rumusannya
jelas, khusus, dapat diamati, terukur, dan menunjukkan perubahan tingkah laku.
Dalam merumuskan TIK dapat dilakukan dengan menggunakan dua format yaitu
format Mager dan ABCD format.
?
Format Merger
Merger merekomendasikan syarat–syarat untuk menentukan tujuan perilaku yang
ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran.
a. Mengidentifikasi tingkah laku terakhir yang ingin dicapai oleh pembelajar
b. Menentukan dalam kondisi bagaimana tingkah laku tersebut dapat dicapai
c. Membuat kriteria spesifik bagaimana tingkah laku tersebut dapat diterima
Uraian di atas menunjukan bahwa Merger mengemukakan tujuan tersebut
dirumuskan dengan menentukan bagaimana pembelajar harus melakukannya, bagaimana
kondisinya, serta bagaimana mereka akan melakukannya. Dalam penjabaran TIK ini
Merger melibatkan tiga aspek yaitu begaimana kondisi pencapaian tujuan,
kriteria yang ingin dicapai, serta bagaimana tingkah laku pencapaiannya.
Merger mendiskripsikan audiense hanya sebagai murid atau pembelajar, dengan
menggunakan sebuah format ”kamu akan bisa untuk”. Para desain pembelajaran yang
menggunakan format Marger ini biasanya menggunakan ”SWABAT” yang berarti ”the
student will be able to”.
? Format ABCD
Menurut Knirk dan Gustafson (1986), Ada empat komponen yang harus ada dalam
rumusan tujuan, yaitu Format ABCD digunakan oleh Institusi Pengembangan
Pembelajaran, pada prinsipnya format ini sama dengan yang dikemukakan oleh
Marger, namun pada bagian ini menambahkan dengan mengidentifikasi audiense,
atau subjek pembelajar. Unsur– unsur tersebut dikenal dengan ABCD yang berasal
dari empat kata sebagai berikut :
A =
Audience
B =
Behaviour
C =
Condition
D =
Degree
a. Audience
Audience merupakan siswa atau mahasiswa yang akan belajar, dalam hal ini
pada TIK perlu dijelaskan siapa mahasiswa atau siswa yang akan belajar.
Keterangan tentang siswa yang akan belajar tersebut harus dijelaskan secara
spesifik mungkin, agar seseorang yang berada di luar populasi yang ingin mengikuti
pelajaran tersebut dapat menempatkan diri seperti siswa atau mahasiswa yang
menjadi sasaran dalam sistim instruksional tersebut.
b. Behavior
Behavior merupakan prilaku yang spesifik yang akan dimunculkan oleh
mahasiswa atau siswa tersebut setelah selesai mengikuti proses belajar tersebut
. Perilaku ini terdiri dari dua bahgian penting yaitu kata kerja dan objek. Kata kerja ini menunjukkan bagaimana siswa mendemonstrasikan sesuatu
seperti menyebutkan, menjelaskan, menganalisis dan lainnya. Sedangkan objek
menunjukkan apa yang didemonstrasikan.
c. Condition
Condition berarti batasan yang dikenakan kepada mahasiswa atau alat yang
digunakan mahasiswa ketika ia tes.Kondisi ini dapat memberikan gambaran kepada
pengembang tes tentang kondisi atau keadaan bagaimana siswa atau mahasiswa
diharapkan dapat mendemonstrasikan perilaku saat ini di tes,misalnya dengan
menggunakan rumus tertentu atau kriteria tertentu.
d. Degree
Degree merupakan tingkat keberhasilan mahasiswa dalam mencapai perilaku
tersebut, adakalanya mahasiswa diharapkan dapat melakukan sesuatu dengan
sempurna tampa salah dalam waktu dua jam dan lainnya. Sejumlah rumusan ABCD
dalam penerapannya terkadang tidak disusun secara ber urutan namun dapat
dibalik-balikkan . Dalam praktek sehari-hari perumusan TIK terkadang hana
mencantumkan dua komponen saja , yaitu A dan B sehingga ketika diukur tidak
memiliki kepastian dalsam menyusun tes.
3. Perbendaharaan
Kata-Kata Operasional dalam Perumusan Tujuan Instruksional
Jenjang
istilah yang digunakan yaitu:
a. Bidang
kognitif dengan jenjang:
1) Pengetahuan
2) Pemahaman,pengertian
3) Pemakaian,
penggunaan
4) Analisis
5) Sintesis
6) Evaluasi
Istilah yang digunakan untuk tujuan
instruksional umum dan tujuan instruksional khusus yaitu:
|
JENJANG
PENGETAHUAN
|
|
|
Istilah untuk
TIU
|
Istilah untuk
TIK
|
|
1.
Tahu istilah-istilah umum
2.
Tahu hal terperinci
3.
Tahu metode dan prosedur
4.
Tahu konsep-konsep dasar
5.
Tahu prinsip-prinsip
|
Mendefinisikan, memberikan,
mengidentifikasi, memberi nama, mencocokkan, menyusun daftar, menamakan,
membuat garis besar, menyatakan kembali, memilih, mencatat, meniru. menghafal
|
|
JENJANG
PEMAHAMAN DAN PENGERTIAN
|
|
|
Istilah untuk
TIU
|
Istilah untuk
TIK
|
|
1.
Memahami fakta dan prinsip
2.
Menginterprestasi bagan dan grafik
3.
Menginterprestasi secara lisan
4.
Mengubah bahan tulisan kata-kata menjadi rumusan matematika
5.
Memperkirakan akibat-akibat yang akan datang yang tercantum dalam data.
6.
Membenarkan metode dan prosedur
|
Mengubah, mempertahankan,
membedakan, membandingkan, memperkirakan, mendeskripsikan, menguraikan,
mengkategorikan, menarik simpulan, meramalkan, melukis kembali, membuat
rangkuman
|
|
JENJANG
PEMAKAIAN & PENGGUNAAN
|
|
|
Istilah untuk
TIU
|
Istilah untuk
TIK
|
|
1.
Mengunakan konsep dan prinsip terhadap situasi baru
2.
Menerapkan hokum dan teori pada situasi praktis
3.
Memecahkan persoalan matematik
4.
Mengkonstruksikan bagan dan grafik
5.
Menunjukkan penggunaan secara benar metode dan prosedur
|
Mengubah, menghitung,
mendemostarisikan, menyesuiakan, merombak, menjalankan, menghubungkan,
menggunakan, menyusun, memproses
|
|
JENJANG
ANALISIS
|
|
|
Istilah untuk
TIU
|
Istilah untuk
TIK
|
|
1.
Mengenali anggapan yang tidak dinyatakan.
2.
Mengenali kesalahan logika dalam member alas an
3.
Membedakan antara fakta dan kseimpulan
4.
Mengevaluasi hubungan antara data
5.
Menganalisis struktur organisasi suatu karya
|
Menganalisis,
memecahkan, menyeleksi, membuat diagram, memisahkan, membuat garis besar,
menunjukkan, memilih, mendiagnosis, menemukan, mengakases
|
|
JENJANG
SINTESIS
|
|
|
Istilah untuk
TIU
|
Istilah untuk
TIK
|
|
1.Menulis suatu tema yang tersusun baik
2.Memberi ceramah yang antersusun baik
3.Menulis suatu naskah pendek yang kraetif
4.Mengajukan rencana untuk suatu eksprimen
5.Merumuskan suatu bagan untuk menggolongkan objek,
kejadian atau piker
|
Mengkategorikan,
menggabungkan, menghimpun, menyusun kembali, membangkitkan, menceriterakan, menyimpulkan,
menyiapkan, merangkum, menampilkan, merekonstruksi
|
|
JENJANG
EVALUASI
|
|
|
Istilah untuk
TIU
|
Istilah untuk
TIK
|
|
1.Menimbang konsistensi yang logis dari bahan tertulis
2.Menimbang seberapa jauh suatu kesimpulan ditunjang
oleh data
3.Menimbang nilai suatu karya dengan menggunakan
criteria internal
4.Menimbang nilai suatu karya dengan menggunakan
standar kebenaran eksternal
|
Menilai,
meperbandingkan, mengkritik, menafsirkan, memutuskan, menghubungkan,
menyimpulkan, menyokong, mengakses, memproyksikan
|
b.
Bidang
sikap serta nilai (afektif) dengan jenjang
1)
Kemauan
menerima
2)
Kemauan
menanggapi
3)
Penilaian
4)
Pengorganisasian
5)
Karakterisasi
Istilah yang digunakan untuk tujuan instruksional umum dan tujuan
instruksional khusus yaitu:
|
JENJANG KEMAUAN MENERIMA
|
|
|
Istilah untuk
TIU
|
Istilah untuk
TIK
|
|
1.
Mengdengarkan dengan perhatian
2.
Meningkatkan kesadaran akan pentingnya belajar
3.
Menunjukkan sensitifitas akan keperluan manusia dan persoalan-persoalan
masyarakat.
4.
Menerima berbagai kebiasaan
5.
Menerima dengan baik segala aktivitas kelas
|
Memilih,
mempertanyakan, mengikuti, memberi, menganut, mematuhi, menggunakan,
menjawab, merasakan, meminati
|
|
JENJANG KEMAUAN MENANGGAPI
|
|
|
Istilah untuk
TIU
|
Istilah untuk
TIK
|
|
1.Melengkapkan PR yang ditentukan
2.Mentaati aturan sekolah
3.Ikut serta dalam diskusi sekolah
4.Sukarela melaksankan tugas khusus
5.Menyukai menolong orang lain
|
Menjawab, membantu, mengajukan, mengompromikan, menyenangi,
menyambut, mendukung, menyetujui, menampilkan, melaporkan, memilih, mengatakan,
menolak
|
|
JENJANG PENILAIAN
|
|
|
Istilah untuk TIU
|
Istilah untuk
TIK
|
|
1.Mendemostrasikan kepercayaan dalam proses demokratis
2.Menghargai literature yang baik
3.Menghargai dari peranan ilmu pengetahuan dalam
kehidupan
4.Mendemostrasikan sikap pemecahan masalah
5.Partisipasi dalam pekerjaan sosial
|
|
|
JENJANG PENGORGANISASIAN
|
|
|
Istilah untuk
TIU
|
Istilah untuk
TIK
|
|
1.mengenal kebutuhan untuk keseimbangan antara
kebebasan dan tanggung jawab dalam demokratis
2.mengenal peranan dari perencanaan yang sistematis
dalam memecahkan maslah
3.menerima tanggung jawab untuk tingkah lakunya
sendiri
4.mengerti dan menerima kekuatan dan keterbatasan
dirinya sendiri
|
|
|
JENJANG KARAKTERISASI
|
|
|
Istilah untuk
TIU
|
Istilah untuk
TIK
|
|
1.
menunjukkan kesadaran
2.
mengadakan kerja sama dalam kelompok
3.
menggunakan pendekatan yang objektif dalam memecahkan masalah
4.
menunjukkan kerajinan ketepatan waktu dan disiplin diri
|
1. mempengaruhi
2. mendengarkan
3. mengkualifikasikan
4. melayani
5. menunjukkan
6. membuktikan
7. memecahkan
|
c.
Bidang
Psikomotor
|
JENJANG PERSEPSI
|
|
|
Istilah untuk
TIU
|
Istilah untuk
TIK
|
|
1)
Stimulasi sensoris mengdengar isyarat
2)
Melihat bentuk & angka
3)
Menyentuh bentuk sesuatu
4)
Merasakan: pahit, manis
5)
Membau dan memegang sesuatu
|
Melihat,
mendengar, menyentuh, mengecap, memegang
|
|
JENJANG KESIAPAN
|
|
|
Istilah untuk
TIU
|
Istilah untuk
TIK
|
|
1.
Kesiapan mental: memilih& membuat sintesa
2.
Kesiapan fisik
3.
Kesiapan emosional: merespon sikap yang tepat
|
Memilih,
memisahkan, menunjukkan, mengambil, menimbang, mengerjakan
|
|
JENJANG RESPONS
TERPIMPIN
|
|
|
Istilah untuk
TIU
|
Istilah untuk
TIK
|
|
1.
Imitasi: mepertunjukkan sesuatu
2.
Mengikuti: petunjuk sampai dengan yan belun
dikenal
3.
Mengadakan eksprimentasi
|
Menirukan,
meragakan, mengerakkan, menggunakan, menyimpulkan
|
|
JENJANG MEKANISME
|
|
|
Istilah untuk TIU
|
Istilah untuk
TIK
|
|
1.
Memilih: bahan, alat
2.
Merencanakan: aktifitas & waktu
3.
Melakukan tugas dengan baik, bertanggung jawab dan cepat memperkirakan
hasil.
|
Memilih,
menentukan, memasang, melakukan, mengubah, membentuk
|
|
JENJANG RESPON YANG KOMPLEKS
|
|
|
Istilah untuk
TIU
|
Istilah untuk
TIK
|
|
1.
Adopsi:terhadap sumber perencanaan dan prosedur yang tepat
2.
Penggunaan skill dan memilih profesi
3.
Melaporkan menjelaskan
|
Menyesuiakan,
merencanakan, menggunakan, melakukan, melaporkan. Mendeskripsikan
|
D.
Pelatihan (Tugas-Workshop)
Pada
uraian bab III Perumusan Tujuan Instruksional secara teoritis telah dipelajari
dengan berurutan mengenai jenjang tujuan pendidikan, hakikat dan jenis ragam
TIK, persyaratan dan langkah-langkah kegiatan perumusan TIK, perbendaharaan kata-kata
operasional dalam penyusunan tujuan instruksional. Maka berikut ini dapat
disajikan format latihan pemantapan perumusan TIK yaitu:
1. Menganalisis
GBPP atau Standar Kompetensi kurikulum sekolah yang akan dikembangkan selama
satu semester.
2. Menyusun
satuan program penyajian materi pokok sesuai dengan urutan yang benar untuk
waktu satu satuan semester
3. Memerinci
bobot taksonominya per TIU/KD untuk waktu satu semester
4. Merumuskan
TIK sesuai dengan bobot taksonominya yang sudah diperinci





