Jumat, 14 Juni 2013

Individu dan Karakteristiknya.



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang, sejak ratusan tahun sebelum Isa, manusia telah menjadi salah satu objek filsafat, baik objek formal yang mempersoalkan hakikat manusia sebagai apa danya manusia dan dengan berbagai kondisinya. Sebagaimana dikenal adanya manusia sebagai makhluk yang berpikir atau homo sapiens, makhluk yang berbuat atau homo faber, makhluk yang dapat didik atau homo educandum, dan seterusnya merupakan pandangan-pandangan tentang manusia tersebut. berbagai pandangan tersebut membuktikan bahwa, manusia adalah makhluk yang kompleks.
Kini bangsa Indonesia telah menganut suatu pandangan, bahwa yang dimaksud manusia secara utuh adalah manusia sebagai pribadi yang merupakan pengejawantahan manunggalnya berbagai ciri atau karakter hakiki atau sifat kodrat manusia yang seimbang antar berbagai segi, yaitu antara segi : (i) individu dan sosial, (ii) jasmani dan rohani, dan (iii) dunia dan akhirat.
Uraian tentang manusia berkaitan dengan kedudukannya sebagai peserta didik, haruslah menempatkan manusia sebagai pribadi yang utuh. Dalam kaitannya dengan kepentingan pendidika, akan lebih ditekankan hakiki mansuia sebagai kesatuan sifat makhluk individu dan makhluk sosial, sebagai kesatuan jasmani dan rohani, dan sebagai makhluk Tuhan dengan menempatkan hidupnya di dunia sebagai persiapan kehidupannya di akhirat.
Dalam dunia pendidikan terdapat berbagai macam faktor yang faktor yang lain dengan satunya memiliki andil dalam pendidikan. Salah satu tugas yang diemban oleh para pendidik adalah memahami akan berbagai faktor pendukung pendidikan tersebut. Diantara berbagai faktor tersebut adalah bagaimana para pendidik bisa memahami akan situasi dan kondisi, baik lingkungan maupun peserta didik itu sendiri. Peserta didik adalah manusia dengan segala fitrahnya. Mereka mempunyai kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi, kebutuhan akan rasa aman, mendapatkan pengakuan, dan mengaktualisasi dirinya. Dalam tahap perkembangannya, siswa SMP/SMA berada pada periode perkembangannya yang sangat pesat dari segala aspek. Perkembangan yang sangat erat kaitannya dengan pembelajaran, yaitu: perkembangan aspek kognitif, psikomotoris dan afektif.
Peserta didik sebagai obyek dari pendidikan sangat urgen untuk diperhatikan dari berbagai faktor. Faktor tersebut yang harus diperhatikan adalah tahap perkembangan dari peserta didik tersebut. Diantara perkembangan perserta didik tersebut adalah bagaimana dari individu dan karakteriststiknya.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang di atas adapun rumusan masalahnya sebagai berikut:
1.      Memahami Individu dan Karakteristiknya.
2.      Memahami Perbedaan Individu.



BAB II
PEMBAHASAN
Setiap insan manusia di dunia ini memiliki ciri-ciri khas yang pasti berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya. Untuk menjadi seorang pendidik yang profesional dan berkomitmen, maka seorang pendidik harus mengetahui karakter masing-masing peserta didiknya. Selain itu, pendidik juga perlu mengetahui perbedaan individu peserta didiknya.

A.    Individu dan Karakteristiknya
1.      Pengertian Individu
Dalam kamus Echols & Shadaly (1975), individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, perseorangan dan oknum. Setiap orang, apakah ia seorang anak atau seorang orang dewasa dan apakah ia berada di dalam suatu kelompok atau seorang diri, ia disebut Individu. Individu menunjukkan kedudukan seorang sebagai orang-perorang atau perseorangan. Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan orang-perorang, berkaitan dengan perseorangan.
Berdasarkan pengertian di atas dapat dibentuk suatu lingkungan untuk anak yang dapat merangsang perkembangan potensi-potensi yang dimilkinya dan akan membawa perubahan-perubahan apa saja yang diinginkan dalam kebiasaan dan sikap-sikapnya. Jadi anak dibantu oleh guru, orang tua dan orang dewasa lainnya untuk memanfaatkan kapasitas dan potensi yang dibawanya dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan.
 Sejak lahir, bahkan sejk masih di dalam kandungan ibunya, manusia merupakan kesatuan psikofisis atau psikosomatis yang terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan itu merupakan sifat kodrati manusia yang harus mendapat perhatian secara seksama. Mengingat pentingnya makna pertumbuhan dan perkembangan ini, maka persoalan yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan akan dijelaskan secara khusus di bagian lain. Untuk memberi gambaran singkat bahwa makna pertumbuhan di bedakan dari makna perkembangan, bahwa istilah pertumbuhan digunakan untuk mmenyatakan perubahan-perubahan kuantitatif mengenai fisik atau biologis dan istilah perkembangan digunakan untuk perubahan-perubahan kualitatif mengenai aspek psikis atau rokhani dan aspek sosial.
Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan. Pada awal kehidupannya bagi seorang bayi mementingkan kebutuhhan jasmaniinya, ia belum peduli dengan apa yang terjadi di luar dirinya. Ia sudah senang apabila kebutuhan fisiknya, seperti makan, minum, dan kehangatan tubuhnya terpenuhi. Dalam perkembangan lebih lanjut, ia mulai  mengenal lingkungan dan bahkan lingkungan yang lebih luas. Kebutuhannya kian bertambah dan suatu saat ia membutuhkan alat untuk berkomunikasi (bahasa), membutuhkan teman, keamanan, dan seterusnya semakin besar anak, maka kebutuhan non fisiknya semakin banyak. Oleh karena itu, setiap manusia akan berupaya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Dengan demikian telah terjadi perkembangan dalam hal kebutuhan-kebutuhan dan dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu kebutuhan utama  atau primer dan kebutuhan kedua atau sekunder. Dengan perkataan lain, pertumbuhan fisik senantiasa diikuti perkembangan aspek kejiwaan atau psikisnya.
Seterusnya, kita mengkaji pertumbuhan dan perkembangan manusia pada umumnya secara garis besar dengan mengenal berbagai karakteristiknya. Uraian lebih rinci tentang pertumbuhan dan perkembangan remaja, dan hal-hal lain yang berkaitan remaja akan disajikan pada bagian lain.

2.      Karakteristik Individu
Setiap individu memilki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menayngkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Pada masa lalu ada keyakinan bahwa pembawaan (heredity)dan lingkungan merupakan dua faktor terpisah, masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu dengan caranya sendiri-sendiri. Namun kemudian makin disadari bahwa apa yang dirasakan oleh seorang anak, remaja atau dewasa, merupakan hasil dari perpaduan anatara apa yang ada diantara faktor-faktor bbiologis yang diturunkan dan pengaruh-pengaruh lingkungan.
Seorang anak mungkin mulai pendidikan formalnya ditingkat Taman Kanak-kanak pada usia empat atau liima tahun. Pada awal ia memasuki sekolah mungkin tertunda sampai ia berusia lima tau enam tahun tanpa memperdulikan seberpa umur seorang anak. Karakteristik pribadi dan kebiasaan-kebiasaan yang dibwanya ke sekolah akhirnya terbentuk oleh pengaruh lingkungan dan hal itu tampaknya mempunyai pengaruh penting terhadap keberhasilannya di sekolah dan masa perkembangan hidupnya di kelak kemudian.
Natur dan nature merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan. Sejauh mana seornag dilahirkan menjadi seorang individu seperti “dia” atau sejauh mana seseorang individu dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan tetap mmerupakan subjek penelitian dan diskusi. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedang karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Sejauh mana seseorang dilahirkan menjadi seorang individu atau sejauh mana seseorang dipengaruhi subjek penelitian dan diskusi. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedangkan karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Mengenai karakteristik individu, ada 3 hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
a.       Karakteristik yang berkenaan dengan kemampuan awal (prerequisite skills), seperti kemampuan intelektual, berpikir, dan hal-hal yang berkaitan dengan aspek psikomotor.
b.      Karakteristik yang berhubungan dengan latar belakang dan status sosio - kultural.
c.       Karakteristik yang berkenaan dengan perbedaan kepribadian, seperti sikap, perasaan, minat, dan lainnya.
Pemahaman karakteristik ini sangat penting dalam proses belajar mengajar, sehingga bagi seorang guru informasi mengenai karakteristik individu sangat beguna dalam memilih dan menentukan pola-pola pengajaran yang lebih tepat, yang dapat menjamin kemudahan belajar bagi setiap peserta didik.
3.      18 Karakter yang Harus Dikembangkan Pada Peserta Didik
Siswa yang ada di lingkungan sekolah sehingga sikap dan perilaku pun banyak yang mengalami perubahan seperti  kenakalan remaja, pergaulan bebas, berandalan motor dan penggunaan obat-obatan terlarang. Dengan fenomena ini maka kita memerlukan Energi” yang saat ini sangat dibutuhkan yaitu pembentukan karakter sebagai dasar kepribadian, Karena apabila tidak memiliki karakter dan budaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bisa membawa kemunduran peradaban bangsa. Padahal, kehidupan masyarakat yang memiliki karakter dan budaya yang kuat akan semakin memperkuat eksistensi suatu negara. Sekolah sebagai lingkungan kedua setelah keluarga berperan penting untuk membangun sebuah karakter yang harus diwujudkan dalam perilaku serta kegiatan belajar di sekolah agar dapat terinternalisasi dalam setiap jiwa siswa, untuk menerapkan pendidikan karakter seluruh sekolah harus memiliki kesepakatan tentang nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan di sekolahnya. Unsur-unsur pengembangan karakter itu pun harus diintegrasikan di semua mata pelajaran.
Secara bahasa karakter dapat diterjemahkan sebagai : watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang  terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakininya dan digunakannya sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.(Puskur,Balitbang Kemendiknas, 2010).
Dengan demikian definisi di atas dapat diartikan secara teknis  : sebagai proses internalisasi serta penghayatan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang dilakukan peserta didik secara aktif dibawah bimbingan guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan serta diwujudkan dalam kehidupannya di kelas, sekolah, dan masyarakat.
Tujuan pendidikan karakter adalah :
  1. Mengembangkan potensi afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.
  2. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal, dan tradisi budaya bangsa INDONESIA yang religius.
  3. Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan.
  4. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).
 Adapun 18 karakter yang harus dimiliki oleh siswa sebagai berikut.
  1. Religius : sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
  2. Jujur : Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
  3. Toleransi : Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
  4. Disiplin : Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan
  5. Kerja Keras : Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
  6. Kreatif : Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
  7. Mandiri : Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas
  8. Demokratis : Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain
  9. Rasa Ingin Tahu: Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
  10. Semangat Kebangsaan: Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya
  11. Cinta Tanah Air : Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
  12. Menghargai Prestasi: Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
  13. Bersahabat/Komunikatif: Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
  14. Cinta Damai : Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
  15. Gemar Membaca: Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
  16. Peduli Lingkungan: Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi
  17. Peduli Sosial : Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
  18. Tanggung-jawab : Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

B.     Perbedaan Individu
Dalam aspek perkembangan individu, dikenal ada dua fakta yang menonjol, yaitu (i) semua diri manusia mempuyai unsur-unsur kesamaan didalam pola perkembangannya dan (ii) di dalam pola yang bersifat umum dari apa yang membentuk warisan manusia-secara biologis dan sosial tiap-tiap individu mempunyai kecenderungana berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut secara keseluruhan lebih banyak bersifat kuantitatif dan bukan kualitatif. Sejauh mana individu berbeda akan mewujudkan kualitas perbedaan mereka atau kombinasi-kombinasi dari berbagai unsur perbedaan tersebut.
Ciri dan sifat orang yang satu berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini disebut perbedaan individu atau perbedaan individual. Makna “perbedaan” dalam “perbedaan individual”  menurut Lindgreen (1980) menyangkut variasi yang terjadi, baik variasi pada aspek fisik maupun psikologis. Seorang ibu yang memiliki seorang bayi, bertutur bahwa bayinya banyak menangis, bergerak, dan kuat minum. Ibu lain yang juga memiliki seorang bayi, menceritakan bahwa bayinya  pendiam, banyak tidur, tetapi kuat minum. Cerita kedua ibu itu telah menunjukkan bhawa kedua bayi itu memiliki ciri dan sifat yang berbeda satu sama lainnya.
Seorang guru setiap tahun ajaran baru selalu menghadapi siswa yang berbeda satu sama lain. Siswa yang berada di dalam sebuah kelas, tidak terdapt seorangpun yang sama. Kemungkinan ada dua orrang kelihatannya jika diamati benar-benar antara keduanya tentu terdapat perbedaan. Perbedaan yang segera dapat dikenal oleh guru tentang siswanya adalah perbedaan fisiknya : seperti tinggi badan, bentuk badan, warna kulit, bentuk muka, dan semacamnya. Dari fisik, seorang guru cepat mengenal sisiwa di kelasnya satu persatu. Ciri lain yang segera dapat dikenal adalah tingkah laku masing-masing siswa, begitu pula suara mereka. Ada siswa yang lincah, banyak bergerak, pendiiam, dan sebagainya. Ada siswa yang nada suaranya kecil atau tinggi dan ada yang besar atau rendah, ada yang jika berbicara cepat dan dan ada pula yang pelan-pelan. Apabila ditelusuri secara cermat siswa yang satu dengan yang lain memiliki sifat-sifat psikis yang berbeda-beda.

Bidang-bidang Perbedaan
Garey (Oxendine, 1984) mengkategorikan perbedaan individual kedalam bidang-bidang berikut:
a.       Perbedaan fisik: usia, tinggi dan berat badan, jenis kelamin, pendengaran, penglihatan, kemampuan bertindak
b.      Perbedaan social termasuk status social ekonomi, agama hubungan keluarga dan suku
c.       Perbedaan kepribadian: watak, motif, minat dan sikap
d.      Perbedaan intelegensi dan kemampuan dasar
e.       Perbedaan kecakapan atau kepandaian disekolah.

Perbedaan fisik bukan hanya terbatas pada cirri yang dapat di amati dengan panca indera kita, seperti tinggi badan, warna kulit, jenis kelamin, nada suara dan bau keringat, akan tetapi juga cirri lain yang dapat diketahui setelah diperoleh informasi atau di adakan pengukuran.  Usia, berat badan, kecepatan berlari, golongan darah, pendengaran, pengliahatan dan semacamnya  merupakan cirri-ciri yang tidak dapat diamati denga pengindraan.
Secara kodrati manusia memiliki potensi dasar yang secara esensial membedakan manusia dengan hewan, yaitu pikiran, perassan dan kehendak. Sekalipun demikian potensi dasar yang dimilikinya itu tidaklah sama bagi masing-masing manusia. Oleh karena itu sikap, minat, kemampuan berfikir, watak, perilakunya, serta hasil belajar manusia berbeda-beda.
Perbedaan-perbedaan tersebut berpengaruh terhadap perilaku mereka dirumah maupun disekolah. Gejala yang diamati adalah bahwa mereka menjadi lebih mampu dalam bidang seni atau bidang ekspresi lain, seperti olahraga dan keterampilan, sebagian lagi dapat lebih mampu dalam bidang kognitif atau yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
a.       Perbedaan kognitif
Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Setiap orang memiliki persepsi tentang hasil pengamatan atau penyerapan atas suatu obyek. Berarti ia menguasai segala sesuatu yang diketahui, dalam arti pada dirinya terbentuk suatu persepsi, dan pengetahuan itu diorganisasikan secara sistematik untuk menjadi miliknya. Setiap saat, bila diperlukan pengetahuan yang dimilikinya itu dapat direproduksi. Banyak atau sedikit, tepat atau kurang tepat pengetahuan itu dapat dimiliki dan dapat diproduksi kembali merupakan tingkat kemampuan kognitif seseorang.
Kemampuan kognitif menggambarkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tiap-tiap orang. Pada dasarnya kemampuan kognitif merupakan hasil belajar. Sebagaimana diketahui bahwa hasil belajar merupakan perpaduan antara factor pembawaan dengan factor lingkungan (factor dasar dan factor ajar). Factor dasar yang berpengaruh menonjol pada kemampuan kognitif ini adalah bakat dan kecerdasan (intelegensi).  Intelegensi sangat berpengauruh pada kemampuan kognitif seseorang. Dikatakan bahwa kecerdasan dan nilai kemampuan kognitif berkorelasi tinggi dan positif, semakin tinggi nilai kecerdasan seseorang semakin tinggi kemampuan kognitifnya.

b.      Perbedaan kecakapan bahasa
Bahasa merupakan salah satu kemampuan individu yang sangat penting dalam kehidupnnya. Kemampuan tiap individu dalam berbahasa berbeda-beda. Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan seseorang unntuk menyatakan buah pikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang penuh makna, logis dan sistematis. Kemampuan berbahasa tersenut sangat dipengaruhi oleh factor kecerdasan dan lingkungan. Factor-faktor lain yang juga penting antara lain adalah fisik, terutama organ bicara.
Banyak penelitian eksperimental telah dilakukan dengan tujuan untuk menemukan faktor – faktor  psikologis yang mendasari keberhasilan atau kegagalan dalam penguasaan bahasa. Individu – individu yang memasuki kegiatan – kegiatan di sekolah formal, pada dasarnya telah membawa kebiasaan – kebiasaan sebagai hasil belajar, baik dari lingkungan pendidikan prasekolah maupun dari latar belakang kehidupan sebelumnya.

c.       Perbedaan kecakapan motorik
Kecakapan motorik merupakan kemampuan untuk melakukan koordinasi gerakan syaraf motorik yang dilakukan oleh syaraf pusat untuk melakukan kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut terjadi karena kerja syaraf yang sistematis. Alat indera menerima rangsanga, rangsangan tersebut diteruskan melalui syaraf sensoris ke syaraf pusat (otak) untuk diolah, dan hasilnya dibawa oleh syaraf motorik uuntuk memberikan reaksi dalam bentuk gerakan-gerakan atau kegiatan. Dengan demikian ketetapan kerja syaraf akan menghasilkan suatu bentuk kegiatan tepat, dalam arti kesesuaian antara rangsangan dan responnya. Kerja ini akan menggambarkan tingkat kecakapan syaraf motorik.

STIMULUS
Alat
        indera
PUSAT SYARAF:
·         Sensoris
·         Motoris
RESPON
Penerima perintah
                           
                                        
                                                                                               
                                                                                                        








Gambar : Proses kerja jaringan syaraf dalam jalinan stimulus dan respon

Gambar tersebut menunjukkan bahwa syaraf pusat (otak), yang melaksanakan fungsi sentral dalam proses berfikir, merupakan factor penting dalam koordinasi kecakapan motorik. Ketidaktepatan dalam pembentukan persepsi dan meneruskan perintah, akan terjadi kekeliruan respon atau kegiatan yang kurang sesuai dengan tujuan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa intelegensi merupakan factor dalam bentuk yang lebih tinggi dari keterampilan motorik. Secara umum koordinasi motorik dan kecakapan untuk melakukan sesuatu kegiatan yang keompleks membutuhkan keterampilan motorik yang lebih kompleks pula.
Kemampuan motorik dipengaruhi oleh kematangan pertumbuhan fisik dan tingkat kemampuan berpikir. Karena kematangan pertumbuhan fisik dan kemampuan berpikir setiap orang berbeda-beda, maka hal itu membawa akibat terhadap kecakapan motorik masing-masing, dan dengan demikian kecakapan motorik setiap individu akan berbeda-beda pula.

d.      Perbedaan latar belakang
Dalam suatu kelompok siswa pada tingkat manapun, perbedaan latar belakang dan pengalaman mereka masing-masing dapat memperlancar atau menghambat prestasinya, terlepas dari potensi individu untuk menguasai bahan. Pengalaman-pengalaman belajar yang dimiliki anak dirumah mempengaruhi kemauan untuk berpartisipasi dalam situasi belajar yang disajikan.
Minat dan sikap individu terhadap sekolah dan mata pelajaran tertentu,kebiasaan-kebiasaan kerjasama, kecakapan atau kemampuan untuk berkonsentrasi pada bahan-bahan pelajaran, dan kebiasaan-kebiasaan belajar semuanya merupakan factor-faktor perbedaan diantara para siswa. Factor-faktor tersebut kadang berkembang akibat sikap-sikap anggota keluarga dirumah dan lingkungan sekitar. Latar belakang ekonomi maupun sosio cultural adalah berbeda-beda. Demikian pula lingkungan sekitarnya, lingkungan social dan lingkungan fisik akan memberikan pengaruh yang berbeda-beda.

e.       Perbedaan bakat
Bakat merupakan kemampuan khusus yang dibawa sejak lahir. Kemampuan tersebut akan berkembang dengan baik apabila mendapatkan rangsangan dan pemupukan secara tepat. Sebaliknya bakat tidak akan berkembang sama sekali, manakala lingkungan tidak memberi kesempatan untuk berkembang, dalam arti tidak  ada rangsangan dan pemupukan yang menyentuhnya. Dalam hal inilah maka pendidikan menjadi penting artinya.
Perkembangan bakat dimiliki siswa secara individual. Meskipun inteligensi umum merupakan faktor dari hampir semua atau bahkan semua bidang penampilan atau performasi, namun hasil tes inteligensi yang selama ini dilaksanakan beum terkait dengan beberapa bidang belajar seperti keterampilan motorik, musik, seni, dan olah raga. Hasil tes inteligensi lebih banyak berhubungan dengan keberhasilan atau kemampuan bidang akademik.

f.       Perbedaan dalam Kesiapan Belajar
Perbedaan latar belakang keluarga dan lingkungan, yang meliputi perbedaan sosio-ekonomi dan sosiokultural, amat penting artinya bagi perkembangan anak. Akibatnya, anak – anak pada umur yang sama tidak selalu berada pada tingkat kesiapan yang sama dalam menerima pengaruh dari luar yang lebih luas, dalam hal ini pelajaran di sekolah.
Kondisi fisik yang sehat, dalam kaitannya dengan kesehatan dan penyesuaian diri ang memuaskan terhadap pengalaman – pengalaman, disertai dengan rasa ingin tahu yang amat besar terhadap orang – orang dan benda – benda, membantu berkembangnya kebiasaan berbahasa dan belajar yang diharapkan. Sikap apatis, pemalu, dan kurang percaya diri, akibat dari kesehatan yang kurang baik, cacat tubuh, dan latar belakang yang miskin pengalaman, mempengaruhi perkembangan pemahaman dan ekspresi diri.
















BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Setiap individu memiliki karakter yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Dapat di lihat dari segi perbedaan fisik, sosial, kepribadian, intelegensi, dan kemampuan dasar seseorang. Serta perbedaan kecakapan seseorang atau kepandaian yang semuanya itu sangat barpengaruh terhadap prilaku individu. Dengan demikian tingkat perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya berbeda - beda, sesuai dengan kepribadian masing-masing.
.Intelegensi bukanlah suatu yang bersifat kebendaan, melainkan keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif. Emosi merupakan gejala perasaan disertai dengan perubahan atau perilaku fisik. Seperti marah, senang, sedih, ceria dan sebagainya.
Dalam perkembangannya setiap orang akhirnya mengetahui bahwa manusia itu saling membantu dan di bantu, memberi dan di beri. Secara potensial manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial. Namun, untuk mewujudkan potensi tersebut ia harus berada dalam interaksi dengan lingkungan manusia-manusia lain.
Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa merupakan faktor hakiki yang membedakan manusia dengan hewan. Bahasa merupakan anugerah dari Tuhan, yang dengannya manusia dapat mengenal atau memahami dirinya, sesama manusia, alam, dan penciptanya serta mampu memposisikan dirinya sebagai makhluk berbudaya dan mengembangkan budayanya.
Bakat merupakan kemampuan tertentu yang di miliki oleh seseorang individu yang hanya dengan rangsangan atau sedikit latihan kemampuan itu dapat berkembang.

B.     Saran
Dalam penyusunan laporan ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik, pendapat dan saran yang bersifat dan dapat membangun sangat diharapkan, agar laporan ini menjadi jauh lebih baik dan dapat memberikan manfaat serta dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi pembaca.


DAFTAR PUSTAKA

Daruma, A.Razak,dkk. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Makassar: FIP – UNM.
Syafi, Muhammad. 2009.Melihat Tingkah Anak: Suatu Pendekatan dalam Pendidikan.Semarang: PT. Makmur Jaya.
Agung, Sunarto Hartono.2008.Perkembangan Peserta Didik.Jakarta: PT. Rineka Cipta.


Entri Populer

himpunan mahasisswa IPS terpadu UNM 2012-2013

himpunan mahasisswa IPS terpadu UNM 2012-2013