Kamis, 11 April 2013

PERUMUSAN TUJUAN INSTRUKSIONAL



PERUMUSAN TUJUAN  INSTRUKSIONAL
A.    Sistem Instruksional
1.      Pengertian Sistem
Definisi tentang sistem selalu berkembang sesuai dengan konteks dimana pengertian sistem itu digunakan. Misalnya kumpulan dari bagian-bagian yang bekerjasama untuk mencapai tujuan yang sama seperti sistem tata surya, sistem pencernaa, dll. Ada juga yang mengatakan bahwa sistem terdiri dari unsur-unsur seperti input, processing, serta output.
Sistem merupakan kumpulan dari elemen yang mempunyai keterkaitan satu dengan yang lainnya.Kata sistem sendiri berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi.Beberapa para ahli menyatakan pengertian sistem sebagai berikut:
a.       Salisbury
A system is a group of components working together as a functional unit. Sistem adalah sekelompok bagian-bagian atau komponen yang bekerja sama sebagai suatu kesatuan fungsi
b.      Pilecki
Sistem adalah sekumpulan objek dan menghubungkan objek itu dengan atributnya atu dengan kata  lain, sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri dari sejumlah bagian-bagian, atribut dari bagian dan hubungan antara bagian dengan atribut
c.       Robert Allen & Mark Victor Hansen
Sistem adalah prosedur yang terorganisir dan mapan yang membuahkan hasil
d.      Djekky R. Djoht
e.       Sistem adalah agregasi atau pengelompokan objek-objek yang dipersatukan oleh beberapa bentuk interaksi yang tetap atau saling tergantung, sekelompok unit yang berbeda, yang dikombinasikan sedemikian rupa oleh alam atau oleh seni sehingga membentuk suatu keseluruhan yang integral dan berfungsi, beroperasi, atau bergerak dalam satu kesatuan
f.       Umar Fahmi Achmadi
Sistem adalah tatanan yang menggambarkan adanya rangkaian berbagai komponen yang memiliki hubungan serta tujuan bersama secara serasi, terkoordinasi yang bekerja atau berjalan dalam jangka waktu tertentu dan terencana
g.      Zulkifli A. M
Sistem adalah himpunan sesuatu "benda" nyata atau abstrak (a set of thing) yang terdiri dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang saling berkaitan, berhubungan, berketergantungan, dan saling mendukung, yang secara keseluruhan bersatu dalam satu kesatuan (unity) untuk mencapai tujuan tertentu secara efisien dan efektif
h.      Webster's Unabridged
Sistem adalah elemen-elemen yang saling berhubungan membentuk satu kesatuan atau organisasi
i.        Raymond Mcleod
Sistem adalah himpunan dari unsur-unsur yang saling berkaitan sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh dan terpadu
j.        Gordon B. Davis
Sebuah sistem terdiri dari bagian-bagian yang saling berkaitan yang beroperasi bersama untuk mencapai beberapa sasaran atau maksud
k.      Koentjaraningrat
Sistem adalah susunan yang berfungsi dan bergerak; suatu cabang ilmu niscaya mempunyai objeknya, dan objek yang menjadi sasaran itu umumnya dibatasi. Sehubungan dengan itu, maka setiap ilmu lazimnya mulai dengan merumuskan suatu batasan (definisi) perihal apa yang hendak dijadikan objek studinya.
l.        Ludwig Von Bartalanfy
Sistem merupakan seperangkat unsur yang saling terikat dalam suatu antar relasi diantara unsur-unsur tersebut dengan lingkungan.
m.    Anatol Raporot
Sistem adalah suatu kumpulan kesatuan dan perangkat hubungan satu sama lain.
n.      L. Ackof
Sistem adalah setiap kesatuan secara konseptual atau fisik yang
terdiri dari bagian-bagian dalam keadaan saling tergantung satu
sama lainnya.

2.      Pengertian dan Langkah-Langkah Pendekatan Sistem
Dalam cakupan pengertian sistem termuat adanya berbagai komponen (unsur), berbagai kegiatan (menunjuk fungsi dari setiap komponen), adanya saling hubungan serta ketergantungan antar komponen, adanya keterpaduan (kesatuan organis = integrasi) antar komponen, adanya keluasan sistem (ada kawasan di dalam sistem dan di luar sistem), dan gerak dinamis semua fungsi dari semua kompo­nen tersebut mengarah (berorientasi = berkiblat) ke pencapaian tuju­an sistem yang telah ditetapkan lebih dahulu.
Pengertian dan ciri-ciri sistem atau pendekatan sistem dapat dihubungkan dengan analisis kondisi fisis (misalnya: sistem tata surya, rakitan mesin), dapat dihubungkan dengan analisis biotis (misalnya: jaring-jaring ekologis, koordinasi tubuh manusia), dan dapat dihubungkan dengan analisis gejala sosial (misalnya: kehidupan ekonomis, gejala pendidikan, pola nilai hidup). Analisis sistem sosial relatif lebih rumit dibanding analisis sistem fisis dan sistem biotis; sistem sosial pada umumnya dan khususnya sistem pendidikan bersifat terbuka, yaitu suatu sistem yang mudah dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di luar sistemnya (rentan terhadap pengaruh luar), misalnya: sistem sekolah mudah dipengaruhi oleh situasi masya­rakatnya (supra sistemnya). Karakter sistem pendidikan yang bersifat terbuka ini menuntut konsekuensi penyelenggaraan pendidikan sekolah yang kritis (dalam mawas diri) dan kreatif (dalam mencari alternatif pengembangan yang positif) secara berkesinambungan.
Secara lebih rinci, ciri-ciri yang terkandung dalam sistem atau pendekatan sistem, adalah:
a.       Adanya tujuan
Setiap rakitan sistem pasti bertujuan, tujuan sistem telah ditentu­kan lebih dahulu, dan itu menjadi tolok ukur pemilihan kompo­nen serta kegiatan dalam proses kerja sistem. Komponen, fungsi komponen, dan tahap kerja yang ada dalam suatu sistem meng­arah ke pencapaian tujuan sistem. Tujuan sistem adalah pusat orientasi dalam suatu sistem.
b.      Adanya komponen sistem (selain tujuan):
Jika suatu sistem itu adalah sebuah mesin, maka setiap bagian (onderdil) adalah komponen dari mesin (sistemnya); demikian pula halnya dengan pengajaran di sekolah sebagai sistem, maka semua unsur yang tercakup di dalamnya (baik manusia maupun non manusia) dan kegiatan-kegiatan lain yang terj adi di dalamnya adalah merupakan komponen sistem. Jadi setiap sistem pasti memiliki komponen-komponen sistem.
c.       Adanya fungsi yang menjamin dinamika (gerak) dan kesatuan kerja sistem:
Tubuh kita merupakan suatu sistem, setiap organ (bagian) dalam tubuh tersebut mengemban fungsi tertentu, yang keseluruhan­nya (semua fungsi komponen sistem) dikoordinasikan secara kompak, agar diri kita dan kehidupan kita sebagai manusia ber­jalan secara sehat dan semestinya.
Penyelenggaraan pengajaran di sekolah merupakan suatu sis­tem, maka setiap komponen yang mempunyai fungsi tertentu itu mesti menyumbang secara sepantasnya dalam rangka mencapai tujuan dan semua fungsi tersebut perlu dikoordinasikan secara terpadu agar proses pengajaran berlangsung secara efektif dan cfisien.
Misalnya: fungsi komponen yang berstatus guru adalah pem­bimbing belajar siswa (pendorong motivasi belajar siswa, peng­arah, pengatur (organisator) situasi belajar siswa, sebagai nara sumber (fasilitator), bertindak sebagai penyebar kebijakan, penilai hasil belajar siswa, dsb.); jika guru cakap menjalankan fungsinya maka akan sangat membantu kelancaran serta keberhasilan belajar siswa, dan sebaliknya.
d.      Adanya interaksi antar komponen:
Antar komponen dalam suatu sistem terdapat saling hubungan, saling mempengaruhi, dan saling ketergantungan. Misalnya: keguruan seseorang barulah menjadi nyata jika ada siswa yang bersedia untuk dididiknya; siswa yang responsif, kri­tis, dan koordinatif banyak membantu guru dalam mengem­bangkan kariernya.
e.       Adanya transformasi dan sekaligus umpan balik:
Fungsi dari setiap komponen merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan fungsi sistem. Dalam sistem pengajaran yang berinti pada interaksi personal, peran dari komponen-komponen (selain guru dan siswa) adalah untuk meningkatkan nilai inter­aksi personal tersebut demi keberhasilan belajar siswa. Transfor­masi yang terjadi dalam interaksi guru-siswa secara lebih teknis merupakan transaksi pesan-pesan (pemahaman -> penginte­grasian -> pengembangan diri).

3.      Pengertian Sistem Instruksional
Sistem instruksional menunjukkan pengertian pengajaran sebagai suatu system, yaitu suatu kesatuan yang terorganisasi yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lain dalam rangka mencapai yang diinginkan. Komponen tersebut antara lain, materi pelajaran, metode, alat dan evaluasi yang semuanya ini berinteraksi satu sama lain.
Untuk pengembangan suatu sistem pengajaran atau system instruksional maka semua komponan tersebut harus diorganisasi dengan baik sebagaimana pengajaran harus kita lihat sebagai keseluruhan atau sebagai suatu sistem. Hal ini disebabkan bagaimana pun baiknya tujuan pengajaran yang dapat kita rumuskan, bila tidak disertai materi pelajaran yang sesuai metode dan alat yang tepat maka tujuan tersebut akan sulit dicapai.

B.     Tujuan - Tujuan  Instruksional
1.      Pengertian Tujuan Instruksional
Tujuan Instruksional Khusus (TIK) merupakan terjemahan dari specific instructional objective. Literatur asing menyebutkannya pula sebagai objective, atau enabling objective, untuk membedakannya dengan general instructional objective, goal, atau terminal objective. Yang berarti tujuan instruksional umum (TIU) atau tujuan instruksional akhir. 
Dalam program applied approach (AA) yang telah digunakan di perguruan tinggi seluruh Indonesia TIK disebut sasaran belajar (sasbel) (Suparman, 2004: 158). Sasbel menurut Soekartawi, Suhardjono dkk (1995: 41) adalah pernyataan tujuan instruksional yang sudah sangat rinci. sasaran belajar harus dituliskan dari segi kemampuan peserta didik. Artinya mengungkapkan perubahan apa yang diharapkan terjadi pada diri mahasiswa setelah mengikuti pengajaran pada satu pokok bahasan tertentu.
Dick dan Carey (1985) (dalam Suparman, 2004: 158) telah mengulas bagaimana Robert Mager mempengaruhi dunia pendidikan khususnya di Amerika untuk merumuskan TIK dengan sebuah kalimat yang jelas dan pasti serta dapat diukur. Perumusan tersebut berarti TIK diungkapkan secara tertulis dan diinformasikan kepada siswa atau mahasiswa dan pengajar mempunyai pengertian yang sama tentang apa yang tercantum dalam TIK.
Perumusan TIK harus dilakukan secara pasti artinya pengertian yang tercantum di dalamnya hanya mengandung satu pengertian dan tidak dapat ditafsirkan kepada bentuk lain. Untuk itu TIK harus dirumuskan ke dalam kata kerja yang dapat dilihat oleh mata.(Suparman, 2004: 159). Menurut Soedjarwo (1995: 81) Penulisan sasaran belajar sedikitnya menyatakan tentang: a). Isi materi dan bahasan b). Tingkat penampilan yang diharapkan c). Prasyarat pengungkapan hasil kerja. Tentunya secara ideal diharapkan peserta didik mendapatkan perubahan secara menyeluruh, baik dalam pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), maupun keterampilan (motorik).
Tujuan instruksional dapat menjadi arah proses pengembangan instruksional karena di dalamnya tercantum rumusan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan dicapai mahasiswa pada akhir proses instruksional. Keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan tersebut merupakan ukuran keberhasilan sistem instruksional yang digunakan oleh pengajar.
Berdasarkan apa yang telah dikemukakan diatas maka dapat disimpulkan bahwa Tujuan Instruksional Khusus merupakan suatu rumusan yang menjelaskan apa yang ingin dicapai, atau menjelaskan perubahan yang terjadi sebagai akibat dari apa yang dipelajari oleh siswa.

2.      Jenjang Tujuan Instruksional
Tujuan pendidikan terdapat dalam UU No2 Tahun 1985 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya yaitu yang beriman dan dan bertagwa kepada tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan kerampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan berbangsa.
Tujuan Pendidikan nasional menurut TAP MPR NO II/MPR/1993 yaitu Meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja profesional serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan memepertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawaan sosial, serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan.
TAP MPR No 4/MPR/1975, tujuan pendidikan adalah membangun di bidang pendidikan didasarkan atas falsafah negara pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangun yang berpancasila dan untuk membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat mengembangkan kreatifitas dan tanggung jawab dapat menyuburkan sikap demokratis dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945.
Didalam praktek pendidikan khususnya pada sistem persekolahan, di dalam rentangan antara tujuan umum dan tujuan yang sangat khusus terdapat sejumlah tujuan antara. Tujuan antara berfungsi untuk menjembatani pencapaian tujuan umum dari sejumlah tujuan rincian khusus. Umumnya ada 4 jenjang tujuan di dalamnya terdapat tujuan antara , yaitu tujuan umum, tujuan instruksional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional.
a.      Tujuan umum pendidikan nasional ‘TPN’ Indonesia adalah Pancasila.
TPN adalah tujuan yang bersuifat paling umum dan merupakan sasaran akhir yang harus dijadikan pedoman leh setiap usaha pendidikan, artinya setiap lembaga dan penyelenggara pendidikan harus dapat membentuk manusia yang sesuai dengan rumusan itu, baik pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan formal, informal, maupun nonformal. Tujuan pendidikan umum biasanya dirumuskan dalam bentuk prilaku yang ideal sesuai dengan pandagan hidup dan filsafat suatu bangsa yang dirumuskan oleh pemerintah dalam bentuk undang-undang. TPN merupakan sumber dan pedoman dalam usaha penyelengggaraan pendidikan.
Secara jelas tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari sistem nilai Pancasila dirumuskan dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 pasal 3 “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bengsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”
b.      Tujuan institusional yaitu tujuan yang menjadi tugas dari lembaga pendidikan tertentu untuk mencapainya.
Tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan. Dengan kata lain, tujuan ini dapat didefinisikan sebagai kualifikasi yang harus dimiliki oleh setiap siswa setelah mereka menempuh atau dapat menyelesaikan program di suatu lembaga pendidikan tertentu. Tujuan institusional merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan umum yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan, seperti standar kompetensi pendidikan dasar, menengah kejuruan, dan jenjang pendidikan tinggi.
Dalam Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bab V pasal 26 dijelaskan standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah umum bertujuan meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri, dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah kejuruan bertujuan meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri, dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan tinggi bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang berahlak mulia, memiliki pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan sikap untuk menemukan, mengembangkan, serta menerapkan ilmu, teknologi, dan seni yang bermanfaat bagi kemanusiaan.
c.       Tujuan kurikuler, yaitu tujuan bidang studi atau tujuan mata pelajaran.
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran. Oleh sebab itu, tujuan kurikuler dapat didefinisikan sebagai kualifikasi yang harus dimiliki anak didik setelah mereka menyelesaikan suatu bidang studi tertentu dalam suatu lembaga pendidikan. Tujuan kurikuler pada dasarnya merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan. Dengan demikian, setiap tujuan kurikuler harus dapat mendukung dan diarahkan untuk mencapai tujuan institusional.
Pada Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 6 dinyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan , dan khusus pada jenjang pendidikan dan menengah terdiri atas:
1)      Kelompok mata pelajaran agama dan ahlak mulia
2)      Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian.
3)      Kelompok mata pelajaran Ilmu pengetahuan dan teknologi.
4)      Kelompok mata pelajaran estetika.
5)      Kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.
d.      Tujuan instruksional, tujuan pokok bahasan dan sub pokok bahasan disebut tujuan instruksional, yaitu penguasaan materi pokok bahasan/sub pokok bahasan.
Dalam klasifikasi tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional merupakan tujuan yang paling khusus dan merupakan bagian dari tujuan kurikuler. Tujuan pembelajran dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan. Karena hanya guru yang memahami kondisi lapangan, termasuk memahami karakteristik siswa yang akan melakukan pembelajaran di suatu sekolah, maka menjabarkan tujuan pembelajaran ini adalah tugas guru.
Sebelum guru melakukan proses belajar mengajar, guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran yang harus dikuasai oleh anak didik setelah mereka selesai mengikuti pelajaran.
3.      Cakupan Tujuan Instruksional
Menurut Bloom dalam bukunya “Taxonomy of Educational Objectives” mengolongkan tujuan pendidikan/instruksional, dalam tiga ranah, yakni: ranah kognitif, ranah afektif dan psikomotorik
a.       Kognitif (proses berfikir )
Kognitif adalah kemampuan intelektual siswa dalam berpikir, menegtahui dan memecahkan masalah.Menurut Bloom (1956) tujuan domain kognitif terdiri atas enam bagian :
1)      Pengetahuan (knowledge)
Mengacu kepada kemampuan mengenal materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sukar. Yang penting adalah kemampuan mengingat keterangan dengan benar.
2)      Pemahaman (comprehension)
Mengacu kepada kemampuan memahami makna materi. Aspek ini satu tingkat di atas pengetahuan dan merupakan tingkat berfikir yang rendah.
3)      Penerapan (application)
Mengacu kepada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan dan prinsip. Penerapan merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi daripada pemahaman.
4)      Analisis (analysis)
Mengacu kepada kemampun menguraikan materi ke dalam komponen-komponen atau faktor-faktor penyebabnya dan mampu memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan yang lainnya sehingga struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti. Analisis merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi daripada aspek pemahaman maupun penerapan.
5)      Sintesa (evaluation)
Mengacu kepada kemampuan memadukan konsep atau komponen-komponen sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru. Aspek ini memerluakn tingkah laku yang kreatif. Sintesis merupakan kemampuan tingkat berfikir yang lebih tinggi daripada kemampuan sebelumnya.
6)      Evaluasi (evaluation)
Mengacu kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu. Evaluasi merupakan tingkat kemampuan berfikir yang tinggi.
Urutan-urutan seperti yang dikemukakan di atas, seperti ini sebenarnya masih mempunyai bagian-bagian lebih spesifik lagi. Di mana di antara bagian tersebut akan lebih memahami akan ranah-ranah psikologi sampai di mana kemampuan pengajaran mencapai Introduktion Instruksional. Seperti evaluasi terdiri dari dua kategori yaitu “Penilaian dengan menggunakan kriteria internal” dan “Penilaian dengan menggunakan kriteria eksternal”. Keterangan yang sederhana dari aspek kognitif seperti dari urutan-urutan di atas, bahwa sistematika tersebut adalah berurutan yakni satu bagian harus lebih dikuasai baru melangkah pada bagian lain.
Aspek kognitif lebih didominasi oleh alur-alur teoritis dan abstrak. Pengetahuan akan menjadi standar umum untuk melihat kemampuan kognitif seseorang dalam proses pengajaran.

b.      Afektif (nilai atau sikap)
Afektif atau intelektual adalah mengenai sikap, minat, emosi, nilai hidup dan operasiasi siswa. Menurut Krathwol (1964) klasifikasi tujuan domain afektif terbagi lima kategori :
1)      Penerimaan (recerving)
Mengacu kepada kemampuan memperhatikan dan memberikan respon terhadap sitimulasi yang tepat. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain afektif.
2)      Pemberian respon atau partisipasi (responding)
Satu tingkat di atas penerimaan. Dalam hal ini siswa menjadi terlibat secara afektif, menjadi peserta dan tertarik.
3)      Penilaian atau penentuan sikap (valung)
Mengacu kepada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak atau tidak menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi “sikap dan opresiasi”.


4)      Organisasi (organization)
Mengacu kepada penyatuan nilai, sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat menimbulkan konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem nilai internal, mencakup tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup.
5)      Karakterisasi / pembentukan pola hidup (characterization by a value or value complex)
Mengacu kepada karakter dan daya hidup sesorang. Nilai-nilai sangat berkembang nilai teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah diperkirakan. Tujuan dalam kategori ini ada hubungannya dengan keteraturan pribadi, sosial dan emosi jiwa.

Variable-variabel di atas juga telah memberikan kejelasan bagi proses pemahaman taksonomi afektif ini, berlangsungnya proses afektif adalah akibat perjalanan kognitif terlebih dahulu seperti pernah diungkapkan bahwa:“Semua sikap bersumber pada organisasi kognitif pada informasi dan pengatahuan yang kita miliki. Sikap selalu diarahkan pada objek, kelompok atau orang hubungan kita dengan mereka pasti di dasarkan pada informasi yanag kita peroleh tentang sifat-sifat mereka.”
Bidang afektif dalam psikologi akan memberi peran tersendiri untuk dapat menyimpan menginternalisasikan sebuah nilai yang diperoleh lewat kognitif dan kemampuan organisasi afektif itu sendiri. Jadi eksistensi afektif dalam dunia psikologi pengajaran adalah sangat urgen untuk dijadikan pola pengajaran yang lebih baik tentunya.
                           


c.       Psikomotorik (keterampilan)
Psikomotorik adalah kemampuan yang menyangkut kegiatan otot dan fisik. Menurut Davc (1970) klasifikasi tujuan domain psikomotor terbagi lima kategori yaitu :
1)      Peniruan
terjadi ketika siswa mengamati suatu gerakan. Mulai memberi respons serupa dengan yang diamati. Mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot saraf. Peniruan ini pada umumnya dalam bentuk global dan tidak sempurna.
2)      Manipulasi
Menekankan perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada tingkat ini siswa menampilkan sesuatu menurut petunjuk-petunjuk tidak hanya meniru tingkah laku saja.
3)      Ketetapan
memerlukan kecermatan, proporsi dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan. Respon-respon lebih terkoreksi dan kesalahan-kesalahan dibatasi sampai pada tingkat minimum.
4)      Artikulasi
Menekankan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepat dan mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal di natara gerakan-gerakan yang berbeda.
5)      Pengalamiahan
Menurut tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik maupun psikis. Gerakannya dilakukan secara rutin. Pengalamiahan merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam domain psikomotorik.
Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa domain psikomotorik dalam taksonomi instruksional pengajaran adalah lebih mengorientasikan pada proses tingkah laku atau pelaksanaan, di mana sebagai fungsinya adalah untuk meneruskan nilai yang terdapat lewat kognitif dan diinternalisasikan lewat afektif sehingga mengorganisasi dan diaplikasikan dalam bentuk nyata oleh domain psikomotorik ini.
Dalam konteks evaluasi hasil belajar, maka ketiga domain atau ranah itulah yang harus dijadikan sasaran dalam setiap kegiatan evaluasi hasil belajar. Sasaran kegiatan evaluasi hasil belajar adalah:
a.       Apakah peserta didik sudah dapat memahami semua bahan atau materi pelajaran yang telah diberikan pada mereka?
b.      Apakah peserta didik sudah dapat menghayatinya?
c.       Apakah materi pelajaran yang telah diberikan itu sudah dapat diamalkan secara kongkret dalam praktek atau dalam kehidupannya sehari-hari?
Ketiga ranah tersebut menjadi obyek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.

C.     Perumusan Tujuan Instruksional Khusus
1.      Hakikat dan Ragam TIK
Pada uraian sebelumnya sudah diutarakan bahwa tujuan instruksional itu ialah segala hal yang harus dimiliki dan dapat ditampilkan siswa setelah pembelajaran. Dengan kata lain Tujuan Instruksional Khusus adalah hasil yang diinginkan guru untuk dimiliki oleh siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Diharapkan terjadinya perubahan dan penyempurnaan diri siswa setelah melakoni proses pembelajaran sebagaimana dirumuskan dalam tujuan instruksional khusus.
Melalui Tujuan Instruksional Khusus ini diharapkan bahwa:
a.       Diri siswa:
1)      Memperoleh sesuatu.
2)      Merubah sesuatu yang ada dalam dirinya.
3)      Menyempurnakan sesuatu.
4)      Membina sesuatu.
5)      Menampilkan sesuatu.
b.      Kelak kemudian hari melalui diri siswa yang bertindak sebagai inovator, dapat pula terjadi perubahan/perbaikan lingkungannya. Dengan kata lain arah sasaran TIK ini adalah:
1)      Menciptakan hal yang baru
2)      Merubah apa yang sudah dimiliki oleh siswa/kehidupan/keadaan.
3)      Membina dan menyempurnakan apa yang sudah ada.
4)      Meningktakan sesuatu.
5)      Menangkal hal yang tidak diinginkan.
Objeknya adalah siswa itu sendiri, lingkungannya, masyarakat bangsa dan negaranya. Dengan dimensi pengetahuannya, sikap, nilai, dan emosionalnya, serta keterampilannya dengan target waktu: hari ini (kepentingan sekarang) dan besok (masa mendatang)
Mengenai jenis ragam, TIK dapat dibedakan atas:
a.       Dari segi waktu pencapaiannya
Menurut Norman E Grundlond (1976) TIK dapat dibedakan atas:
1)      Tujuan yang wajib dikuasai oleh TIK yang sifatnya mendasar, esensial dan penting yang harus dikuasai oleh siswa. Contoh: Huruf alfabetik untuk pelajaran membaca
Bilangan untuk menghitung
Sila pancasila untuk PMP/PPKN
Letak tuts-tuts bagi pengetik dll
2)      Tujuan-tujuan yang tercapai melalui suatu fase perkembangan ialah TIK yang tidak bisa sekaligus sempurna yang dicapai oleh siswa melainkan melalui tahap perkembangan. Contoh : menjadi pengarang harus melalui berbagai penguasaan, kecakapan/kemahiran mengetik dengan memerlukan pelatihan/pengulangan, kemampuan hidup bermasyarakat akan selalu berkembang dan makin sempurna.
Jadi, TIK jenis ini ada awal tetapi tidak ada akhrinya akan terus berkembang melalui pengalaman dan kehidupannya.
3)      Tujuan yang sangat ideal ialah sesuatu yang sangat sulit dicapai dalam satu kali pukul atau dengan seketika
Contoh: Insan Pancasila sejati, taqwa, sholeh, berbudaya dll.
4)      Tujuan yang dapat dicapai segera misalnya dapat membuat bagan, dapat mengemukan pendapat tentang X, dll.
b.      Melihat sifat hasil yang dicapai siswa
1)      TIK yang hanya mencakup satu masalah/bidang/disiplin saja antara lain dapat mengemukakan teori ekonomi, dapat mengemukakan nama pejabat pemerintah, dll.
2)      Kebalikan dari hal diatas ialah multi bidang. Contoh : dapat mengemukakan dampak dari banjir dalam berbagai kehidupan, dapat mengemukakan sebab urbanisasi secara menyeluruh, dll.
3)      TIK yang merupakan sasaran pokok yang direncanakan, ialah segala TIK yang memang sudah ditargetkan dan dirumuskan
4)      TIK yang tersembunyi yang dicapai siswa karena proses pembelajaran atau sebagai hasil sampingan pencapaian TIK pokok/utama. Contoh: TIK utama terampil membuat bagan X, maka disini secara implisit dicapai hasil sampingan pemahaman atas konsep X itu sendiri.
5)      Jenis TIK lain yang setaraf dengan hal diatas (TIK yang tersebunyi) yakni khususnya aspek keterampilan:
a)      Keterampilan social/hubungan social
b)      Keterampilan akademik yang akan menjadi keterampilan belajar sepanjang hayat.
Sehubungan dengan hakikat dan jenis ragam TIK yang telah diuraikan, maka dalam memilih dan menentukan TIK yang perlu diperhatikan adalah:
a.       Kemungkinan memasukkan berbagai jenis TIK dalam suatu pembahasan.
b.      Tuntutan kehidupan di hari esok bagi anak dan masyarakat.
c.       Fungsionalisasi pelajaran dengan lingkungan dan kehidupan.
d.      Dimensi domain/kawasan pendidikan yang lengkap (kognitif,afektif, psikomotorik) dan berkadar taksonomi tinggi.
e.       Memungkinkannya lahir proses belajar yang ideal dan manusiawi.
f.       Mampu melahirkan hasil-hasil yang lebih tinggi/banyak.
g.      Mampu membawakan arus pembahuruan: sekolah-peran siswa-guru.
Pengembangan tujuan/ TIK secara meluas ini seirama serta akan menunjang kemudahan pengembangan-perluasan program/materi pelaran kelak disaat dilakukan desain program. Bahkan dalam teori perumusan TIK, yang tepat dan benar (dilihat dari aspek taksonomi dan materi yang harus dibawakan) adalah perumusan yang mampu merakitkan/menggandengkan kata kunci operasional TIK dengan materi pelajaran. Hal ini akan diuraikan tersendiri pada uraian selanjutnya.
2.      Persyaratan dan Langkah Kegiatan Perumusan TIK
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa, Tujuan Instruksional Khusus merupakan penjabaran dari Tujuan Instruksional Umum. Dalam perumusan Tujuan Instruksional Khusus harus memperhatikan rambu- rambu sebagai berikut.
a.       Rumusan Tujuan Instruksional Khusus harus merupakan hasil belajar, bukan proses belajar. Misalnya setelah mengikuti proses diskusi guru mengharapkan siswa mampu mengidentifikasi ciri- ciri demokrasi. Rumusan Tujuan Instruksional Khusus yang benar adalah “siswa mampu mengidentifikasi ciri- ciri demokrasi”. Bukan siswa mampu mendiskusikan ciri- ciri demokrasi bukan merupakan rumusan tujuan tetapi proses pembelajaran.
b.      Perangkat Tujuan Instruksional Khusus dalam satu rencana pembelajaran haruslah komprehensif, artinya kemampuan dituntut dalam setiap Tujuan Instrusional Khusus hendaknya dari jenjang yang berbeda. Misalnya, jika dalam satu rencana pembelajaran ada tiga Tujuan Instruksional Khusus, kemampuan yang dituntut Tujuan Instruksional Khusus 1, adalah dapat menjelaskan, Tujuan Instruksional 2: dapat memberi contoh dan Tujuan Instruksional Khusus 3: dapat menggunakan.
c.       Kemampuan yang dituntut dalam rumusan Tujuan Instruksional Khusus harus sesuai dengan kemampuan siswa.
d.      Banyaknya Tujuan Instruksional Khusus yang dirumuskan harus sesuai dengan waktu yang tersedia untuk mencapainya.
Dengan mempertimbangkan hal- hal tersebut diharapkan akan dihasilkan rumusan Tujuan Instruksional Khusus yang dapat menjembatani pencapaian Tujuan Instruksional Khusus. Untuk dapat membuat rumusan Tujuan Instruksional Khusus yang benar, berikut ini disajikan komponen- komponen yang harus ada dalam suatu rumusan.


Langkah Merumuskan TIK (tujuan intruksional khusus) yaitu terdiri dari :
a.       Membuat sejumlah TIU (tujuan instruksinal umum) untuk setiap mata pelajaran bidang studi yang akan diajarkan.
b.      Dari masing-masing TIU dijabarkan menjadi sejumlah TIK yang rumusannya jelas, khusus, dapat diamati, terukur, dan menunjukkan perubahan tingkah laku.
Dalam merumuskan TIK dapat dilakukan dengan menggunakan dua format yaitu format Mager dan ABCD format.
? Format Merger
Merger merekomendasikan syarat–syarat untuk menentukan tujuan perilaku yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran.
a.       Mengidentifikasi tingkah laku terakhir yang ingin dicapai oleh pembelajar
b.      Menentukan dalam kondisi bagaimana tingkah laku tersebut dapat dicapai
c.       Membuat kriteria spesifik bagaimana tingkah laku tersebut dapat diterima
Uraian di atas menunjukan bahwa Merger mengemukakan tujuan tersebut dirumuskan dengan menentukan bagaimana pembelajar harus melakukannya, bagaimana kondisinya, serta bagaimana mereka akan melakukannya. Dalam penjabaran TIK ini Merger melibatkan tiga aspek yaitu begaimana kondisi pencapaian tujuan, kriteria yang ingin dicapai, serta bagaimana tingkah laku pencapaiannya.
Merger mendiskripsikan audiense hanya sebagai murid atau pembelajar, dengan menggunakan sebuah format ”kamu akan bisa untuk”. Para desain pembelajaran yang menggunakan format Marger ini biasanya menggunakan ”SWABAT” yang berarti ”the student will be able to”.
? Format ABCD
Menurut Knirk dan Gustafson (1986), Ada empat komponen yang harus ada dalam rumusan tujuan, yaitu Format ABCD digunakan oleh Institusi Pengembangan Pembelajaran, pada prinsipnya format ini sama dengan yang dikemukakan oleh Marger, namun pada bagian ini menambahkan dengan mengidentifikasi audiense, atau subjek pembelajar. Unsur– unsur tersebut dikenal dengan ABCD yang berasal dari empat kata sebagai berikut :
A = Audience
B = Behaviour
C = Condition
D = Degree
a.       Audience
Audience merupakan siswa atau mahasiswa yang akan belajar, dalam hal ini pada TIK perlu dijelaskan siapa mahasiswa atau siswa yang akan belajar. Keterangan tentang siswa yang akan belajar tersebut harus dijelaskan secara spesifik mungkin, agar seseorang yang berada di luar populasi yang ingin mengikuti pelajaran tersebut dapat menempatkan diri seperti siswa atau mahasiswa yang menjadi sasaran dalam sistim instruksional tersebut.
b.      Behavior
Behavior merupakan prilaku yang spesifik yang akan dimunculkan oleh mahasiswa atau siswa tersebut setelah selesai mengikuti proses belajar tersebut . Perilaku ini terdiri dari dua bahgian penting yaitu kata kerja dan objek. Kata kerja ini menunjukkan bagaimana siswa mendemonstrasikan sesuatu seperti menyebutkan, menjelaskan, menganalisis dan lainnya. Sedangkan objek menunjukkan apa yang didemonstrasikan.
c.       Condition
Condition berarti batasan yang dikenakan kepada mahasiswa atau alat yang digunakan mahasiswa ketika ia tes.Kondisi ini dapat memberikan gambaran kepada pengembang tes tentang kondisi atau keadaan bagaimana siswa atau mahasiswa diharapkan dapat mendemonstrasikan perilaku saat ini di tes,misalnya dengan menggunakan rumus tertentu atau kriteria tertentu.
d.      Degree
Degree merupakan tingkat keberhasilan mahasiswa dalam mencapai perilaku tersebut, adakalanya mahasiswa diharapkan dapat melakukan sesuatu dengan sempurna tampa salah dalam waktu dua jam dan lainnya. Sejumlah rumusan ABCD dalam penerapannya terkadang tidak disusun secara ber urutan namun dapat dibalik-balikkan . Dalam praktek sehari-hari perumusan TIK terkadang hana mencantumkan dua komponen saja , yaitu A dan B sehingga ketika diukur tidak memiliki kepastian dalsam menyusun tes.


3.      Perbendaharaan Kata-Kata Operasional dalam Perumusan Tujuan Instruksional
Jenjang istilah yang digunakan yaitu:
a.       Bidang kognitif dengan jenjang:
1)      Pengetahuan
2)      Pemahaman,pengertian
3)      Pemakaian, penggunaan
4)      Analisis
5)      Sintesis
6)      Evaluasi


Istilah yang digunakan untuk tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus yaitu:
JENJANG PENGETAHUAN
Istilah untuk TIU
Istilah untuk TIK
1.      Tahu istilah-istilah umum
2.      Tahu hal terperinci
3.      Tahu metode dan prosedur
4.      Tahu konsep-konsep dasar
5.      Tahu prinsip-prinsip
Mendefinisikan, memberikan, mengidentifikasi, memberi nama, mencocokkan, menyusun daftar, menamakan, membuat garis besar, menyatakan kembali, memilih, mencatat, meniru. menghafal

JENJANG PEMAHAMAN DAN PENGERTIAN
Istilah untuk TIU
Istilah untuk TIK
1.      Memahami fakta dan prinsip
2.      Menginterprestasi bagan dan grafik
3.      Menginterprestasi secara lisan
4.      Mengubah bahan tulisan kata-kata menjadi rumusan matematika
5.      Memperkirakan akibat-akibat yang akan datang yang tercantum dalam data.
6.      Membenarkan metode dan prosedur
Mengubah, mempertahankan, membedakan, membandingkan, memperkirakan, mendeskripsikan, menguraikan, mengkategorikan, menarik simpulan, meramalkan, melukis kembali, membuat rangkuman









JENJANG PEMAKAIAN & PENGGUNAAN
Istilah untuk TIU
Istilah untuk TIK
1.      Mengunakan konsep dan prinsip terhadap situasi baru
2.      Menerapkan hokum dan teori pada situasi praktis
3.      Memecahkan persoalan matematik
4.      Mengkonstruksikan bagan dan grafik
5.      Menunjukkan penggunaan secara benar metode dan prosedur
Mengubah, menghitung, mendemostarisikan, menyesuiakan, merombak, menjalankan, menghubungkan, menggunakan, menyusun, memproses



JENJANG ANALISIS
Istilah untuk TIU
Istilah untuk TIK
1.      Mengenali anggapan yang tidak dinyatakan.
2.      Mengenali kesalahan logika dalam member alas an
3.      Membedakan antara fakta dan kseimpulan
4.      Mengevaluasi hubungan antara data
5.      Menganalisis struktur organisasi suatu karya
Menganalisis, memecahkan, menyeleksi, membuat diagram, memisahkan, membuat garis besar, menunjukkan, memilih, mendiagnosis, menemukan, mengakases







JENJANG SINTESIS
Istilah untuk TIU
Istilah untuk TIK
1.Menulis suatu tema yang tersusun baik
2.Memberi ceramah yang antersusun baik
3.Menulis suatu naskah pendek yang kraetif
4.Mengajukan rencana untuk suatu eksprimen
5.Merumuskan suatu bagan untuk menggolongkan objek, kejadian atau piker
Mengkategorikan, menggabungkan, menghimpun, menyusun kembali, membangkitkan, menceriterakan, menyimpulkan, menyiapkan, merangkum, menampilkan, merekonstruksi


JENJANG EVALUASI
Istilah untuk TIU
Istilah untuk TIK
1.Menimbang konsistensi yang logis dari bahan tertulis
2.Menimbang seberapa jauh suatu kesimpulan ditunjang oleh data
3.Menimbang nilai suatu karya dengan menggunakan criteria internal
4.Menimbang nilai suatu karya dengan menggunakan standar kebenaran eksternal
Menilai, meperbandingkan, mengkritik, menafsirkan, memutuskan, menghubungkan, menyimpulkan, menyokong, mengakses, memproyksikan

b.      Bidang sikap serta nilai (afektif) dengan jenjang
1)      Kemauan menerima
2)      Kemauan menanggapi
3)      Penilaian
4)      Pengorganisasian
5)      Karakterisasi
Istilah yang digunakan untuk tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus yaitu:
JENJANG KEMAUAN MENERIMA
Istilah untuk TIU
Istilah untuk TIK
1.      Mengdengarkan dengan perhatian
2.      Meningkatkan kesadaran akan pentingnya belajar
3.      Menunjukkan sensitifitas akan keperluan manusia dan persoalan-persoalan masyarakat.
4.      Menerima berbagai kebiasaan
5.      Menerima dengan baik segala aktivitas kelas
Memilih, mempertanyakan, mengikuti, memberi, menganut, mematuhi, menggunakan, menjawab, merasakan, meminati


JENJANG KEMAUAN MENANGGAPI
Istilah untuk TIU
Istilah untuk TIK
1.Melengkapkan PR yang ditentukan
2.Mentaati aturan sekolah
3.Ikut serta dalam diskusi sekolah
4.Sukarela melaksankan tugas khusus
5.Menyukai menolong orang lain
Menjawab, membantu, mengajukan, mengompromikan, menyenangi, menyambut, mendukung, menyetujui, menampilkan, melaporkan, memilih, mengatakan, menolak

JENJANG PENILAIAN
Istilah untuk TIU
Istilah untuk TIK
1.Mendemostrasikan kepercayaan dalam proses demokratis
2.Menghargai literature yang baik
3.Menghargai dari peranan ilmu pengetahuan dalam kehidupan
4.Mendemostrasikan sikap pemecahan masalah
5.Partisipasi dalam pekerjaan sosial
  1. mengasumsikan
  2. meyakini
  3. melengkapi
  4. meyakinkan
  5. memperjelas
  6. memprakarsai
  7. mengimani
  8. mengundang
  9. menggabungkan
  10. memperjelas
  11. mengusulkan
  12. menekankan
  13. menyumbang


JENJANG PENGORGANISASIAN
Istilah untuk TIU
Istilah untuk TIK
1.mengenal kebutuhan untuk keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab dalam demokratis
2.mengenal peranan dari perencanaan yang sistematis dalam memecahkan maslah
3.menerima tanggung jawab untuk tingkah lakunya sendiri
4.mengerti dan menerima kekuatan dan keterbatasan dirinya sendiri
  1. mencari sangkut paut
  2. mengubah
  3. menata
  4. mengklasifikasikan
  5. menkombinasikan
  6. mempertahankan
  7. membangun
  8. mengelola
  9. menegoisasikan
  10. merembuk


JENJANG KARAKTERISASI
Istilah untuk TIU
Istilah untuk TIK
1.      menunjukkan kesadaran
2.      mengadakan kerja sama dalam kelompok
3.      menggunakan pendekatan yang objektif dalam memecahkan masalah
4.      menunjukkan kerajinan ketepatan waktu dan disiplin diri
1. mempengaruhi
2. mendengarkan
3. mengkualifikasikan
4. melayani
5. menunjukkan
6. membuktikan
7. memecahkan




c.       Bidang Psikomotor
JENJANG PERSEPSI
Istilah untuk TIU
Istilah untuk TIK
1)      Stimulasi sensoris mengdengar isyarat
2)      Melihat bentuk & angka
3)      Menyentuh bentuk sesuatu
4)      Merasakan: pahit, manis
5)      Membau dan memegang sesuatu
Melihat, mendengar, menyentuh, mengecap, memegang


JENJANG KESIAPAN
Istilah untuk TIU
Istilah untuk TIK

1.      Kesiapan mental: memilih& membuat sintesa
2.      Kesiapan fisik
3.      Kesiapan emosional: merespon sikap yang tepat



Memilih, memisahkan, menunjukkan, mengambil, menimbang, mengerjakan

JENJANG RESPONS TERPIMPIN
Istilah untuk TIU
Istilah untuk TIK

1.      Imitasi: mepertunjukkan sesuatu
2.      Mengikuti: petunjuk sampai dengan yan belun dikenal
3.      Mengadakan eksprimentasi

Menirukan, meragakan, mengerakkan, menggunakan, menyimpulkan

JENJANG MEKANISME
Istilah untuk TIU
Istilah untuk TIK
1.      Memilih: bahan, alat
2.      Merencanakan: aktifitas & waktu
3.      Melakukan tugas dengan baik, bertanggung jawab dan cepat memperkirakan hasil.
Memilih, menentukan, memasang, melakukan, mengubah, membentuk

JENJANG RESPON YANG KOMPLEKS
Istilah untuk TIU
Istilah untuk TIK
1.      Adopsi:terhadap sumber perencanaan dan prosedur yang tepat
2.      Penggunaan skill dan memilih profesi
3.      Melaporkan menjelaskan
Menyesuiakan, merencanakan, menggunakan, melakukan, melaporkan. Mendeskripsikan


D.    Pelatihan (Tugas-Workshop)
Pada uraian bab III Perumusan Tujuan Instruksional secara teoritis telah dipelajari dengan berurutan mengenai jenjang tujuan pendidikan, hakikat dan jenis ragam TIK, persyaratan dan langkah-langkah kegiatan perumusan TIK, perbendaharaan kata-kata operasional dalam penyusunan tujuan instruksional. Maka berikut ini dapat disajikan format latihan pemantapan perumusan TIK yaitu:
1.      Menganalisis GBPP atau Standar Kompetensi kurikulum sekolah yang akan dikembangkan selama satu semester.
2.      Menyusun satuan program penyajian materi pokok sesuai dengan urutan yang benar untuk waktu satu satuan semester
3.      Memerinci bobot taksonominya per TIU/KD untuk waktu satu semester
4.      Merumuskan TIK sesuai dengan bobot taksonominya yang sudah diperinci




















Entri Populer

himpunan mahasisswa IPS terpadu UNM 2012-2013

himpunan mahasisswa IPS terpadu UNM 2012-2013